Yuli Astikasari, Sosok di Balik Layar Prestasi LH Arkensi

SDN Tanah Kalikedinding I Surabaya, atau akrab dengan panggilan Arkensi, banyak meraih penghargaan lingkungan hidup dalam beberapa tahun terakhir.

Diantaranya sebagai juara I Surabaya Eco School 2018, 5 besar Lomba Yel-Yel “Zero Waste” 2018, dan juara I Sekolah Adiwiyata Kota Surabaya 2018. Keluarga siswa sekolah ini juga berhasil meraih penghargaan 3 terbaik Keluarga Zero Waste 2018.

Ada sosok guru pembina lingkungan hidup yang sangat berperan dalam program lingkungan hidup berkelanjutan di sekolah yang berlokasi di Jalan Kalilom Lor Indah Surabaya. Yuli Astikasari, namanya. Selama ini dia banyak bertugas untuk penyiapan warga sekolah untuk setiap program lingkungan hidup yang dilaksanakan sekolahnya.

“Pengalaman terunik selama bergiat menangani lingkungan plus bersama Tunas Hijau tak bisa diuntai dengan kata-kata karena memang banyak uniknya dan bermanfaat,” kata guru yang tinggal di Jalan Kalilom Lor Gg Bubut 10 Surabaya ini.

Merealisasikan sekolah tanpa sampah non organik kemasan makanan/minuman sekali pakai, atau disebut dengan Sekolah Zero Waste, menjadi tantangan bagi Yuli. 

Yuli Astikasari bersama siswa SDN Tanah Kalikedinding I Surabaya dengan pembiasaan membawa tumbler pada setiap aktivitas

“Awalnya memulai zero waste Arkensi gampang-gampang susah. Harus niat ingsun. Gak boleh kendor dengan team work yang solid,” ujar Yuli Astikasari, yang lahir di Surabaya pada 23 Juni 1988 ini.

Penghargaan Sekolah Zero Waste 2018 telah disampaikan kepada 61 SD dan SMP Surabaya oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini sebagai bagian dari program Surabaya Eco School 2018.

Surabaya Eco School 2018 ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya, serta didukung oleh PT Dharma Lautan Utama, PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, Hotel Mercure Grand Mirama dan Hotel Ciputra World Surabaya.

Bagi Yuli dan tim lingkungan hidup SDN Tanah Kalikedinding I gak ada yang mustahil untuk diwujudkan. “Dengan jargon ‘Bismillah iso, Rek’ Arkensi membiasakan diri ber-zero waste dengan pembiasaan kecil namun bermakna. Yakni membawa tumbler dan tas ajaib kemanapun beraktifitas,” terang Yuli.

Pembiasaan membawa tumbler dan tas ajabi itu unik dan tidak semua orang bisa. Justru keunikan ini menimbulkan banyak pertanyaan kenapa kok mesti membawa tumbler dan tas.

“Dari pertanyaan banyak orang itu muncul jawaban yang secara langsung tanpa mereka sadari kita mengajak mereka ber-zero waste. Kalau sudah biasa uwenak,” jelas Yuli Astikasari.

Unik lagi, menurut Yuli, ketika bisa menyelesaikan tantangan-tantangan dari program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur dan Surabaya Eco School. “Tanpa disadari, merealisasikan challenge itu berarti bersama sekolah lainnya belajar betapa pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan,” kata Yuli.

Baginya, terlalu banyak buku yang akan bisa jadi berupa pengalaman kegiatan lingkungan hidup yang digelutinya bersama SDN Tanah Kalikedinding I dalam bebarapa tahun terakhir.

“Mulai dari pemilahan dan pengumpulan sampah sampai daur ulang tembus di bank sampah yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Ada juga pangeran putri lingkungan, yel-yel, grebek pasar, dan penghijauan.

Bagi Janny Mudjijanto, guru koordinator pembina lingkungan hidup SDN Tanah Kalikedinding I, sosok Yuli Astikasari awalnya dikenal sebagai perancang kostum daur ulang yel-yel lingkungan hidup.

“Yuli juga sangat membantu kegiatan eco school dan ecopreneur SDN Tanah Kalikedinding I. Kerja timnya bagus terutama pada guru-guru muda,” kata Janny.

Yuli Astikasari juga dianggap oleh Janny sebagai sosok pejuang lingkungan yang pantang menyerah. “Beliau adalah pelatih dan koordinator tim yel-yel yang selalu optimis dengan apa yang diupayakan di SDN Tanah Kalikedinding I. Melalui tangan dinginnya ia mampu mengubah syair yel-yel bertema lingkungan sehingga dapat membangkitkan semangat anak didiknya,” tambah Janny.

Janny juga menganggap Yuli sebagai sosok yang selalu memberikan motivasi pada tim kreatif untuk membuat baju daur ulang tim yel-yel sendiri. Mulai dari mendisain, sampai menjahit. “Inilah skill yang tidak dimiliki oleh banyak orang,” kata Janny Mudjijanto. 

Pernah saat akan latihan yel-yel Surabaya Eco School kurang beberapa hari, ada kabar putri Yuli Astikasari sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. “Semua teman menyarankan untuk libur dulu latihannya, tapi yang dilakukan beliau adalah anak-anak diminta untuk menunggu sampai beliau pulang dari rumah sakit, setelah itu latihan kembali dilakukan,” tutur Janny.

Penulis: Mochamad Zamroni

6 tanggapan untuk “Yuli Astikasari, Sosok di Balik Layar Prestasi LH Arkensi

  • Mei 4, 2019 pada 00:26
    Permalink

    Amazing…… My teacher, you are the best. Luar biasa teman, rekan, sahabat, saya yang satu ini. Punya keahlihan yang tidak medit (kikir) . Selalu carebpada siswa, membaca peluang yang ada dan senantiasa memberikan motivasi dalam berkarya. Semoga sehat selalu dan memberikan inspirasi bagi semua orang.

    Memang perjuangan butuh pengorbanan tapi dengan jorkan “Bismillah Arkensi Iso Rek” alhamdulillah semuanya lancar dan barokah.

    Sukses selalu untuk Bu Yuli Astika dan warga besar SDN Tanah Kalikeding I/251 Surabaya.

    Balas
    • Mei 4, 2019 pada 21:04
      Permalink

      👍👍👍👍👍

      Balas
  • Mei 4, 2019 pada 07:45
    Permalink

    Bu yuli memang siip dia bisa membuat anak anak beta dan nyaman belajar dengan nya dengan sosok nya yg ceria dan santun terhadap semuanya sehingga anak anak arkensi enjoy dan tdk merasa capek dan beban dengan segala kegiatan diskl sdn tanah kalikendinding 1 sby yang begitu banyak dan padatnya

    Balas
  • Mei 4, 2019 pada 08:53
    Permalink

    Bismillah arkensi iso rek..
    Sukses selalu bu yuli

    Balas
  • Mei 4, 2019 pada 21:00
    Permalink

    Bravo bu yuli..
    Arkensi iso rek👍👍👍

    Balas
  • Mei 6, 2019 pada 13:22
    Permalink

    Bu Yuli TOP banget

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *