Kemampuan melihat peluang pasar memang dibutuhkan oleh setiap perusahaan yang bergerak di bidang bisnis makanan. Peluang pasar dapat diartikan pula sebagai kreativitas tim dalam mengolah potensi yang dimiliki menjadi sebuah produk layak jual. Hal itu yang diterapkan oleh perusahaan siswa SDN Bubutan IV Surabaya dalam program wirausaha lingkungan yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya.

Kemampuan tersebut adalah saat mereka mampu melihat potensi lingkungan di sekolah yang terdiri dari banyaknya blimbing wuluh, hasil kebun seperti daun cincau hingga taman TOGA. Ide tersebut dikembangkan hingga membuat tim produksi perusahaan siswa ini bisa menghasilkan sekurang-kurangnya 16 jenis produk olahan baik itu makanan, minuman maupun kerajinan tangan. Diantaranya seperti Sibilu (Sirup Blimbing Wuluh), puding cincau hingga bros dari kain perca.

Semakin banyak jumlah produknya, semakin besar pula modal awal yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Perusahaan siswa yang berada di daerah Jalan Semarang ini memiliki modal sebesar Rp. 2.650.500. Modal besar tersebut diperoleh dari penjualan sampah kertas, kardus, plastik dan limbh minyak jelantah. Dengan jumlah modal sebesar itu, produk yang berjumlah banyak itupun tidak serta merta langsung dijual semuanya.

Perusahan siswa mengumpulkan sampah kardus, kertas dan minyak jelantah hasil dari warga sekolah yang membawa sampah tersebut dari rumah untuk dijadikan modal awal Ecopreneur

Saat penjualan pertama, produk yang dipasarkan adalah Sibilu, nuget lele, es sinom, puding cincau hingga beragam kerajinan dari sampah kain perca seperti bros, jepit rambut, bando hingga tempat pensil. Disampaikan oleh Yohana Permana, guru pembina lingkungan, saat penjualan pertama, warga sekolah sudah menggemari seluruh produk olahan makanan dan minuman milik  mereka. “Kamipun saat penjualan produk bekerja sama dengan kantin sekolah agar semakin laku,” ujarnya.

Hasilnya, setiap satu minggu sekali mereka melakukan penjualan produk dengan cara membuka stan maupun kerjasama dengan kantin, memperoleh keuntungan sebesar Rp. 6.931.500. Keuntungan sebesar itu didapatkan selama lebih kurang 10 minggu melakukan penjualan produk. “Ditambah juga dengan selama 7 kali menggelar bazar baik di dalam maupun di luar sekolah. Jumlahnya 4 kali bazar di dalam sekolah dan 3 kali bazar di luar sekolah,” celetuk Yohana.

Dari semua penjualan yang sudah dilakukan dan banyaknya produk unggulan yang sudah dijual kepada warga sekolah dan sekitarnya, produk es Sibilu, roti bakar selai blimbing wuluh, puding cincau, es sinom, stick lidah buaya dan jus mangga menjadi produk paling laris yang digemari pelanggan mereka. “Senang sekali rasanya kak, kalau produk yang dibuat oleh anak-anak dengan sungguh-sungguh bisa sampai menjadi favorit pelanggan,” ungkap guru berkacamata ini.

Pengembangan lainnya yang berkaitan dengan program Ecopreneur, perusahaan SDN Bubutan IV ini juga sudah menambah jumlah 480 tanaman baru yang ditanam di tiap-tiap kelas dan memiliki 3 kampung binaan serta 3 sekoah adopsi. “Keenam tempat tersebut adalah kampung Margorukun, kampung Tembok Lor, kampung Pawiyatan dan SDN Gundih, SDN Bubutan II serta SDN Tembok Dukuh Kawasan. (ryn)

Keterangan foto : Perusahaan siswa SDN Bubutan IV foto bersama pasca kegiatan peringatan hari Bumi yang menggelar aksi di kampung binaan yang ada di sekitar sekolah

One thought on “16 Macam Produk SDN Bubutan IV Bawa Keuntungan Sebesar Rp. 6.931.500

  1. Luar biasa kegiatan Eco preneur SDN Bubutan IV, dengan kerja keras dan inovasi produk unggulan dapat mengumpulkan keuntungan yang luar biasa. Suatu capaian yang perlu mendapat apresiasi meskipun tujuan utama dari kegiatan Ecopreneur ini bukan semata keuntungan finansial semata.

    Selamat Untuk SDN Bubutan IV, sukses selalu

    Salam Bumi Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *