Dewan Juri Adiwiyata Jatim Apresiasi Gerakan Lingkungan SMPN 19

Dengan mengenakan setelan khas baju Arek Suroboyo, Shohibur Rachman, kepala SMPN 19 Surabaya membacakan visi misi sekolah dihadapan dewan juri Verifikasi lapangan Adiwiyata Jawa Timur, dewan guru, mitra kerja sekolah dan payuyuban walimurid. Bukan tanpa alasan, agenda verifikasi lapangan bertepatan dengan hari Jadi Kota Surabaya yang ke 725 ini juga dihadiri oleh perwakilan beberapa SKPD terkait yang berkorelasi mendukung sekolah. Diantaranya dari Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan hidup, Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau.

Mantan kepala SMPN 37 ini menyampaikan pasca pemaparan visi misi sekolah yang berbudaya dan peduli lingkungan bahwa untuk dapat mewujudkan visi misinya, sarana lingkungan harus dipenuhi dan dilengkapi terlebih dahulu. “Saat ini, semua sarana lingkungan kami sudah memilikinya, mulai dari IPAL, Lubang resapan biopori, tempat sampah terpilah, pengolahan sampah organik dijadikan kompos, kantin bebeas plastik dan 5P serta hutan sekolah,” ucap Rachman, sapaan akrabnya di hadapan juri.

Verifikasi lapangan dibagi menjadi dua bagian yakni bagian dokumen 1 dan 2 yang berisi tentang visi misi sekolah dan kebijakan, serta kurikulum RPP yang harus terintegrasi, sedangkan bagian lainnya adalah berkaitan dengan kegiatan lingkungan di dalam ataupun di luar. “Pembagiannya, bapak ibu guru mata pelajaran akan diberi pertanyaan oleh Asri Wijiastuti yang merupakan salah seorang juri dari UNESA, sementara untuk dokumen 3 dan 4 sangat bergantung pada mitra kerja sekolah dan kondisi lapangan,” ucap Zakkiyatu Amiroh, salah seorang tim juri dari LSM Yayasan Sanggar Indonesia Hijau.

Shohibur Rachman, kepala SMPN 19 Surabaya memaparkan visi dan misi sekolah di hadapan dewan juri dalam rangka penilaian sekaligus verifikasi lapangan Adiwiyata Provinsi Jawa Timur

Asri, yang juga merupakan lulusan S2 UNESA jurusan Pendidikan Luar Biasa mengapresiasi paparan kepala sekolah tentang ragam kegiatan lingkungan yang pernah dilakukan. Menurutnya, program Adiwiyata merupakan penerapan dari indikator kurikulum yang sudah disusun oleh sekolah. “Karena sebenarnya, sekolah tidak perlu ditunjuk atau dipaksa untuk mengikuti program Adiwiyata, setiap poin-poin yang ada pada indikator kurikulum. Sementara, apa yang sudah dilakukan sekolah ini ,” ujar Asri, sapaan akrab tim juri dari bidang akademisi.

Sementara itu, Zakkiya menerapkan sesi wawancara tentang seberapa jauh keterlibatan mitra kerja sekolah terhadap setiap kegiatan lingkungan yang dilaksanakan oleh tim lingkungan sekolah. Mitra kerja seperti DKRTH, DLH, Dinas PU, puskesmas Klampis, warga kampung Deles. “Saya hanya ingin menggali data tentang bantuan yang diberikan mitra kerja kepada sekolah, entah berbentuk dukungan dengan memberikan teladan, pembekalan tentang pembiasaan ramah lingkungan yang harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Zakkiya menjadi tantangan tersendiri.

Pasca verifikasi lapangan, Zakkiyah meminta kader lingkungan untuk diajak keliling melihat realisasi setiap sarana lingkungan yang dimiliki.  Dewan juri asal Pasuruan ini mengapresiasi kader lingkungan atas semangat dan loyalitasnya untuk memberikan informasi kepada dewan juri terkait dengan masing-masing kelompok kerja. “Kalian tahu tidak bagaimana caranya pengomposan, lalu kalian kan juga punya bakom, nah tahu tidak fungsinya untuk apa?” ujar Zakkiya. Pertanyaan yang juga merupakan sebuah pujian atas kerja keras mereka hingga membuahkan hasil panen kompos. (ryn)

Keterangan Foto : Zakkiyatul Amiroh, salah satu dewan juri Verifikasi lapangan Adiwiyata Provinsi Jawa Timur menanyakan tata cara komposter dan proses pembuatan BAKOM (Bakteri Kompos) yang difungsikan untuk mempercepat proses pengomposan  kepada kader lingkungan SMPN 19 Surabaya

Satu tanggapan untuk “Dewan Juri Adiwiyata Jatim Apresiasi Gerakan Lingkungan SMPN 19

  • Juni 1, 2018 pada 18:46
    Permalink

    Adiwiyata adalah suatu kegiatan lingkungan yang mengaplikasikan antara kurikulum yang ada dan berkaitan dengan lingkungan, terutama SEKAM : (Sampah, Energi, Kehayati, Air dan Mineral ) dalam proses pembelajaran. Inilah kegiatan yang secara formal diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan mempunyai tahapan tertentu mulai dari kota, propinsi sampai nasional. Kegiatan Adiwiyata ini bukan hanya kegiatan aksi saja tetapi juga administrasi, inilah yang menyebabkan kegiatan Adiwiyata hanya di ikuti oleh sekolah-sekolah yang betul-betul siap dalam managemennya. butuh kekompokan antar pemangku pendidikan dan semua kegiatan di dokumentasikan dengan cermat, dan penilaiannya juga rumit bagi yang belum pernah karena ada 33 instrumen dan ditambah dengan kajian lingkungan.

    Kalau SMPN sudah masuk ke tingkat propinsi berarti capian yang istimewa dan sudah siap segalanya. Semoga lolos dan sukses menjadi Sekolah Adiwiyata tingkat Propinsi tingkat SMP

    Salam Bumi Lestari

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *