M Zaki Raihansyah, Pangeran Lingkungan Hidup 2018 SMP Olah Sampah Plastik Jadi Ecobrick

Pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick mengantarkan siswa SMPN 6 Surabaya ini menjadi Pangeran Lingkungan Hidup 2018 SMP. Muhammad Zaki Raihansyah, nama siswa yang kini duduk di kelas 9 sekolah yang berlokasi Jalan Jawa Surabaya.

Ecobrick adalah sejenis bata ramah lingkungan terbuat dari botol yang diisi dengan potongan sampah plastik hingga padat. Ecobrick diperkenalkan oleh Russel Maier pemerhati lingkungan asal Kanada.

Zaki Raihansyah tidak segan mengajarkan ecobrick kepada kelompok usia yang lebih tua darinya seperti kepada para pelajar SMAN Mojoagung Jombang ini

Pembuatan ecobrick sendiri ternyata tidak sebentar. Walaupun terlihat sederhana prosesnya, sebuah botol plastik ukuran 600ml harus diisi sampah plastik sekitar 250 gram atau setara dengan  2500 lembar plastik kemasan.

Zaki mengaku bahwa sebelumnya ia sudah tertarik dengan program Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup dari Tunas Hijau sejak Sekolah Dasar. Dia baru mengikutinya saat ada kategori khusus SMP pada tahun 2018.

“Dulu ingin sekali ikut saat SD, tetapi sekolah tidak cukup baik memfasilitasinya dan akhirnya baru kesampaian sekarang,” ujar remaja kelahiran Surabaya, 15 Maret 2004 ini. Dia mengaku mempersiapkan dengan serius proyek ecobricknya dari kelas 8.

Zaki bersama kedua orang tuanya menerapkan perilaku ramah lingkungan di rumah. Diantaranya mengolah sampah organik menjadi kompos

Keikutsertaan pemilik cita-cita dokter ini pada Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2018 diawali dengan mengikuti seleksi yang dilaksanakan internal SMPN 6 Surabaya, sekolahnya. Seleksinya berupa tes esai pengetahuan lingkungan dan hari besar peringatan lingkungan hidup khususnya.

Zaki memang termasuk peserta yang sangat serius melaksanakan proyek lingkungan hidupnya. “Saya menjalankan proyek pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick ini tidak mudah. Awalnya, saya sering diejek teman-teman karena dianggap seperti pemulung sampah,” kata Zaki yang juga terpilih menjadi Duta Anak Surabaya 2019.

Proyek ecobrick ini tidak dilakukan Zaki seorang diri. Penghobi musik ini bahkan mengadopsi beberapa kampung, taman kanak-kanak dan sekolah dasar untuk juga mengolah sampah plastik menjadi ecobrick.

“Saya sudah berhasil menjual beberapa produk mebel berbahan ecobrick dengan harga jutaan rupiah,” terang pelajar yang tinggal di Jalan Jetis Kulon VIII/47 Surabaya ini. Dia juga telah mengedukasi sekitar 2500 orang dengan proyek ecobrick ini.

Pasca anugerah Pangeran Lingkungan Hidup 2018 SMP, Zaki bahkan sudah dua kali menjadi fasilitator pengolahan sampah dengan ecobrick pada Kampung Lali Gadget di Wonoayu, Sidoarjo.

Dalam melaksanakan proyeknya, Zaki mendapat dukungan penuh kedua orang tuanya, Syaiful Bachri dan Tutik Purwaningsih. “Saya sama istri mendukung Zaki, karena programnya sangat bagus. Anak muda harus peduli lingkungan,” ujar Syaiful Bachri.

Tidak jarang juga kedua orang tua Zaki memfasilitasi pertemuan dengan teman dan kerabatnya untuk sosialisasi proyek ecobrick. Penerapan perilaku ramah lingkungan hidup bahkan juga diterapkan di keluarga ini dengan serius. Alhasil, keluarga Zaki terpilih sebagai Keluarga Zero Waste Terbaik Surabaya Eco School 2018. (*)

Penulis :  Wahyu Juli Astono

Penyunting: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *