Pelestarian lingkungan hidup tidaklah sulit. Bisa diawali dengan aksi sederhana. Seperti yang dilakukan Eny Murtiningtyas, guru pembina lingkungan hidup SDN Kapasari VIII Surabaya. Dia mengolah sampah organik menjadi kompos. Dia memanfaatkan keranjang dan tong bekas menjadi komposter untuk mengolah sampah organik.

Tyas, panggilan akrabnya, dikenal sosok guru yang tekun di sekolah. Dia juga dikenal banyak kegiatan dan penuh semangat khususnya soal aksi lingkungan hidup di sekolah. Tak sekedar mendidik setiap siswa, Tyas juga sering mensosialisasikan pentingnya pelestarian lingkungan hidup.

“Saya ajak anak-anak untuk melakukan aksi menyirami tanaman dan sebisa mungkin membawa tempat minum sendiri yang wadahnya bisa digunakan berulang kali dari rumah,” ujar Tyas, guru walikelas I.

Tyas juga dikenal banyak membuat program lingkungan sekolah. Diantaranya Rabu Hijau Sehat, yang meminta warga sekolah membawa tempat makan minum sendiri yang tidak sekali pakai. Ada juga program Kantin Sehat dan Jumat Bawa Sampah.

Menurut guru kelahiran 1974 ini, yang dikatakan sekolah peduli lingkungan itu tidak hanya memiliki lingkungan yang hijau dan bersih. “Sekolah peduli lingkungan itu juga harus memiliki banyak pembiasaan lingkungan yang diterapkan setiap harinya,” kata Tyas.

Setiap ada usulan program lingkungan hidup baru, Tyas dan guru-guru SDN Kapasari VIII menyampaikannya kepada kepala sekolah. “Setelah dapat restu dari kepala sekolah, kemudian kami sampaikan di grup sosial media guru-guru. Kami juga sosialisasikan programnya dengan pengeras suara sekolah dibantu kader lingkungan sosialisasi keliling kelas,” terang guru penghobi berkebun dan membaca ini.

Tantangan menjadi hal biasa yang dihadapi Tyas saat melaksanakan program lingkungan. “Saya yakin seberat apapun tantangan yang menghadang akan terasa ringan kalau dijalani bersama,” imbuh Eny Murtiningtyas.

Diantara tantangannya adalah melibatkan partisipasi walimurid atau orang tua siswa. Tyas menilai partisipasi walimurid itu sangat penting. “Tidak banyak sekolah yang mau melibatkan aktif walimurid dalam program lingkungan hidup di sekolah. Kami selalu melibatkan mereka diawali dengan workshop,” terang Tyas.

Dia menjelaskan bahwa pelibatan walimurid teranyar yang dilakukan sekolahnya adalah melalui Workshop Hidroponik dan Bazar Ecopreneur 2018. Salah satu bukti keberhasilan dari mengajak partisipasi walimurid adalah melalui program Ecopreneur 2018 yaitu terkumpulnya jutaan rupiah dari berjualan Bazar Ecopreneur 2018 dalam rangka Hari Kartini 2018.

Banyaknya aksi lingkungan yang dilakukannya di sekolah tidak membuatnya lupa untuk menerapkan kebiasaan tersebut di keluarganya. “Biasanya saya membawa tas belanja lipat sehari-hari ketika ke pasar untuk berbelanja. Saya sebisa mungkin membeli produk kemasan besar, memanfaatkan air bekas cucian beras untuk menyiram tanaman di rumah,” ujar Tyas. (*)

Pewarta: Satuman Saluki

Penyunting: Mochamad Zamroni

4 thoughts on “Eny Murtiningtyas, Terapkan Budaya Lingkungan di Keluarga

  1. Sebagai penggiat lingkungan.. Bu Tyas patut menjadi teladan. Kegiatannya yang tidak mengenal lelah dan selalu totalitas dalam hal lingkungan.

  2. Bu Tyas,…..kereenn…siapa yang tidak kenal dengan Bunda yang satu ini, dengan segala kiprahnya berhasil membawa SDN Kapasari 8 selalu menorehkan prestasi dalam kegiatan lingkungan yang di gagas oleh Tunas Hijau Indonesia. semoga sukses selalu Bunda.

  3. Selamat buat mbak tyas, ibu guru cantik pegiat LH dan penggiat hidroponik, bisa masuk sbg sosok tokoh lingkungan hidup di sekolah dan dimuat di web tunas hijau, mudah2an ini jadi cambuk buat bu tyas dan teman2 guru seperjuangan yg lain untuk lebih getol dan menambah nutrisi semangat serta kepeduliannya thdp LH sekolah dan jaga bhumiku indonesia.aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *