Mengajak anak-anak untuk belajar mengenai wirausaha lingkungan tidak harus dengan memperkenalkan hasil capaian keuntungan yang besar. Yang terpenting adalah proses pembelajaran memulai usaha dengan pengumpulan modal hingga proses pemasaran produknya. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan siswa Green Morsa SDN Morokrembangan I. Memahami program wirausaha lingkungan Ecopreneur dengan cara mencari modal dari pengumpulan sampah anorganik.

Aksi pengumpulan sampah anorganik yang dibarengi dengan minyak jelantah melibatkan warga sekolah. Hasilnya diperoleh modal sebesar Rp. 304.000 dari penjualan kardus bekas dan minyak jelantah. Modal awal yang sudah terkumpul langsung digunakan untuk produksi produk unggulan yang berupa makanan dan minuman yakni es markisa, es sinom, beras kencur, jelly markisa dan puding markisa. Tidak ketinggalan produk kreatif dari sampah yakni bros, bunga dan kotak pensil.

Dengan bekal produk unggulan olahan tanaman markisa yang menjadi ikon sekolah dan TOGA, Green Morsa kerap kali menggelar penjualan di dalam dan di luar sekolah. Seperti yang disampaikan Era Budi Waluyo, guru pembina lingkungan, hingga pekan kesepuluh, mereka sudah menggelar sebanyak 3 kali bazar dan 10 kali penjualan. “Tiga kali bazar itu terdiri atas dua kali bazar di dalam sekolah dan sekali di luar sekolah, hasilnya ya kami berhasil meraup keuntungan sebesar Rp. 930.000,” kata Era.

Perusahaan siswa SDN Morokrembangan I bagi-bagi takjil berupa produk unggulan es markisa kepada pengendara motor yang lewat di depan jalan raya dekat sekolah

Dari 10 kali penjualan produk unggulan didapatkan fakta menarik bahwa es markisa menjadi produk yang paling laris dan paling ditunggu oleh warga sekolah. Jumlah keuntungan yang kecil bukan menjadi masalah bagi Green Morsa, karena bagi mereka proses belajar dan pengalaman untuk menjalani seluruh aktivitas dalam program Ecopreneur lebih penting. “Saya tidak ingin menekankan kepada anak-anak untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya, tetapi saya tekankan untuk belajar pada setiap pengetahuan baru yang tidak didapati di sekolah, seperti jualan,” imbuhnya.

Momen penjualan dan bazar menjadi memori yang tidak bisa mereka lupakan selama program wirausaha lingkungan yang sudah memasuki tahun ke enam. Tidak hanya itu, momen menarik lainnya yang sudah direalisasikan mereka adalah melakukan aksi adopsi kampung dan sekolah di bulan Ramadhan. “Karena awalnya, sempat mendapat penolakan dari warga-warga kampung karena keraguan warga saat anak-anak yang akan menyampaikan materi lingkungan, tetapi mendapat penolakan bukan akhir bagi mereka, setelah mencoba lagi dan akhirnya berhasil,” ujar Era Budi.

Upaya gigih merekapun membuahkan hasil, meskipun hanya dengan 1 kampung adopsi dan 1 sekolah adopsi, perusahaan siswa sekolah yang berada di Jalan Gresik Nomor 160 dengan intensitas sekali kunjungan per bulan, mereka mengajak warga kampung dan sekolah binaan untuk membuat lubang resapan biopori. “Kalau di kampung itu, sebagian warga kampungnya sudah mengerti apa dan fungsinya biopori. Sedangkan di sekolah, kami harus memperkenalkan lagi apa itu biopori dan fungsinya, baru setelah itu mengajak mereka praktek,” ungkap guru berpostur pendek ini.

Capaian lainnya yang sudah direalisasikan adalah pengolahan sampah anorganik khususnya kertas sebanyak 1400 kg, minyak jelantah sebanyak 28 kg dan pupuk kompos sebanyak 35 kg. Sekolah yang terletak di dekat jalan besar ini melakukan penambahan tanaman berupa 30 TOGA baru dan 2 tanaman sayur baru. “Nantinya, tanaman TOGA dan sayur ini bisa kami olah untuk menjadi produk unggulan baru, tidak hanya soal markisa saja,” imbuhnya. (ryn)

Keterangan Foto : Perusahaan siswa SDN Morokrembangan I menggelar bazar aneka produk unggulan di dalam sekolah dan di luar sekolah, bazar menjadi kegiatan yang paling sukar untuk dilupakan oleh anak-anak dalam program Ecopreneur

One thought on “Es Markisa Jadi Produk Terlaris Perusahaan “Green Morsa” SDN Morokrembangan I

  1. SDN Morokrembangan I mempunyai econ tersendiri yaitu Maskisa, sehingga dengan mengolah markisa menjadi es ternyata produk tersebut sangat di sukai konsumen. Inilah yang membuat kegiatan Ecoreneur di sekolah tersebut tampak hidup. Semua seteakholder punya peran yang saling mendudkung , kekompakan tetap terjaga sehingga kegiatan ecopreneur menjadi berjalan. Semoga SDN MORSA semakin berkembang dan maju.

    Salam Bumi Lestari
    Bravo untuk Morsa I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *