SMPN 18 Surabaya Kagumi TPA Benowo Yang Olah Sampah Jadi Listrik 2 MW

Sebanyak 1600 ton sampah yang setiap harinya dibawa masuk oleh ratusan truk sampah untuk diolah di TPA Benowo.Jumlah tersebut naik setiap tahunnya dikarenakan jumlah penduduk kota Surabaya yang juga bertambah setiap tahunnya. Fakta tersebut disampaikan oleh Andy, Manager HRD PT. Sumber Organik yang menjadi pihak rekanan Pemerintah Kota Surabaya untuk mengelola TPA Benowo kepada ratusan siswa SMPN 18 Surabaya, Rabu (09/05).

Andy menambahkan bahwa dari luas area TPA Benowo yang sebesar 37 hektar, 25 hektar digunakan sebagai tempat memproses sampah yang dihasilkan oleh warga Surabaya, sisanya digunakan untuk fasilitas umum penunjang operasional. “Dari 25 Hektar luas area yang digunakan untuk mengolah sampah yang terus diolah setiap harinya, kapan TPA Benowo ini penuh sebenarnya bergantung dari perilaku manusianya, kalau terus-terusan menganggap isu lingkungan ini tidak penting maka waktunya tidak akan lama lagi,” ujarnya.

Ratusan siswa yang terdiri dari perwakilan OSIS, perwakilan kelas dan kader lingkungan ini tampak kaget melihat gunungan sampah yang tinggi di hadapan mereka. Menurut Bagas Andri, salah seorang siswa kelas 8, menanyakan fungsi dari lapisan hitam yang dipasang pada gunungan sampah kepada pengelola TPA terbaik di Indonesia ini. “Saat jalan-jalan berkeliling, saya penasaran dengan lapisan hitam yang ada di gunung sampah. Itu fungsinya untuk apa?” tanya Bagas. Andy yang juga merupakan alumni SMPN 18 menjelaskan bahwa lapisan hitam itu adalah membran.

Terik matahari di siang hari, tidak menjadi halangan bagi ratusan siswa SMPN 18 Surabaya untuk berkeliling lokasi TPA Benowo untuk mengetahui secara real kondisi gunung sampah dan bagaimana pengelolaan sampah hingga bisa menghasilkan energi listrik sebesar 2 Megawatt

“Membran hitam itu berfungsi untuk menangkap gas metan yang dihasilkan dari gunungan sampah. Gas metana tersebut kemudian dialirkan melalui pipa besar untuk diolah menjadi energi listrik. Hingga saat ini, TPA Benowo sudah berhasil mengolah sampah menjadi energi listrik sebesar 2 Mega Watt,” terang Andy. Dari total 2 Megawatt, 1000 kg Watt dijual kepada PLN yang nantinya oleh PLN, energi listrik tersebut yang disalurkan ke rumah-rumah.

Selain melihat gunungan sampah, mereka mendapatkan penjelasan dari pengelola TPA Benowo mengenai pengolahan air lindi. Pengolahan air lindi atau air yang terkandung didalam sampah dilakukan dengan beberapa tahapan. Diantaranya menggunakan proses biologi dan kimia. Seperti penuturan Sarah Cindy, siswa kelas 8 setelah mendengarkan penjelasan dari pengelola bahwa proses biologi ini diolah oleh bakteri anaerob. “Sedangkan untuk proses kimia, hasil air lindi yang disedimentasikan dimasukkan kedalam wadah mikroba dengan ditambahkan tawas dan polimer,” ucap Sarah.

Dari kunjungan ke TPA Benowo ini, Nunung, guru pembina lingkungan, mengaku berharap agar fakta-fakta yang sudah didapatkan oleh anak-anak bisa menjadi penggerak agar mereka bisa lebih peduli lingkungan. “Setelah ini, saya akan ajak anak-anak untuk melakukan gerakan grebek pasar untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk. Karena di TPA Benowo hanya fokus pada pengolahan sampah nonorganiknya. Saya ingin mereka merasa bahwa aturan larangan sampah plastik masuk sekolah itu memang benar dan harus ditegakkan. (ryan)

Keterangan Foto : Secara bergantian, ratusan siswa SMPN 18 Surabaya foto bersama di depan TPA Benowo pasca study lingkungan dan berkeliling untuk mengetahui proses pengelolaan sampah setingkat kota Surabaya, Rabu (09/05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *