Penangkaran Penyu dan Garuda Wisnu Kencana, Hari I di Pulau Dewata

Hari ini, Jumat (5/7/2019), menjadi hari pertama bagi paguyuban pangeran dan putri lingkungan hidup bersama siswa dan guru berprestasi lingkungan hidup Kota Surabaya mengunjungi Pulau
“Dewata” Bali. Total ada 34 orang yang tergabung dalam rombongan kali ini, jumlah yang lebih besar dari kunjungan belajar dua tahun lalu.

Rombongan Tunas Hijau ini meninggalkan Bandara Udara Juanda dengan penerbangan Sriwijaya Air flight SJ106 pukul 10 pagi. Sesampainya di salah satu “surga”nya Indonesia, yaitu Pulau Bali, rombongan langsung menuju ke masjid di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Provinsi Bali untuk melaksanakan sholat duhur. 

Deluang Sari, delta di Tanjung Benoa Bali ini sangat recommended untuk wisata alam

Pasalnya, sesampainya rombongan di masjid itu, jamaah sholat jumat sudah pada meninggalkan masjid. Pertanda bahwa sholat jumat berjamaah sudah selesai. Maka, rombongan Tunas HIjau pun memutuskan untuk sholat duhur berjamaah.

Yang patut dikagumi di masjid di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai itu adalah masjid yang berdampingan dengan 2 tempat ibadah yaitu gereja dan pura. Ini menunjukkan kalau toleransi sangat kuat di Indonesia, khususnya di Pulau Bali ini. Di depan 3 tempat ibadah itu, di taman hijau seberang jalan, ada patung berukuran besar Ksatria Gatotkaca yang gagah nan berani.

Rombongan Tunas Hijau melanjutkan perjalanan untuk makan siang. Menu makan siang hari ini adalah bebek betutu, khas dari Bali. Setelah mengisi perut, rombongan melanjutkan perjalanan ke Tanjung Benoa, tepatnya di salah satu deltanya yang digunakan untuk penangkaran penyu laut, yaitu Deluang Sari. 

Di Deluang Sari, Tanjung Benoa, Bali, berinteraksi dengan penyu di habitat seperti aslinya menjadi pengalaman yang unik

Di Deluang Sari, sekitar 100 penyu bisa ditemui. Tapi selain penyu ada juga satwa lainnya. Diantaranya ular, burung dan iguana. Kata petugas disana, penyu di Deluang Sari ini ada yang berumur 70 Tahun. Banyak penyu disana di ambil dari telur yang ditemukan di pantai sekitar lalu dikembangbiakkan di sana. 

Setelah dari Deluang Sari, Tanjung Benoa, Bali, rombongan Tunas Hijau melanjutkan perjalanan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). Mengingat waktu sampainya rombongan di GWK sudah lebih dari 18.00 alhasil rombongan tidak diperkenankan memasuki salah satu gedung/patung tertinggi di dunia itu.

Rombongan Tunas Hijau hanya bisa menikmati Garuda Wisnu Kencana dari kejauhan sambil menyaksikan pertunjukan langsung tarian Kecak. Tarian Kecak dipenuhi aksi dan atraksi yang epik. Juga unsur kocak yang mengundang tawa. 

Tarian Kecak menjadi pertunjukan yang bisa dinikmati rombongan Tunas Hijau setelah gagal memasuki Garuda Wisnu Kencana yang tutup pukul 18.00 WITA

Setelah GWK, rombongan Tunas Hijau melanjutkan perjalanan ke Pantai Jimbaran untuk mengembalikan energi kita yang hilang seharian, makan malam. Makan malam di pinggir pantai serasa dikipasin sama malaikat, semliwir. 

Suasana summer night sangat terasa. Deburan ombak yang memecahkan hening, warna alami ombak yang menepi laksana pencahayaan alami, ya begitulah. Menu makan malam yang dihadirkan tentuntan yang berkaitan dengan makanan laut (seafood), yaitu udang, ikan kerapu, cumi dan kerang.

Rombongan sampai di Pantai Jimbaran itu sekitar pukul 19.30 WITA. Makan malam selesai dilakukan sekitar 21.00 WITA dilanjutkan perjalanan menuju ke Hotel Best Western, sekitar Pantai Kuta, Kabupaten Badung. Butuh waktu lebih dari sejam untuk perjalanan dari Pantai Jimbaran ke hotel tempat menginap selama di Bali.

Rombongan Tunas Hijau di depan (jarak ratusan meter) dari Garuda Wisnu Kencana

Penulis: M Nouval Zidan

Penyunting: Mochamad Zamroni

67 tanggapan untuk “Penangkaran Penyu dan Garuda Wisnu Kencana, Hari I di Pulau Dewata

  • Juli 12, 2019 pada 4:05 pm
    Permalink

    Saya kagum saat mengunjungi tempat penangkaran penyu di Tanjung Benoa Bali, saya bisa mengenal dan melihat langsung hewan langka yang memang tidak biasa saya temui. Hewan yang seharusnya punah, tapi karena di rawat dan di pelihara dengan baik. Maka hewan-hewan itu masih ada dan hidup sampai sekarang

    Balas
    • Juli 17, 2019 pada 7:24 pm
      Permalink

      Saya sangat kagum dengan adanya 3 tempat ibadah yang saling berdekatan dan berbeda agama yaitu masjid,gereja,dan pura itu artinya antara agama islam,kristen,maupun hindu memiliki sikap toleransi yang sangat tinggi.

      Dan saya setuju juga dengan penangkaran hewan penyu selain tidak menjadi punah telur-telur penyu juga tidak akan terdampar di laut dan alangkah baiknya dikembang biakkan di penangkaran

      Balas
      • Juli 18, 2019 pada 4:28 pm
        Permalink

        Senang sekali bisa mengunjungi tempat wisata dibalik. Semoga ilmu yang sudah didapatkan selama dibali dapat digunakan dengan baik.

        Balas
        • Juli 19, 2019 pada 2:50 pm
          Permalink

          Semoga dengan kegiatan tersebut dapat melestarikan alam Indonesia

          Balas
      • Juli 19, 2019 pada 12:15 pm
        Permalink

        Saya Sangat kagum karna adanya toleransi sesama makhluk hidup melestarikan penyu yang hampir punah tetapi masih dijaga dengan baik dan sehat sebaiknya jika mengajak orang orang lain agar menjaga hewan yang hampir punah dengan menggunakan poster yang mengajak niat baik

        Balas
      • Juli 19, 2019 pada 3:17 pm
        Permalink

        Kagum sekali dengan pulau dewata. Dimana ada 3 tempat ibadah berbeda yg berjejeran. hewan disana jg banyak yg langka. Dimana kita bisa mempelajari hewan yg hampir punah.
        Nama: Naylah Shafa Saviola
        Asal sekolah: SDN Wonokusumo V/44 Sby
        No. Wa: 082233124168
        Instagram:
        naylahshafasaviola
        fristkarheny

        Balas
    • Juli 19, 2019 pada 4:31 pm
      Permalink

      Kita memang harus belajar untuk menghargai hidup hewan

      Balas
  • Juli 16, 2019 pada 12:45 pm
    Permalink

    Saya mendukung dengan adanya penangkaran penyu agar penyu tidak punah.Lestarikan terus jangan di ambil atau pun di jual.

    Balas
    • Juli 19, 2019 pada 3:12 pm
      Permalink

      Wisata lingkungan kali ini sangat seru . Salah satu peserta tahun ini ada mas ghazi finalis pangput 2018 perwakilan dr sdn manukan kulon 2 surabaya.

      Balas
  • Juli 17, 2019 pada 7:00 pm
    Permalink

    Ikut bangga kepada Duta Lingkungan Wisata Belajar. Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat bermanfaat, diterapkan di Surabaya. Tetap semangat menjaga lingkungan.
    Salam Bumi!!! Pasti Lestari!!!

    Balas
    • Juli 18, 2019 pada 1:33 pm
      Permalink

      Saya sangat takjub dengan Garuda Wisnu Kencana

      Balas
    • Juli 19, 2019 pada 8:43 am
      Permalink

      Saya bangga dan takjub oleh keindahan yg dimiliki oleh Garuda Wisnu kencana

      Balas
      • Juli 19, 2019 pada 3:15 pm
        Permalink

        Lanjut terus wisata lingkungannya . Selain bisa menambah wawasan lingkungan lebih banyak kita juga dpt ilmu baru disana. Hal tersebut di ceritakan mas ghazi salah satu perserta di wisata lingkungan trsebut

        Balas
      • Juli 19, 2019 pada 4:33 pm
        Permalink

        Kegiatan yg baik dan bagus untuk melestarikan penyu dari kepunahan sehingga bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya.

        Balas
  • Juli 18, 2019 pada 6:45 am
    Permalink

    Sangat takjub sekali dengan Garuda Wisnu Kencana.
    Setelah bertahun tahun dan pemasangannya melibatkan 1000 pekerja,akhirnya patung ini bisa berdiri tegak disana.
    Galang Satriyo Utomo
    SDN Bubutan IV Surabaya

    Balas
    • Juli 18, 2019 pada 8:11 pm
      Permalink

      Saya bangga menjadi warga Kota Surabaya bisa membawa nama baik Kota Surabaya sampai ke Bali, mereka bisa melihat 100 penyu bisa ditemui, selain itu penyu ada juga satwa lainnya. Berbagai jenis satwa yang ada disana seperti ular, burung dan iguana. Yang bikin kaget ada penyu di Deluang Sari ini ada yang berumur 70 Tahun, wah itu sangat hebat dan masih banyak penyu yang di temukan di sana dan mereka ambil telurnya untuk di kembangbiakan lagi.

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 11:33 am
    Permalink

    Wawasan ttg pelestarian hewan,terutama penyu harus lebih disebarluaskan kpd masyarakat,sebab hewan laut spt penyu sangat rentan predator apalagi waktu masih kecil,dari 3 ekor penyu hanya 1 yg berhasil tumbuh sampai dewasa

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 1:02 pm
    Permalink

    Saya sangat kagum dengan tempat penangkaran penyu yang ada di Tanjung Benua Bali

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 4:02 pm
    Permalink

    Saya suka dengan yang nama nya “toleransi” ini. Sungguh luar biasa. Selain itu, keindahan pulau dewata yg begitu memukau juga selalu memikat hati, dan bahwa kita patut syukuri karena semua nya adalah anugrah dri Yang Maha Kuasa…
    I gede ivan as
    Smpn 8 sby

    Balas
    • Juli 19, 2019 pada 5:47 pm
      Permalink

      Saya sangat setuju sekali dan mendukung kegiatan penangkaran hewan penyu ….agar tidak menjadi punah dan untuk kelestarian lingkungan

      Balas
    • Juli 19, 2019 pada 6:51 pm
      Permalink

      Saya sangat kagum dengan pulau Dewata.
      Karena kegiatan ini dapat melestarikan penyu agar tidak punah.
      Juga agar hewan2 langkah yg diIndonesia tidak punah
      Nama :Dinda Maidina
      Asal sekolah :SDN Wonokusumo V/44
      No WA: 083854716141
      Akun Instagram :DindaMaidina
      Akun Instagram :firstkarheny

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 4:24 pm
    Permalink

    Kunjungan yang menyenangkan sekali, kalau seandainya di Surabaya dimana ya kita bisa melihat tempat penangkaran penyu seperti yang ada di Deluang Sari Bali? Penyu yang bisa berumur hingga puluhan tahun.

    Balas
    • Juli 18, 2019 pada 5:45 pm
      Permalink

      Saya sangat kagum dan bangga dengan Indonesia salah satunya pulau Bali, kagum dengan masjid yang berdampingan dengan 2 tempat ibadah sekaligus yaitu gereja dan pura.dengan adanya ini Indonesia merupakan negara dengan sikap toleransi yang tinggi. Selain itu, saya juga sangat setuju dengan penangkaran penyu laut,yang tepatnya di Tanjung Benoa.dengan adanya penangkaran ini, hewan ( penyu,ular,burung,iguana dll) dapat berkembangbiak dengan baik.
      Saya ikut bangga karna pulau Bali masih menggenggam erat budayanya dan memperkenalkan tari kecak kepada masyarakat luar
      Karna melihat seiring berjalannya waktu, budaya Indonesia mulai tergerus dengan budaya luar.
      #Take Care The Earth
      #Lestarikan budaya Indonesia
      Miftachul Choirunnisa
      Smp negeri 60 Surabaya

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 4:29 pm
    Permalink

    Garuda wisnu kencana daerah bukit kapur yang diubah menjadi objek wisata yang khas dan hanya ada di Bali. Objek wisata yang memuat konsep religi dan kepercayaan masyarakat yang ada di Bali. Luar biasa, selamat ya kepada teman-teman yang sudah mendapatkan kesempatan untuk pergi ke sana.

    Balas
    • Juli 19, 2019 pada 12:42 pm
      Permalink

      Senang sekali dengan adanya penangkaran tersebut,sehingga penyu tidak punah .VAMSA MAHAD VIVASUAT SDN MARGOREJO I

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 4:31 pm
    Permalink

    Bali memang selalu menarik untuk dikunjungi, apakah untuk sekedar wisata maupun belajar. Bali is wonderful.

    Balas
    • Juli 18, 2019 pada 7:25 pm
      Permalink

      Senangnya rombongan tunas hijau yang bisa jalan jalan kesana melihat penangkaran penyu. Semoga penangkaran penyu tetap dilestarikan.
      Toleransi antar umat beragama disekitar Bandara juga sangat Baik.

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 4:32 pm
    Permalink

    tempat yang mengagumkan dan menarik perhatian orang, dan terdapat hewan2 langka yang masih dilindungi dan dilestarikan, wawasan pelestarian tersebut sngat lebar, benar benar kagum melihatnya

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 5:40 pm
    Permalink

    Saya medukung untuk kegaiatan ini agar hewan hewan ini dilestarikan bukan dijual maupun dibunuh untuk mengambil keuntungan tersendiri

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 5:51 pm
    Permalink

    Nama: Muh. Fahrezi Erdya Putranta
    Asal Sekolah: SMPN 61 Surabaya

    Saya suka dengan hewan yang satu ini, karena mereka sudah hidup ribuan tahun lalu. Maka dari itu, Terima kasih kepada mereka yang telah berupaya menyelamatkan penyu-penyu ini dari ambang kepunahan. Keep going.

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 6:00 pm
    Permalink

    Terus semangat buat Duta wisata belajar yg telah berkunjung di penangkaran penyu di Tanjung Benoa Bali. Semoga dg perjalanan ini mereka bisa mengajarkan pada teman-teman yg lain betapa pentingnya menjaga kelestarian hewan yg hampir punah.

    Balas
    • Juli 18, 2019 pada 9:08 pm
      Permalink

      Wah penangkaran penyu itu sangat membantu hewan penyu untuk berkembang lebih banyak lagi. Dan semoga toleransi umat beragama di Indonesia ini lebih baik. Saya berharap agar banyak warga yang sadar bahwa hewan hewan tersebut di rawat dan lebih dilestarikan lagi bukan malah di perjual belikan.
      Najwa Aulia Andin
      SMPN 37 Surabaya

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 6:57 pm
    Permalink

    kagum sekali dengan tempat ini, karena disana terdapat tempat penangkaran2 hewan2 langka yang memang seharusnya dilindungi dan dilestarikan, smoga dengan adanya penangkaran tersebut hewan2 akan menjadi lebih baik dan tidak hanya itu garuda wisnu kencana sangatlah baik untuk wisata para turis dan orang2 yang ingin mengunjungi tempat tersebut

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 7:09 pm
    Permalink

    Saya sangat kagum dengan Bali. Masjid disekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai berdampingan dengan dua tempat ibadah yaitu gereja dan pura. Toleransi di Indonesia sangat kuat. Di Deluang Sari, sekitar 100 penyu bisa kita temui. Ada juga satwa lainnya yaitu ular, burung, dan iguana. Tarian Kecak juga bisa dinikmati di Garuda Wisnu Kencana. Kita patut bersyukur atas anugrah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

    Balas
    • Juli 19, 2019 pada 4:27 pm
      Permalink

      Kegiatan yang sangat Positif. Kita memang harus belajar untuk menghargai hak hidup hewan . Salah satunya dengan memperbanyak mengetahui informasi seperti ini

      Balas
  • Juli 18, 2019 pada 8:54 pm
    Permalink

    Dengan diadakan Penangkaran hewan seperti ini, hewan hewan dapat dilestarikan dengan baik dan terjaga

    Balas
  • Juli 18, 2019 pada 9:54 pm
    Permalink

    Saya sangat suka dengan ada nya penangkaran penyu yang ada didaerah bali,agar satwa penyu atau habitat penyu tidak dirusak atau diburu oleh orang orang yg tidak bertanggung jawab,dan penangkaran penyu bisa digunakan untuk sarana atau pembelajaran agar lebih tau satwa penyu

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:06 am
    Permalink

    Selamat untuk para Duta Lingkungan SD dan SMP yang mengunjungi tempat wisata Penangkaran Penyu dan Garuda Kencana di Pulau Dewata, Bali. Semoga bisa memberikan semangat untuk tetap peduli dengan lingkungan.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:13 am
    Permalink

    bali adalah salah satu tempat destinasi favorit saya dan menjadi pengalaman tak terlupakan ketika saya berada di tanjung benoa, disana banyak penyu yang bagus dan terawat semoga upaya pelestarian ini berdampak baik untuk penyu dan bagi generasi selanjutnya

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:32 am
    Permalink

    Berwisata sambil belajar tentu sangat menyenangkan. Itulah yang ditawarkan oleh wisata Pulau Penyu Tanjung Benoa. Selain bisa belajar, pengunjung juga bisa ikut refreshing sambil bermain. Dengan suasana seperti itu, tidak mengherankan kalau Pulau Penyu jadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal ataupun mancanegara seperti yang dilakukan oleh para Duta Lingkungan SD dan SMP beserta Tunas Hijau.

    Semoga kunjungan ini bisa menginspirasi.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:42 am
    Permalink

    Tanjung Benoa merupakan tempat wisata di Bali yang terkenal akan pantainya. Tempat ini juga merupakan surganya wahana air seperti banana boat, scuba diving, parasailing, rolling donut, seawalker, flying fish, snorkeling dll. Selain itu, terdapat pelayaran menuju Pulau Penyu tempat hidup dan penangkaran seekor kura-kura, ular, jalak bali, dan sebagainya. Sehingga tidak salah kalau Tanjung Benoa dikenal sebagai pusat wisata bahari di Bali.

    Kunjungan para duta lingkungan SD dan SMP ke Tanjung Benoa semoga mampu memberikan semangat untuk lebih peduli dengan lingkungan.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:51 am
    Permalink

    Saya dari SMP negeri 16, saya sangat kagum dengan kegiatan ini. Dan juga sangat senang masih banyak penangkaran penyu dan mungkin penangkaran hewan yang di lindungi lainnya. Semoga kegiatan ini membantu populasi penyu agar tidak sampai punah

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:55 am
    Permalink

    Pengalaman yang berharga dapat mengunjungi tempat-tempat indah di pulau bali, tidak hanya berwisata tapi juga menambah ilmu

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 9:30 am
    Permalink

    Ramadhanie Barista Setyonie:
    Salut dan sangat mengispirasi sekali tempat ini, disana terdapat tempat penangkaran hewan-hewan langka yang memang seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia untuk melindungi dan melestarikanya.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 9:52 am
    Permalink

    Penyu harus dilestarikan di Indonesia

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 10:43 am
    Permalink

    penyu harus dilestarikan di bumi Indonesia, karena keberadaannya mulai berkurang

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 11:35 am
    Permalink

    Naufal reyhan smpn 16 SBY
    Penangkaran yang epic

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 11:53 am
    Permalink

    saya jadi kepingin ikut selain berwisata juga mendapatkan ilmu
    nama : sabrina syahla gadis
    asal sekolah : sdn kertajaya

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 12:09 pm
    Permalink

    Tanjung Benoa…
    Masyarakat di Bali ..terkenal dengan masyarakat nya yg teramat menjaga dan peduli lingkungan hidup disekitarnya.
    Ini dibuktikan dengan lingkungan yg indah dan asri….
    Sedangkan ttg wisata penyu Tanjung Benoa… sangatlah unik ..
    Karena disana ada semacam penangkaran… khusus penyu…yg dihabitat nya sendiri hrs dijaga keberlangsungan hidupnya…
    Penyu 2 ini . disini ..dirawat mulai dr telur’…anak an..juga penyu dewasa’…ada semuanya..
    Jadi semacam wisata edukasi ..bagi para wisatawan yg berkunjung kemari…
    Braavooo

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 1:23 pm
    Permalink

    Toleransi antar umat beragama di Bali sangat mengagumkan mereka sangat menghargai antar pemeluk agama , dan penangkaran Penyu ditanjung Benoa perlu kita dukung agar Penyu tidak punah. Dan kita sebagai generasi muda wajib mempunyai kesadaran dalam pelestarian hewan.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 1:29 pm
    Permalink

    Langkah yang sangat luar biasa dalam pelestarian penyu agar tidak punah dan tetap lestari!

    Semoga segera diikuti oleh daerah- daerah yang lain, dan semakin banyak orang- orang yang peduli terhadap kelestarian alam dan makhluk hidup di sekitar kita!

    SALAM LESTARI!

    TRI AZIZAH
    SDN TAMBAKSARI III/159 SURABAYA

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 1:41 pm
    Permalink

    Nama : Hisyam Ar Zhafin
    Sekolah : SDN kapasari VIII
    Nama IG : hisyamzhafin
    Nama IG lain : marianamasita dan Enytyass

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 3:36 pm
    Permalink

    Semoga penangkaran di GWK ini bisa lebih dikembangkan dan diadakan di daerah lain. Sehingga bisa melestarikan hewan langka.

    Balas
    • Juli 19, 2019 pada 7:15 pm
      Permalink

      Viola Aura Casandra Putri (SDN Tembok Dukuh)
      Saya sangat kagum dengan garuda wisnu kencana

      Balas
  • Juli 19, 2019 pada 6:05 pm
    Permalink

    Semoga kura kura nya senang dan semoga penangkarannya bisa lebih maju

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:00 pm
    Permalink

    Hal ini sangat menarin wisatawan lokal maupun non lokal

    Viveria Vlafina R
    SMPN 5 Surabaya

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:00 pm
    Permalink

    Julita Puji Safitri (SDN TEMBOK DUKUH)
    Ikut bangga kepada Duta Lingkungan Wisata Belajar. Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat bermanfaat, diterapkan di Surabaya. Tetap semangat menjaga lingkungan.
    Salam Bumi!!! Pasti Lestari!!!

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:02 pm
    Permalink

    Julita Puji Safitri (SDN TEMBOK DUKUH)
    Ikut bangga kepada Duta Lingkungan Wisata Belajar.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:11 pm
    Permalink

    Viola Aura Casandra Putri (SDN Tembok Dukuh).
    Saya Sangat kagum karna adanya toleransi sesama makhluk hidup melestarikan penyu yang hampir punah tetapi masih dijaga dengan baik dan sehat sebaiknya jika mengajak orang orang lain agar menjaga hewan yang hampir punah dengan menggunakan poster yang mengajak niat baik

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:13 pm
    Permalink

    Viola Aura Casandra Putri (SDN Tembok Dukuh)
    Semoga penangkaran di GWK ini bisa lebih dikembangkan dan diadakan di daerah lain. Sehingga bisa melestarikan hewan langka.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:15 pm
    Permalink

    Julita puji safitri(SDN Tembok dukuh)
    Saya mendukung dengan adanya penangkaran penyu agar penyu tidak punah.Lestarikan terus jangan di ambil atau pun di jual.

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:44 pm
    Permalink

    Dan kita sebagai generasi muda wajib mempunyai kesadaran dalam pelestarian hewan.
    Nama: laila nikmatus zahra
    Sekolah: smpn 23 surabaya

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 7:55 pm
    Permalink

    Bukti nyata kalau toleransi antar agama di Indonesia terikat kuat

    Balas
  • Juli 19, 2019 pada 8:03 pm
    Permalink

    Penyu di Indonesia tergolong hewan yang langka. Oleh sebab itu jaga dan rawat seperti menyayangi diri kita. Menyadarkan masyarakat memang sulit,tapi jika ada itikad baik dari diri kita maka orang lain juga akan bisa mengikuti nya.
    Salam Bumi. Lestari.

    1.Chiquita zora aurelia
    2.safina altafunisa
    SDN Pagesangan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *