Technical Meeting Lomba Hidroponik SD Surabaya 2019

Lomba Hidroponik SD Surabaya kembali akan digelar pada tahun 2019 ini. Seperti halnya ada pelaksanaan tahun 2018 lalu, pelaksanaan lomba tahun ini juga akan dimulai pada 1 Agustus 2019. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya bersama Tunas Hijau.

Technical meeting (TM) atau pertemuan teknis lomba ini dilaksanakan di aula Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Jumat (26/7/2019). TM ini dilaksanakan dengan dua sesi, karena lebih dari 300 orang kepala sekolah/guru koordinator yang mewakili.  

Dipandu oleh Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino, TM ini menjelaskan secara detil teknis dari lomba yang akan digelar. “Ada perbedaan jumlah lubang tanam minimal dari pelaksanaan tahun 2018 lalu yang minimal 50 lubang. Pada tahun 2019 ini jumlah lubang tanam hidroponiknya adalah minimal 75 lubang,” kata Bram Azzaino.

Sekolah peserta Lomba Hidroponik SD Surabaya 2019 diminta segera membentuk tim hidroponik sekolah

Ditambahkan oleh Bram Azzaino bahwa ada jenis sistem hidroponik yang harus dibuat oleh masing-masing sekolah. “Ada dua sistem yang dibuat seperti tahun lalu, yaitu sistem wick atau sumbu, dan sistem NFT. Wick atau sumbu lebih dikenal dengan air yang diam atau tidak mengalir. Sedangkan pada NFT airnya mengalir,” jelas Bram.

Semua SD negeri Surabaya diharuskan mengikuti lomba ini. “Bagi swasta, keikutsertaan pada lomba ini tidak harus. Hanya sekolah swasta yang masih memiliki ijin operasional sekolah yang masih aktif yang bisa mengikuti lomba ini,” tambah Bram Azzaino, yang juga penanggung jawab Lomba Hidroponik SD Surabaya 2019 ini dari Tunas Hijau.

Sekolah peserta lomba ini diminta segera membuat tim hidroponik sekolah (THS). THS harus terdiri dari guru dan siswa. “Tim hidroponik sekolah juga bisa melibatkan karyawan dan/atau orang tua,” ujar Bram Azzaino, lulusan S1 Teknik Lingkungan ITS Surabaya ini. Semua guru, karyawan, dan orang tua yang terlibat bertugas sebagai pendamping.

Ada 3 divisi yang digunakan pada lomba ini, yaitu divisi perawatan, divisi edukasi dan divisi promosi. “Semua divisi itu dipimpin atau diketuai oleh siswa. Anggotanya juga siswa semua. Guru, karyawan dan/atau orang tua adalah pendamping saja,” terang Bram Azzaino.

Tim hidroponik sekolah terdiri dari  minimal 15 anggota yang merupakan siswa/siswi aktif dan minimal 5 orang pendamping. “THS harus disahkan oleh kepala sekolah melalui surat keputusan. Harus diprint, ditandatangani dan distempel sekolah juga,” jelas Bram Azzaino.

Penulis: Masyithoh Nur, Jodi Daniel

Penyunting: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *