Berprofesi sebagai pendidik jaman now seakan dimudahkan dengan kecanggihan teknologi yang tengah berkembang. Tidak terkecuali Imam Subroto, guru SDN Bubutan IV Surabaya. Guru kelahiran tahun 1967 ini kerap mem-posting informasi seputar pelestarian lingkungan hidup. Bermodalkan telepon genggam, Imam membagikan foto, video maupun konten edukasi seperti artikel dari laman www.tunashijau.id.

Baginya, mengedukasi orang banyak merupakan bagian dari sosialisasi mengajak agar lebih peduli lingkungan hidup. “Saya memilih seperti ini karena saya ingin menjaga lingkungan dengan cara yang berbeda. Semua orang harus bisa mengambil bagian menjaga lingkungan dan bertanggung jawab,” terang Imam Subroto yang gemar menulis ini.

Imam juga dikenal guru yang getol merawat tanaman sayuran dengan sistem hidroponik di sekolah. Bahkan ketika waktu liburan kenaikan kelas, Imam menyempatkan setiap hari ke sekolah untuk merawat tanaman hidroponik yang dibudidayakannya.

Beragam jenis tanaman sayuran dirawat di sekolahnya. Ada tanaman kangkung, sawi, selada dan bayam. Tanaman sayuran itu tertata rapi dalam hidroponik sistem NFT atau Nutrient Film Technique. “Sebisa mungkin saya mengajak anak didik atau kader lingkungan ketika merawat tanaman hidroponik ini,” ungkap Imam Subroto.

Berkat aksinya, Imam ditunjuk menjadi salah satu pembina lingkungan hidup di sekolah oleh Sastro, kepala SDN Bubutan IV Surabaya. Pria lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar ini bersama dengan pembina lingkungan lain dan kepala sekolah menggiatkan dan merealisasikan program lingkungan hidup seperti polisi lingkungan, operasi semut, zero waste, pengomposan, penghematan energi, serta Jumat bersih dan sehat.

“Semakin banyak program lingkungan, semakin menunjukkan kepeduliannya. Namun, agar setiap program lingkungan bisa terealisasi dengan sukses, harus aktif melibatkan seluruh warga sekolah. Sebab, semua orang bertanggung atas kondisi lingkungan hidup saat ini,” ujar pria yang suka nyemil buah belimbing wuluh ini.

Menurut Imam, selama 24 tahun menjadi guru, program yang paling banyak tantangannya adalah program Zero Waste. Sebab, tidak semua orang mau dan membutuhkan pembiasaan. “Merealisasikan zero waste adalah program yang paling menantang. Kami sosialisasikan terus menerus. Kami ajak seluruh warga sekolah, wali murid dan kampung sekitar sekolah,” imbuhnya.

Imam Subroto juga menyampaikan kiat-kiatnya untuk sekolah lain dalam mengembangkan program lingkungan hidup. “Biasanya sekolah kami kalau ada kendala seperti dana bisa dengan menjual sampah yang kami pilah. Kami juga mengumpulkan minyak goreng bekas dan gerakan mengumpulkan gelangsing,” terangnya.

Imam ingin mengembangkan hutan sekolah mini dan mengadopsi kampung untuk SDN Bubutan IV. “Seluruh wawasan dan waktu saya akan saya curahkan untuk mengembangkan program lingkungan. Tidak luput juga hidroponik supaya bisa menjadi percontohan sekolah-sekolah lainnya,” ucap guru yang bercita-cita menjadi kepala sekolah ini. (*)

Pewarta: Satuman Saluki

Penyunting: Mochamad Zamroni

2 thoughts on “Imam Subroto, Merawat Hidroponik Sekolah Saat Liburan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *