SMP Al Falah Surabaya Mulai Olah Sampah Organik

SMP Al Falah Surabaya memulai pengolahan sampah organik di sekolah mereka hari ini, Kamis (25/4/2019). Komposter aerob dan lubang resapan biopori menjadi media pengolahan sampah organik yang akan mereka gunakan setiap harinya.

Komitmen ini diawali dengan Workshop Pengolahan Sampah bersama Tunas Hijau dalam rangka Hari Bumi yang digelar di sekolah mereka. Workshop ini diikuti oleh seluruh siswa dan guru sekolah yang berlokasi Jalan Darmokali 62 Surabaya. Jumlah pesertanya 30 orang.

Semua siswa dan guru SMP Al Falah Surabaya terlibat dalam aksi mengolah sampah organik

Kepala SMP Al Falah Surabaya Jusa Indrawan menyampaikan bahwa workshop ini untuk merealisasikan budaya lingkungan hidup kepada seluruh warga sekolahnya. “Kami akan memulai dengan meminimalkan produksi sampah non organik yang dihasilkan warga sekolah kami,” kata Jusa Indrawan.

Selama ini, menurut Jusa Indrawan, pengolahan sampah di sekolah, yang berada dalam yayasan yang sama dengan Masjid Al Falah Darmo Surabaya ini, hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya. 

“Mulai hari ini kami akan juga mengolah sampah organik yang dihasilkan di sekolah ini menjadi kompos dengan menggunakan komposter aerob dan lubang resapan biopori,” ujar Jusa Indrawan sambil mendampingi anak didiknya praktek penggunaan komposter aerob dan membuat lubang resapan biopori bersama Tunas Hijau.

Lubang resapan biopori dibuat di SMP Al Falah Surabaya dengan terlebih dahulu membuka paving block pada bagian atas permukaan tanah

Pada sesi dalam ruangan, sebelum praktek pengolahan sampah organik menjadi kompos itu, Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino berbagi dampak buruk dari sampah yang tidak diolah secara tuntas. “Selama ini banyak satwa yang menjadi korban dari tidak diolahnya sampah secara tuntas,” terang Bram sambil menunjukkan beberapa foto dan video yang membuktikannya.

Sementara itu, Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni banyak menjelaskan kisah sukses sekolah-sekolah di Surabaya yang berhasil mengolah sampah secara mandiri. “SMPN 11 Surabaya, misalnya. Sekolah ini layaknya produsen kompos dengan produksi lebih dari 6 ton kompos dalam satu semester. SMPN 11 juga sekolah zero waste karena tidak menghasilkan sampah non organik kemasan makanan/minuman sejak 2011,” jelas Zamroni.

Banyak juga sekolah di Surabaya, dijelaskan oleh Zamroni, yang bahkan sudah menjadikan sampah dan jelantah sebagai modal untuk memulai perusahaan siswa (student company) wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya. 

Lebih lanjut, Kepala SMP Al Falah Surabaya Jusa Indrawan juga menjelaskan rencananya membangun instalasi listrik tenaga surya. “Kami juga berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya secara bertahap dan berkelanjutan,” tambah Jusa.

“Diantaranya untuk energi listrik yang dibutuhkan hidroponik yang akan dikembangkan di sekolah ini,” terang Jusa Indrawan sambil mengamati instalasi pembangkit listrik tenaga surya pada mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB yang dihadirkan Tunas Hijau di SMP Al Falah Surabaya. (*)

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *