Deluang Sari, Tanjung Benoa, Delta Kecil Sejuta Kehidupan

Penyu, hewan bercangkang dan penjelajah samudera ini memiliki nilai khusus dalam peribadatan warga Bali. Penyu sebagai santapan wajib dalam upacara peribadatan Pura-Pura di Pulau Bali. Hal ini merupakan pemicu, pada 1990-an penyu hijau ini sudah hampir mencapai kepunahan di Bali.

Akibatnya, populasi penyu mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan nyaris punah. Pemerintah kemudian membuat larangan penangkapan dan jual beli penyu dengan alasan apapun. Kalau itu untuk ritual di Pura, hanya diperkenankan untuk pura besar saja dan ritual keagamaan yang bersifat besar, dan hanya satu ekor saja yang kecil.

Sekitar 100 penyu hijau dipelihara di Deluang Sari, Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali

Tak perlu menunggu aturan itu dibuat, masyarakat Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, sudah melakukan aksi melakukan konservasi penyu. Kebetulan di area mereka ini, ada sebuah daratan timbul berupa hamparan pasir yang dikelilingi oleh rawa-rawa.

Saat air pasang, daratan ini tertutup oleh air laut. Dipilihlah tempat ini sebagai lokasi penangkaran yang sesuai, karena penyu perlu air laut untuk habitat hidupnya. Deluang Sari, delta di Tanjung Benoa, dikenal dengan salah satu tempat penangkaran yang kental nuansa alaminya

Penyu hijau di lokasi ini populasinya semakin meningkat. Pada saat musim kawin, telur-telur yg ada diselamatkan oleh warga dan ditetaskan. Tukik, sebutan untuk anak penyu, oleh masyarakat setempat dilepas ke laut bebas.

Sisanya dipelihara untuk dibesarkan kembali. Sebab jika penyu-penyu kecil dilepas semuanya, kemungkinan akan mati dimangsa predator lain di alam bebas sana. Nanti di saat sudah mulai besar,  sisanya tersebut yang masih hidup akan dilepas kembali ke laut bebas. 

Ular, iguana, kelelawar dan burung bisa didapati di Deluang Sari

Di dalam konservasi penyu ini, kami dapat berfoto dengan ular, tenang saja mulutnya sudah ditutup dengan isolasi jadi tidak membahayakan. Foto dengan burung, kelelawar, dan iguana juga dilakukan. Momen lucu pun terjadi disini, banyak yang berfoto dengan wajah ketakutan. 

Saat kembali ke Tanjung Benoa dari Deluang Sari, tempat penangkaran penyu, Jumat (5/7/2019), rombongan Tunas Hijau mendapatkan pengalaman mendorong kapal motor yang sebelumnya digunakan karena kondisi pantai yang surut. 

Umumnya satwa yang dirawat di Deluang Sari adalah satwa yang sebelumnya sakit

Semua anggota rombongan berjalan cukup jauh, menyusuri pantai, menuju kapal, akibat air laut yang mulai surut. Setelah naik kapal motor juga terpaksa harus turun lagi sambil mendorong kapal sampai motor bisa dinyalakan dan berfungsi dengan baik. Akhirnya banyak sandal teman-teman yang putus, dan keseruan lainnya. 

Penulis: Erni Dwi Suryaningtyas (SDN Kaliasin I Surabaya), Cendra Ratusunset (SMPN 26 Surabaya)

Penyunting: Mochamad Zamroni

9 tanggapan untuk “Deluang Sari, Tanjung Benoa, Delta Kecil Sejuta Kehidupan

  • Juli 10, 2019 pada 5:04 am
    Permalink

    Pejuang Lingkungan Kota Surabaya , Duta Wisata Lingkungan Surabaya Pulau Dewata Bali. Peduli dan siap untuk turut melestarikan penyu juga binatang lainnya yang sudah hampir punah.

    Paling tidak dengan menjaga habitat mereka utamanya dari sampah plastik yang berbahaya bagi mereka.
    Jangan biarkan laut banyak dengan sampah plastik.

    Balas
    • Juli 18, 2019 pada 4:36 pm
      Permalink

      Semoga Pangput LH 2018 tetap bisa melestarikan penyu,menjaga habitatnya,dan tetap menjaga laut agar tidak tercemar.

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 7:29 pm
    Permalink

    Penyu memiliki nilai khusus dalam peribadatan warga Bali. Penyu sebagai santapan wajib dalam upacara peribadatan Pura-Pura di Bali. Hal ini menjadi pemicu penyu hijau ini sudah hampir mencapai kepunahan di Bali.
    Pemerintah kemudian membuat larangan penangkapan dan jual beli dengan alasan apapun. Kalau untuk ritual Pura, diperkenankan hanya untuk Pura besar saja atau acara keagamaan besar yang lain. Itupun cuma satu ekor penyu yang kecil.
    Tak perlu menunggu aturan itu dibuat, masyarakat Tanjung Benua sudah melakukan aksi konservasi penyu.
    Deluang Sari, Delta di Tanjung Benua dikenal dengan salah satu tempat penangkaran yang kental nuansa alaminya. Penyu hijau di lokasi ini populasinya semakin meningkat, sebagian dilepas ke laut lepas dan sisanya dipelihara untuk dibesarkan kembali.
    Dalam konservasi ini, dapat berfoto dengan ular, iguana, kekelawar, dan burung.
    Ayo kita menjaga habitat mereka agar mereka tidak punah.

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 7:49 pm
    Permalink

    Menjaga habitat mereka, melestarikan mereka, sangat penting untung mencegah kepunahan mereka. Mungkin tak terasa, tapi kalau ada spesies yang hilang meski satu saja, maka akan mengganggu ekosistem. Kita tidak mau hal itu terjadi kepada teman kecil nan lucu kita kan?

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 7:55 pm
    Permalink

    Penyu memiliki nilai khusus dalam peribadatan warga Bali. Penyu sebagai santapan wajib dalam upacara peribadatan Pura-Pura di Bali. Hali ini menjadi pemicu penyu hijau ini sudah hampir mencapai kepunahan di Bali.
    Pemerintah kemudian membuat larangan penangkapan dan jual beli dengan alasan apapun. Kalau untuk ritual Pura, diperkenankan hanya untuk Pura besar saja atau acara keagamaan besar yang lain. Itupun cuma satu ekor penyu yang kecil.
    Tak perlu menunggu aturan itu dibuat, masyarakat Tanjung Benua sudah melakukan aksi konservasi penyu.
    Deluang Sari, Delta di Tanjung Benua dikenal dengan salah satu tempat penangkaran yang kental nuansa alaminya. Penyu hijau di lokasi ini populasinya semakin meningkat, sebagian dilepas ke laut lepas dan sisanya dipelihara untuk dibesarkan kembali.
    Dalam konservasi ini, dapat berfoto dengan ular, iguana, kekelawar, dan burung.
    Ayo kita menjaga habitat mereka agar mereka terhindar dari kepunahan.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 6:49 am
    Permalink

    menjaga habitat penyu dan melestarikan penyu sangat penting untuk menjaga habita nya. karena penyu sudah ada di bumi ini dari ribuan lalu .

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 8:16 am
    Permalink

    Sangat sedih mendengar jika populasi penyu saat ini semakin menurun, untung saja banyak tempat-tempat penangkaran dan pembudidayaan hewan langkah di Indonesia yang diharapkan dapat membantu meningkatkan populasi hewan yang punah agar tetap lestari. Tapi perlu diingkat bahwa kita juga harus mendukung dan menjaga hewan langkah agar tidak punah. Salam Lestari.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 2:24 pm
    Permalink

    Melestarikan dan menjaga penyu itu adalah hal yang baik. Karena populasi penyu berkurang jadi kita lestarikan budaya untuk menjaga dan melestarikan penyu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *