Hindari Penggunaan Alat Masak Berbahan Aluminium

Keceriaan siswa-siswi SMP se Kota Surabayamewarnai SMPN 5 Surabaya, Sabtu (3/8/2019).Lebih dari 100 orang siswa tersebut merupakan peserta Kemah Hijau Surabaya yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya. Tunas Hijau, Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya menjadi pemateri dan pemandu kegiatan yang digelar 2 hari dan 1 malam ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Eko Agus Supiadi Sapoetro dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa melalui kemah ini seluruh peserta akan disiapkan menjadi kader lingkungan. “Kader lingkungan hidup yang dimaksud adalah yang mampu memberikan keteladanan dalam bertingkah laku,” kata Eko Agus Supiadi Sapoetro.

Perilaku meminimalkan produksi sampah non organik, khususnya sampah plastik dan sterofoam, akan diterapkan dalam perkemahan ini. “Melalui Kemah Hijau Surabaya 2019 ini, peserta diajak menerapkan zero waste dengan tidak lagi menghasilkan sampah non organik kemasan makanan minuman sekali pakai,” terang Eko Agus Supiadi.

Pada sesi penerapan kantin sehat oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, peserta diajak jeli terhadap penggunaan alat masak di rumah dan kantin sekolah. “Hindari penggunaan alat masak berbahan aluminium karena mudah terlarut dalam makanan yang dimasak. Gunakan alat masak berbahan stainless steel yang lebih aman,” terang Muklas, pemateri dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Tidak semua makanan yang disajikan di sekolah merupakan makanan yang sehat dan higienis. “Meskipun makanan itu terlihat lezat dan sehat, namun kondisi penyiapan yang tidak bersih dan higienis dapat merusak kualitas makanan dan akhirnya membawa resiko kesehatan bagi warga sekolah,” jelas Muklas. 

Peserta juga diajak menelusuri asal-usul air minum isi ulang yang disediakan oleh sekolah maupun penyedia minuman yangdi sekolah. “Banyak depo air isi ulang di Kota Surabaya. Sebelum mengkonsuminya, pastikan cek ijin dari laboratorium terhadap depo air isi ulang itu masih berlaku,” ujar Muklas.

Pada materi penghematan energi oleh Tunas Hijau, peserta diberikan pemahaman pentingnya hemat energi, khususnya listrik. Penggunaan listrik yang berlebihan dapat secara ekonomis, geografis, dan lingkungan hidup. 

“Meskipun listrik terlihat sebagai teknologi bersih, namun sumber dari produksilistrik masih kotor. Diantara sumber listrik yang dominan dan masih kotor adalah batu baradan minyak bumi,” terang Cahyo Lintang, mahasiswa magang Tunas Hijau dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang.

“Gedung dan rumah seringkali menyumbang polusi udarayang lebih besar daripada jalanan yang penuh dengan kendaraan bermotor. Penyebabnya karena penggunaan listrik yang banyak di gedung dan rumah,” jelas Cahyo Lintang. Beragam kiat menghemat listrik dan pemahaman keliru mengenai hemat listrik di masyarakat juga dijelaskan oleh Cahyo.

Pada sesi polusi udara disampaikan oleh Jodi Daniel, mahasiswa magang Tunas Hijau dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang. “Polusi udara umumnya memang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor, tetapi ada beberapa hal yang sering kita lupakan bahwa penggunaan barang-barang kecantikan dan pewangi seperti parfum dapat  menyebabkan polusi udara bahkan 3 kali lebih beresiko dari pada asap kendaraan bermotor,” ujar Jodi Daniel. 

Penulis: Cahyo Lintang

Penyunting: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *