Ajak Anak-Anak Kampung Sawunggaling Bermain Ular Tangga Lingkungan Saat Ramadhan

Bulan ramadhan menjadi momen untuk menjalin suasana kekeluargaan bagi warga kampung Sawunggaling. Hadirnya kampung dolanan yang merupakan ide para remaja yang ingin memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak setiap satu minggu sekali nyatanya mampu menarik minat banyak anak-anak kecil untuk mau bergabung. Kunjungan Mobil edukasi lingkungan hidup kali pertama ke kampung menghasilkan respon luar biasa dari warga.

Kali kedua, dalam suasana ramadhan Tunas Hijau kembali mengunjungi kampung yang berlokasi di Jalan Joyoboyo Belakang untuk semakin mempererat kekeluargaan.  Dengan berbekal ular tangga bertema lingkungan hidup, Anggryan Permana, aktivis Tunas Hijau mengajak anak-anak kecil yang seusai menunaikan sholat terawih untuk bermain permainan yang termasuk dalam kategori boardgame. Ular tangga bertema Sampah berukuran 1 x 1 meter ini ramai dikerumuni warga.

Sholeh, salah seorang penggerak kampung dolanan mengatakan bahwa tujun diadakannya kampung dolanan adalah untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap permainan online pada gaway atau gadget. “Waktu zaman saya dulu, kalau anak-anak bermain selalu bermain di luar rumah, permainan yang aktivitas geraknya tinggi hingga tak berkeringat, beragam permainan tradisional dimainkan. Tetapi sekarang anak-anak lebih senang permainan online dari gadget,” ucapnya.

Isu permasalahan lainnya yang melatar belakagi gerakan kampung dolanan ini adalah kurangnya perhatian orang tua untuk memperkenalkan permainan tradisionalyang dulunya pernah dimainkan. Ditambah tidak adanya batasan waktu bagi anak-anak untuk dapat menggunakan gadget atau handponenya. “Makanya, setiap satu minggu sekali kami mengajak anak-anak keluar rumah antara jam 7 – 9 malam agar bermain permainan tradisional,” ucap Sholeh.

Dampaknya, para orang tua menjadi lebih protektif terhadap anaknya dalam penggunaan gadget di dalam rumah. Merekapun mempercayai program yang dibuat karang taruna untuk menjauhkan anak-anak dari ketergantungan teknologi. Sama halnya dengan permainan ular tangga bertemakan sampah, merekapun tampak antusias memainkan permainan ini dengan aturan pemenang permainan akan mendapatkan hadiah berupa stiker lingkungan dan pin dari Tunas Hijau.

“Setiap informasi lingkungan yang ada pada setiap kotak permainan ular tangga ini harus dibaca sekeras-kerasnya. Dengan membaca informasi itu, kalian sama saja belajar mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah dengan cara menyenangkan,” pungkas Anggriyan. Satu kali putaran permainan ular tangga lingkungan ini langsug mendapat respon dari anak-anak yang sudah mencoba permainan ular tangga lingkungan.

Anggun Putri, salah seorang anak mengatakan bahwa senang sekali bisa memainkan permainan yang sudah lama tidak dimainkannya. “Perbedaannya ya saat dimainkan, kami harus membaca informasi yang ada di dalam kotaknya. Inilah yang membuat kami senang, karena kami juga mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Apalagi setelah main dapat hadiah stiker dan pin kak,” ujar Anggun. Pasca permainan, dirinya dan teman-temannya berganti bermain permainan tradisional yang lainnya.

Pasca bermain permainan tradisional untuk anak-anak, rencananya bagi ibu-ibu PKK ingin sekali bisa melakukan kegiatan tanam menanam untuk mengisi kebutuhan pangan sehari-hari seperti cabai ataupun tomat dan terong. Suryanto, wakil RT 08 RW 06 ini berharap bahwa kedepan Tunas Hijau akan mengajak mereka berkegiatan tanam menanam sayuran di depan rumah dengan ketentuan perjanjian harus dirawat dengan sungguh-sungguh hingga panen. (ryn)

Keterangan Foto : Anak-anak kampung Sawunggaling bermain permainan ular tangga lingkungan bertemakan sampah saat kunjungan Tunas Hijau ke Kampungnya pada hari pertama puasa lalu, Kamis (17/05)

5 tanggapan untuk “Ajak Anak-Anak Kampung Sawunggaling Bermain Ular Tangga Lingkungan Saat Ramadhan

  • Mei 19, 2018 pada 08:23
    Permalink

    Permainan ular tangga ini termasuk salah satu permainan nusantara zaman dulu dan harganya sangat murah waktu iti, hampir seluruh masyarakat indonesia tahu buktinya waktu saya masih kecil usia 7 tahun yang lalu sekitar tahun 1975 sudah mengenal permainan ini bahkan untuk mendapakannyapun sangat mudah dengan seharga 1000 rupiah, bahkan dulu saya mendapatkannya lewat kolas putar cukup bayar 500 rupah di sekolah maklum waktu mainan ini sangat trend. Hampir setiap usia anak2 SD di kampung bermain ular tangga, awalnya sih aku belum tahu cara bermainnya lama2 menjadi tebiasa dan mudah memainkannya. Menurut saya petmainan ini sangat mendidik dituntut untuk bisa baca dan berhitung selain itu ada nilai lain dalam permainan ini yaitu adanya sikap disiplin mau bergantian, menghormati teman yang kalah bermain, saling menghargai dan melatih kesabaran dan yang lebih penting permainan ini lebih menghibur mendidik dan mengajar kita bersosialisaso sesuai tingkatan serta perkembangan usia anak (mas imam subroto)

    Balas
  • Mei 19, 2018 pada 08:32
    Permalink

    Sebuah wahana edukatif yang murah meriah dan berwawaaan lingkungan. Sederhana tapi mengena. Permainan tradisonal yang dekat dengan anak-anak

    Balas
  • Mei 20, 2018 pada 14:28
    Permalink

    Permainan tradisional memang lebih mengakrabkan, belajar bersosialisasi, saling menghargai, menghormati, mengendalikan ego, dll. Untuk pembentukkan karakter. Dibandingkan permainan game, gadget, yang memang belum saatnya mereka gunakan.

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 07:37
    Permalink

    sukses untuk kunjungan mobil edukasi selanjutnya, semoga kunjungan selanjutnya memiliki lebih banyak permainan ya!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *