Hanifa, Kepala SMPN 41 Surabaya Berprestasi Jatim

Dikenal sebagai sosok yang humble atau mudah membaur oleh guru-guru dan siswa, membuat kepala sekolah kelahiran 5 Juni 1969 ini langsung membuat berbagai macam kebijakan yang pro lingkungan. Salah satu kebijakan terbesarnya adalah mengenai aturan pengurangan bungkus plastik di kantin dan larangan membawa bungkus plastik dari luar ke dalam sekolah.

Ialah Hanifa, kepala SMPN 41 Surabaya, yang sejak empat tahun lalu memimpin sekolah yang berada di Jalan Gembong Sekolahan Nomor 5. Perubahan karakter warga sekolah pun secara perlahan tampak. Awalnya, warga sekolah dulunya masih konsumtif terhadap plastik kemasan. Kini warga sekolahnya terbiasa membawa wadah makan dan minum sendiri.

Tak puas dengan pencapaian program Zero Waste atau bebas kemasan plastik sekali pakai, mantan guru SMPN 11 Surabaya ini memfokuskan diri pada pengolahan sampah organik untuk dijadikan kompos. Dengan mengandalkan beberapa sarana pengomposan, mulai dari kotak pengoomposan, keranjang komposter hingga kompos cair dipersiapkan dengan melibatkan warga sekolah.

Disampaikan oleh Hanifa, selain mengawal dan melakukan mengontrol kebijakan program Zero Waste, tim ecopreneur yang kerap disebut sebagai The Ant Eco 41, sedang menggalakkan pembuatan kompos mulai dari kompos padat dan cair. “Mereka sampai mengajak teman-temannya yang lain untuk membawa sampah organik dari rumah sebagai bahan baku komposnya,” ujarnya.

Tidak hanya sampah organik, sesekali secara bergantian warga kelas diminta untuk membawa air cucian beras atau air leri untuk membantu mempercepat proses pengomposan. Saking loyalnya, di hari libur pun, tim ecopreneur bersama tim kompos menyempatkan ke sekolah untuk mengelola sarana pengomposannya. Targetnya, mereka bisa melakukan panen kompos massal.

Hanifa, berdiri ketiga dari kiri, seusai SMPN 41 Surabaya adopsi lahan mangrove

“Momen membanggakan saya adalah saat anak-anak bisa mempraktekkan keterampilannya kepada masyarakat. Seperti saat sosialisasi pembuatan kompos, makanan sehat, dan karya daur ulang,” ujar Hanifa. Artinya, mereka menguasainya keterampilan tersebut dan berguna bagi dirinya dan orang lain.

Kepala sekolah lulusan S2 Universitas PGRI Adi Buana ini juga memberikan contoh pada  aksi massal membawa minyak jelantah. Dirinya menyadari bahwa respon warga sekolahnya untuk menyikapi isu-isu lingkungan terkini sudah membaik. Selama 4 tahun menjadi leader, beberapa kebijakan lingkungan menjadi momen tidak terlupakan.

Seperti saat mengajak kantin sekolah menerapkan zero waste. “Kami mengajak satpam dan penjaga sekolah untuk mengawasi kebijakan larangan membawa plastik dari luar ke sekolah, kader lingkungan mengamalkan pengalamannya di lingkungan kepada masyarakat sekitar,” terang Hanifa. Perubahan karakter warga sekolah menjadi tujuan terbesar pencapaiannya sebagai kepala sekolah.

“Tantangan budaya lingkungan bagi sekolah adalah menjaga konsistensi program lingkungan berjalan dengan baik. Utamanya saat pergantian tahun pelajaran,” tutur Hanifa. Maklum, mereka harus mulai awal lagi dengan mengenalkan program lingkungan pada siswa-siswa baru.

Program lingkungan ditata ulang kembali, dikemas semenarik mungkin untuk disosialisasikan pada siswa dan orang tua saat LOS (Layanan Orientasi Siswa). Melakukan rekrutmen kader lingkungan  sebagai langkah regenerasi kader dan melanjutkan program lingkungan sekolah. (ryan/ro)

4 tanggapan untuk “Hanifa, Kepala SMPN 41 Surabaya Berprestasi Jatim

  • Mei 15, 2018 pada 15:39
    Permalink

    Kepala sekolah yang patut dijadikan contoh dan teladan, baik bagi sesama kepala sekolah maupun bagi guru dan karyawan di sekolah yang beliau pimpin.

    Balas
  • Mei 17, 2018 pada 14:31
    Permalink

    Alhamdulillah…ibuku menjadi sosok TH..
    Memang beliau sosok pemimpin yg sll konsisten dg kebijakan yg dibuat, termasuk kebijakan peduli lingkungan…

    Balas
  • Mei 17, 2018 pada 14:54
    Permalink

    Saya akui semenjak Ibu Hanifa memimpin sekolah kami, kami merasa fresh dg lingkungan sekolah dan bersih dr sampah, dulu pertama kali kami ditugaskan di SMPN 41 merasa tdk nyaman karena sampah ada dimana mana,
    Untuk itu kami bangga punya seorang pemimpin seperti bu Risma yg peduli akan lingkungan.

    Balas
  • Mei 18, 2018 pada 08:32
    Permalink

    Suatu lembaga akan berjalan sebagaimana mestinya bila pemimpin yang memimpinya memberikan keteladanan dan mau turun langsung kelapangan sebagaimana bu Kepsek SMPN 41 ini. Hal tersebut akan mendapat respon positif dari partner kerja sehingga apa yang direncanakan akan berjalan berbanding lurus dengan harapan sang pemimpin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *