Beragam usulan disampaikan oleh siswa dan guru untuk mewujudkan program lingkungan hidup berkelanjutan sekolah-sekolah – Surabaya Eco School 2018 yang lebh baik dari pelaksanaan tujuh tahun sebelumnya.

Dari beragam usulan yang masuk, Sulaikah Kurniawati, guru SDIT Al Uswah Surabaya terpilih sebagai yang terbaik. Sulaikah Kurniawati pun berhak mendapatkan hadiah menarik yang telah ditentukan sebelumnya oleh Tunas Hijau.

Kurniawati diantaranya mengusulkan agar Tunas Hijau memfasilitasi studi banding ke sekolah-sekolah dengan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. “Misalnya ke SDN Kaliasin I dan SMPN 1,” usul Sulaikah Kurniawati yang beberapa tahun menjadi pembina Eco School SDIT Al Uswah Surabaya. Yang hadir perwakilan 3 guru per sekolah tanpa siswa.

Kurniawati juga menyampaikan perlunya menggelorakan semangat Surabaya Eco School 2018 jauh-jauh hari sebelum workshop I. “Bisa melalui website, youtube, maupun diskusi-diskusi lingkungan hidup atau semacam talkshow seminar atau sarasehan. Undang artis sebagai daya tarik. Tentu saja artisnya yang peduli lingkungan dan santun,” saran Sulaikah. Bisa juga dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik.

Menurutnya, tidak perlu sanksi untuk sekolah-sekolah yang enggan aktif Surabaya Eco School. “Mungkin perlu didatangi saja kenapa mereka enggan. Apa kendalanya dan berikan solusi praktis,” usul Sulaikah Kurniawati.

Bisa jadi sekolah-sekolah tersebut enggan merealisasikan tantangan Surabaya Eco School karena pasti akan mengeluarkan biaya. “Dan biayanya gak nyucuk dengan hadiah ketika menang. Jadi gedein hadiah. Perbanyak juara kalo perlu sampai juara 10. Cari sponsor yang banyak. Susah sih. Tapi pasti bisa dong,” saran guru yang akrab dipanggil Ustadzah Nia ini.

Imam Subroto, guru pembina lingkungan hidup SDN Bubutan IV Surabaya mengusulkan agar Lomba Jingle Lingkungan Hidup Surabaya Eco School digelar dengan kategori beda antara SD dan SMP. “Tahun 2017, SDN Bubutan IV Surabaya kurang beruntung karena SD dan SMP melebur menjadi hanya satu kategori,” tulis Imam Subroto.

Andayani, guru pembina lingkungan hidup SMPN 40 Surabaya, mengusulkan agar memperbanyak apresiasi atau penghargaan buat individu warga sekolah dan sekolah. Tidak terkecuali apresiasi untuk keluarga warga sekolah yang telah merealisasikan keluarga hijau.

Miswan, guru pembina lingkungan hidup SDIT Al Uswah Surabaya, mengusulkan agar pembinaan Tunas Hijau harus sudah berbasis sekolah kemitraan dengan menunjuk satu koordinator dalam setiap rayonnya. “Agar memudahkan pemantauan dan koordinasi tunas hijau dengan sekolah-sekolah,” usul Miswan.

Sementara itu, Janny Mudjijanto, guru pembina lingkungan hidup SDN Tanah Kalikedinding I Surabaya, mengusulkan kiat khusus agar semakin banyak sekolah swasta dan negeri yang mau aktif berproses.

“Bisa juga ada dua katagori yaitu sekolah negeri dan sekolah swasta, karena tingkat kepedulian tiap sekolah berbeda-beda. Untuk tantangannya lebih kontekstual dan lebih menjurus ke pelestarian dan perawatan dan perbaikan lingkungan,” saran Janny. (*)

Pewarta: Mochamad Zamroni

4 thoughts on “Ini Lho Usulan Terbaik Untuk Surabaya Eco School 2018

  1. Selamat kepada bapak ibu guru yang telah menyampaikan usulan terhadap Surabaya Eco School 2018. Semoga usulan – usulan terbaik tsb dapat menjadi masukan pada SES 2018 ini. Dan tentunya jumlah pemenang bisa semakin bertambah menjadi 10, dan tentunya tantangan setiap minggu menjadi semakin menarik.
    Selamat.
    Sukses.

  2. Selamat buat Sulaikah Kurniawati, guru SDIT Al Uswah Surabaya terpilih sebagai yang terbaik. Selain komentarnya bagus juga ada solusi untuk sekolah2 yg kurang berminat pd kegiatan tunas hijau beliau memberi masukan dan solusi, hebat bu Sulaikah Kurniawati memang layak dan berhak mendapatkan hadiah menarik yang telah ditentukan sebelumnya oleh Tunas Hijau. Mohon maaf saya kutip kalimatnya karena bagus dan menginspirasi saya. (Kurniawati diantaranya mengusulkan agar Tunas Hijau memfasilitasi studi banding ke sekolah-sekolah dengan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. “Misalnya ke SDN Kaliasin I dan SMPN 1,” usul Sulaikah Kurniawati yang beberapa tahun menjadi pembina Eco School SDIT Al Uswah Surabaya. Yang hadir perwakilan 3 guru per sekolah tanpa siswa.Kurniawati juga menyampaikan perlunya menggelorakan semangat Surabaya Eco School 2018 jauh-jauh hari sebelum workshop I. “Bisa melalui website, youtube, maupun diskusi-diskusi lingkungan hidup atau semacam talkshow seminar atau sarasehan. Undang artis sebagai daya tarik. Tentu saja artisnya yang peduli lingkungan dan santun,” saran Sulaikah. Bisa juga dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik.
    Menurutnya, tidak perlu sanksi untuk sekolah-sekolah yang enggan aktif Surabaya Eco School. “Mungkin perlu didatangi saja kenapa mereka enggan. Apa kendalanya dan berikan solusi praktis,” usul Sulaikah Kurniawati.Bisa jadi sekolah-sekolah tersebut enggan merealisasikan tantangan Surabaya Eco School karena pasti akan mengeluarkan biaya. “Dan biayanya gak nyucuk dengan hadiah ketika menang. Jadi gedein hadiah. Perbanyak juara kalo perlu sampai juara 10. Cari sponsor yang banyak. Susah sih. Tapi pasti bisa dong,” saran guru yang akrab dipanggil Ustadzah Nia ini. Salam lestari (mas imam subroto ketua ses 2018 SDN BUBUTAN 4 SBY)

  3. Ternyata msh banyak juga guru pembina yg mengusulkan berbagai saran. Semuanya bertujuan unt menggelorakan program Surabaya Eco School 2018 agar semakin menggema ke angkasa sekolah-sekolah. Itu pertanda SES 2018 akan lebih inovasi, kreatif, semarak, & sukses.
    Yuuuk, kita sambut kompetisi SES 2018 dg penuh kegembiraan, suka cita, & semangat.

  4. Alhamdulillah…
    Maturnuwun sanget mas2 mbak2 Tunas Hijau…
    Uneg2 terkait SES yang terpendam akhirnya bisa keluar dengan manis…
    Pas ada momen ini juga…
    Mohon bimbingannya terus ya utk kami….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *