Kepala sekolah perempuan yang satu ini menjadi penonton terdepan saat tim jingle Surabaya Eco School 2018 sekolahnya tampil pada lomba yang digelar di Taman Flora Bratang, Minggu (11/11/2018). Sosok kepala sekolah ini bahkan ikut bernyanyi dan bergoyang mengiringi penampilan tim jingle sekolahnya.

Dialah  Sulastri, kepala SMPN 51 Surabaya. Sepekan sebelum, saat pelaksanaan Lomba Yel-Yel Surabaya Eco School 2018, Sulastri ikut tampil bersama tim yel-yel sekolahnya. Bersama 88 orang siswa, guru, karyawan dan orang tua, dia mengenakan kostum yel-yel dan bergerak menyesuaikan koreografi timnya.

Meskipun tim yel-yel SMPN 51 termasuk tim sekolah baru pada perlombaan itu, namun prestasi tim ini termasuk luar biasa. Tim yel-yel SMPN 51 menempati peringkat ke-12. “Selama hampir sebulan kami berlatih yel-yel Surabaya Eco School setiap sore. Saya selalu mendampingi. Kami selalu diskusi dan evaluasi setiap kekurangan,” kata Sulastri, yang tinggal di Taman Jambangan Indah 7.

Mantan guru SMPN 28 Surabaya ini juga bercerita ke seluruh anggota tim yel-yel kalau di sekolah lamanya, di SMPN 28 Surabaya, anak-anaknya semangat dan sangat percaya diri. “Itu juga membantu mereka sedikit lebih percaya diri menyiapkan tim yel-yel Surabaya Eco School,” terang Sulastri.

Sulastri saat Bersih-Bersih Pantai Jembatan Suramadu Surabaya 30 September 2018

Sulastri melihat bahwa potensi siswa SMPN 51 Surabaya sangat membutuhkan pendampingan. “Kepedulian warga SMPN 51 terhadap pengelolaan lingkungan hidup masih butuh kerja keras. Dengan menyerukan sendiri ajakan peduli itu, kami berharap anak-anak dapat menjiwai dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar kepala sekolah yang ikut Bersih-Bersih Pantai Jembatan Suramadu 30 September ini.

Semua penyiapan yel-yel SMPN 51 dilakukan secara mandiri. Seluruh guru dan anak-anak yang tampil menyiapkan sendiri kostum daur ulangnya. “Saya bentuk panitia dan membagi habis tugas untuk persiapan yel-yel. Semua guru mendapat tugas. Kami kerja bareng,” ujar kepala sekolah kelahiran 24 Maret ini.

Semua potensi warga sekolahnya dikerahkan untuk menampilkan tim yel-yel terbaik. “Alhamdulillah kami  punya tenaga guru muda baru yang bisa melatih koreografi. Kami juga melibatkan pelatih perkusi dari pembina ekskul di SMPN 51 Surabaya,” ujar Sulastri.

Sulastri semula pesimis SMPN 51 untuk mengikuti challenge Surabaya Eco School 2018. “Tim lingkungan hidup memang sudah ada, tetapi belum bisa bekerja secara maksimal.  Namun setelah adanya evaluasi dari tim Tunas Hijau yang alumni SMPN 51 Mas Ricchi,  akhirnya saya termotivasi untuk mengikuti challenge November  Surabaya Eco School,” kata Sulastri.

Warga SMPN 51 Surabaya dengan tumbler dan tepak makan saat peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di sekolah

Pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2018, Sulastri mewajibkan siswanya untuk mengenakan pakaian bernuansa satwa dan bunga. “Setiap kelas kami membuat taman gantung di depan kelasnya. Kami melepaskan 100 ekor burung sebagai rasa cinta kami agar satwa dapat hidup bebas pada habitatnya yang sebenarnya,” ujarnya.

Peringkat ke-12 pada Lomba Yel-Yel Surabaya Eco School 2018 sangat memotivasi SMPN 51 untuk mengikuti Lomba Jingle Surabaya Eco School 2018. “Mulai mengarang lagu dan lirik sendiri. Kami berlatih 1 minggu full. Walaupun masih banyak kekurangan, tetapi saya cukup puas karena anak-anak sudah menampilkan yang terbaik. Setidaknya mereka sudah jadi juara di hati saya,” tutur Sulastri.

Semangat Sulatri untuk mengendalikan sampah pun bangkit. “Pada setiap kesempatan, kami selalu mengajak anak-anak untuk hidup lebih teratur dan sehat dengan membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Dengan wadah yang bisa digunakan berulang kali,” terangnya.

Aksi lingkungan hidup juga diterapkan Sulastri bersama keluarganya. “Kami meminimalkan produksi sampah plastik dengan membawa keranjang kalau berbelanja ke pasar. Kalau ke warung bawa tas bancakan untuk menempatkan belanjaan. Di rumah sudah  ada tempat sampah terpilah untuk sampah kering dan basah,” ujar kepala sekolah kelahiran tahun 1969 ini .

Dia juga membiasakan anak-anaknya ke sekolah membawa tumbler dan bekal makanan dari rumah. “Kalau pengomposan ikut milik kampung. Juga bank sampahnya. Di PKK, kita diimbau setiap keluarga untuk membiasakan memilah sampah yang mempunyai nilai ekonomis dan didaur ulang dengan diserahkan ke bank sampah,” katanya. Setiap anggota keluarganya juga memiliki 1 tumbler untuk digunakan sebagai wadah minum setiap harinya. (*)

Penulis: Mochamad Zamroni

3 thoughts on “SULASTRI, Kepala SMPN 51 Surabaya

  1. Maturnuwun Mas Roni, sukses selalu untuk Tunas Hijau dengan Eco Schoolnya…. tetaplah menjadi pelopor untuk gerakan peduli dan cinta lingkungan agar menjadi budaya bagi masyarakat Surabaya demi terciptanya Kota Surabaya sebagai Kota Bebas Sampah.

  2. Salam lestari bumi.
    Ibu Sulastri panjenengan Kepala Sekolah yang luar biasa. Panjenengan menjadi teladan bagi warga SMPN 51 Surabaya. Apa yang Bunda miliki utamanya hal kepedulian lingkungan panjenengan jadikan motivasi buat warga SMPN 51. Tetap semangat gih Bunda semoga SMPN 51 menjadi sekolah hebat di bawah komando Ibu Sulastri.

  3. Ibu Sulastri memang kepala sekolah yang hebat. Selalu mendukung semua kegiatan sekolah demi kemajuan dan kejayaan SMPN 51 Surabaya. Bu Sulastri adalah seorang Srikandi yang patut menjadi suri tauladan bagi kita semua. Semoga perjuanganmu yang gigih bak ibu Tri Rismaharini wali kota Surabaya,, selalumendapat berkah dan ridhoNya. Aamiin Ya Allah.
    ” Hidup Srikandi ku, dan jayalah selalu”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *