Pramuka UINSA Ajak Anak-Anak Desa Cangkringsari Olah Sampah Organik Bersama Eco Mobile PJB

Balai Desa Cangkringsari ramai riuh menjelang waktu berbuka puasa dengan adanya kegiatan sosialisasi lingkungan melalui mobil edukasi lingkungan hidup keliling. Sosialisasi yang mengusung tema pengolahan sampah ini diikuti oleh puluhan anak-anak warga Desa yang sebelumnya sudah melakukan pawai atau gerak bertema islami. Kegiatan yang digagas oleh Gerakan Pramuka Universitan Negeri Islam Sunan Ampel Surabaya ini bekerja sama dengan karang taruna desa, Jumat (01/06).

Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya mengenalkan kepada anak-anak kepedulian lingkungan sejak dini melalui kegiatan yang kreatif dan tidak membosankan. Selain itu, bagi warga desa kegiatan ini juga menjadi ajang untuk bersilahturahmi antara perangkat desa, pemuda karang taruna dan gerakan pramuka. Seperti yang disampaikan oleh Akhmad Fandik, ketua dewan Racana pramuka UINSA yang sudah selama 10 hari ini menggelar abdi masyarakat disana.

“Hari ini adalah rangkaian puncak kegiatan yang sudah digelar selama 10 hari, nah kami berharap dengan adanya Eco Mobile PJB dari Tunas Hijau ini, tidak hanya menambah pengetahuan tentang lingkungan bagi adik-adik disini. Lebih dari itu, Eco Mobile PJB juga bisa menjadi magnet bagi warga desa lain yang lewat untuk melihat aktivitas kami di balai desa ini,” ujar Fandik. Puluhan anak-anak ini kemudian diajak untuk menebak makna dari video lingkungan yang diputar di Eco Mobile PJB.

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Anggriyan yang kuga operator Eco Mobile PJB mengajak anak-anak desa Cangkringsari untuk mengisi lubang resapan biopori yang ada di balai desa dengan sampah organik kulit semangka pada kegiatan sosialisasi pengolahan sampah dengan Eco Mobile PJB bersama Pramuka UINSA

Sebagai iming-iming hadiahnya, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau ini  memberikan tas belanja ramah lingkungan. Luna Meira Irawan, salah seorang anak perempuan, menjelaskan makna video lingkungan dengan binatang penyu dan kera sebagai pemerannya. “Penyu itu seperti bumi dan kera itu manusianya kak, gara-gara sikap dan ulah sang kera yang serakah menebang pohon untuk dijadikan rumah, sehingga membuat penyu mati karena tidak ada pohon lagi,” ujarnya.

15 menit menjelang waktu berbuka puasa, aktivis lingkungan yang juga operator Eco Mobile PJB ini mengajak mereka untuk mengolah sampah kulit semangka ke dalam keranjang komposter. Tidak hanya menggunakan keranjang komposter, adanya lubang resapan biopori di depan balai desa membuat Riyan, sapaan akrab aktivis ini mengajak mereka mengisi lubangnya dengan kulit semangka juga.

“Kalian tahu lubang ini apa, lubang ini adalah lubang biopori yang fungsinya meresapkan air hujan biar tidak banjir. Nah, lubang ini harus diisi sampah organik seperti kulit semangka ini agar hewan di dalam tanah bisa makan dan membuat jalur airnya,” ujar Anggriyan kepada anak-anak sebelum mengisinya. Sebagian anak-anak lainya tampak sibuk memilih buku-buku lingkungan yang ada di perpustakaan mobil sembari menunggu waktunya berbuka.

Sementara itu, Ali Fikri, kepala Desa Cangkringsari mengaku sangat senang melihat kegiatan lingkungan yang ditujukan bagi warganya. Tidak hanya menyasar anak-anak kecil saja, dirinya berharap agar remaja kartar dan ibu-ibu PKK juga bisa terlibat dalam kegiatan lingkungan bersama Eco Mobile PJB. “Kami senang sekali karena anak-anak bisa mendapat ilmu baru yang bisa diterapkan di rumah, semoga kedepan bisa melibatkan ibu-ibu PKK dan karang taruna,” pungkasnya. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau mengajak anak-anak desa Cangkringsari untuk bisa menjelaskan maksud dari video lingkungan yang diputar di Eco Mobile PJB akan mendapatkan tas belanja ramah lingkungan, Jumat (01/06)

Satu tanggapan untuk “Pramuka UINSA Ajak Anak-Anak Desa Cangkringsari Olah Sampah Organik Bersama Eco Mobile PJB

  • Juni 2, 2018 pada 18:15
    Permalink

    Kaalu semua elemen masyarakat tergerak hatinya untuk mengolah sampah dan mengurangi penggunaan sampah plastik tentu problem dalam masyarakat yang berkaitan dengan sampah akan terkurangi., karen kita semua tahu bahwa masalah sampah ini adalah isu internasional, hampir semua negara di dunia ini mengalami problem yang sama berkaitan dengan sampah.

    Elemen masyarakat baik yang formal maupun yang informal mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mengatasi masalah sampahermasuk organisai sosial seperti paramuka. Mereka mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sehingga berupaya melakukan edukasi kepada masyarakat untuk melakukan tindakan yang ramah lingkungan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *