Prahmana Riza, Penggiat Lingkungan Hidup Surabaya Selatan

Usianya tidak lagi muda. Dia bahkan sudah menjadi nenek bagi 6 orang cucunya. Namun, urusan aksi nyata peduli lingkungan hidup, dia selalu berjiwa muda. Prahmana Riza, namanya. Dialah relawan lingkungan hidup Kota Surabaya dan juga fasilitator lingkungan hidup wilayah Surabaya selatan.

Beragam aksi nyata lingkungan hidup terus dia lakukan setiap harinya. Mulai dari upaya pengurangan produksi sampah non organik, hingga pengolahan sampah yang dihasilkan. “Untuk mengurangi sampah plastik saat belanja, saya selalu membawa tas belanja dari bahan yang awet,” kata Prahmana Riza yang akrab dipanggil Nenek Riza ini.

Berinteraksi dengan banyak orang seolah menjadi passion-nya. Pesan peduli lingkungan hidup selalu dibawanya. Hampir tiap hari dia sosialisasi ke kampung-kampung di Surabaya. Tidak jarang juga dia bersosialisasi di luar Kota Surabaya. “Pengolahan sampah menjadi tema yang biasanya saya sosialisasikan,” kata nenek yang tinggal di Jln  Karah Agung I/55 Surabaya ini.

Setiap kegiatan lingkungan hidup di Surabaya yang melibatkan masyarakat banyak, hampir tidak luput dari keterlibatan Nenek Riza. Merdeka Dari Sampah (MDS) dan Surabaya Green & Clean (SGC), yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya, diantaranya. Pada MDS  dan SGC ini, Nenek Riza terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.

Prahmana Riza bersama fasilitator dan relawan lingkungan Surabaya pada Aksi Hijau dan Festival Hijau di Pantai Kenjeran, Desember 2016

“Pada lomba MDS dan SGC yang diselenggarakan rutin setiap tahun itu, saya bersama relawan lingkungan dan fasilitator lingkungan Kota Surabaya lainnya juga mendampingi kampung-kampung di Surabaya. Saya mendampingi khususnya wilayah selatan agar terlibat aktif,” kata nenek yang lahir pada 10 Februari 1957 ini.

Menurut pengamatan Nenek Riza, yang sudah aktif pelestarian lingkungan hidup sejak tahun 2000-an ini, semakin tahun kepedulian lingkungan hidup masyarakat Surabaya semakin meningkat. “Semangat peduli lingkungan hidup masyarakat itu harus tetap dijaga dan ditingkatkan,” kata Nenek Riza.

Saat ini, menurut ibu dari 4 orang anak ini, ada kejenuhan dalam pengolahan sampah organik menjadi kompos di kalangan masyarakat. “Diantaranya bisa kita lihat dari tidak efektifnya penggunaan tong aerob (komposter) untuk mengolah sampah organik dari rumah tangga,” kata Prahmana Riza.

Prahmana Riza pada Aksi Hijau dan Festival Hijau di Pantai Kenjeran, Desember 2016

Bila pengolahan sampah organik menjadi kompos di kalangan masyarakat mengalami kejenuhan, tidak demikian halnya dengan pemanfaatan sampah non organik. “Geliat masyarakat untuk bank sampah atau pemanfaatan sampah non organik terus bagus. Diantaranya karena ada dampak finansial yang bisa langsung dirasakan masyarakat,” terang Prahmana Riza.

Bagi nenek penghobi lingkungan hidup ini, lomba lingkungan hidup adalah salah satu upaya menjaga semangat peduli lingkungan hidup masyarakat. “Saya juga merasa bangga bila ada kampung yang saya bina menjadi berhasil meraih juara karena kepedulian nyata pada lingkungan. Kalau bekerja keras, tulus, ikhlas pasti ada hasilnya,” kata Nenek Riza. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.