Botol Bekas Pembayaran Suroboyo Bus Terjual 150 Juta

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bapekko) Surabaya Ery Cahyadi memaparkan hasil penjualan plastik Suroboyo Bus, Rabu (12/06/19). Sampai dengan bulan Januari 2019 botol tersebut terkumpul sebanyak 39 ton. Botol dijual secara lelang, dibuka mulai dari harga 86 juta dan telah laku 150 juta. 

”Botol tersebut sudah ditetapkan sebagai kekayaan daerah, maka secara otomatis botol yang terkumpul itu bisa dilaksanakan dengan cara dilelang. Karena kekayaan daerah, yang lelang bukan Pemkot Surabaya, tapi DJKN (Direktorat Jenderal Kekayaan negara),” ujar Ery Cahyadi. Hasil penjualan tersebut kemudian masuk dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya.

Ery menjelaskan ini adalah lelang pertama kali dari hasil pendapatan Suroboyo Bus. Alasannya, karena sebelumnya memang belum ditetapkan siapa yang berwenang untuk menangani ini. “Jadi kita simpan dulu di rumah-rumah kompos dan baru dilelang beberapa waktu lalu setelah semuanya clear,” ujar Ery yang juga plt kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya ini.

Hasil dari lelang Rp 150 juta itu, kemudian dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Dananya masuk ke APBD lalu dicampur. Masuk ke PAD retribusi, atau bisa masuk ke pajak Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau bisa masuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) masuk jadi satu. Setelah itu baru dibelanjakan,” jelas Ery Cahyadi.

Ia menilai jumlah bus sebanyak 20 unit itu terus mengalami perkembangan minat warga untuk menggunakan alat transportasi ini. Terhitung sejak awal bus tersebut beroperasi sampai pada tahun 2019, jumlah pemasukan botol sampah plastik terus meningkat. Artinya, semakin banyak minat warga yang menggunakan bus tersebut. 

Pemkot Surabaya akan terus mengupayakan pembayaran Suroboyo Bus menggunakan sampah botol plastik. Cara ini dinilai efektif untuk menangani dampak dari sampah plastik itu sendiri. “Mudah-mudahan masih terus berlaku. Karena botol bekas yang dilakukan untuk tiket bus tersebut digunakan sebagai percontohan sampai international,” terang Ery Cahyadi. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *