Kalkulasi Jejak karbon, Kendalikan Perubahan Iklim (5)

Seluruh kebutuhan pokok yang kita konsumsi sehari-hari membutuhkan energi untuk bisa sampai di rumah kita masing-masing. Katakan kita ingin membeli sekilo beras.Bila dirunut sampai proses awal beras datang sampai ke rumah kita, maka akan ada banyak yang energi dan juga emisi yang dihasilkan untuk membawa beras tersebut sampai ke rumah dan diolah menjadi sepiring nasi. 

Mulai dari emisi kendaraan pengangkut, emisi dari kendaraan petani, sampai termasuk juga emisi dari pabrik pembuat pupuk untuk menyuburkan tanaman padi yang akan berubah menjadi beras. Dan ini masih membahas beras/nasi, belum bahan makanan yang kita ikut makan juga setiap harinya. 

Terutamabila kita sering mengkonsumsi daging-dagingan, maka jejak emisi yang ditimbulkan oleh tiap orang bisa menghasilkan jejak emisi yang lebih besar lagi. Hewan ternak seperti ayam, kambing dan sapi menghasilkan gas rumah kaca (seperti metana). Tentu pada proses pengolahan daging hewan tersebut akan menghasilkan emisi karbon yang lebih banyak lagi.

Jejak emisi yang sama ditimbulkan juga pada perilaku kita ketika menggunakan peralatan rumah tangga. Setiap lampu, televisi, kipas dan alat elektronik lainnya memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam jejak emisi. 

Emisi yang dimaksudkan adalah karbon dioksida yang dihasilkan dalam menyediakan energi untuk alat elektronik tersebut. Bahkan hal sesimpel menulis di buku ternyata juga menghasilkan emisi karbon. Semua kegiatan yang kita lakukan setiap harinya, di rumah, sekolah, atau kantor menghasilkan emisi karbon, secara langsung atau tidak langsung.

Teman-teman, emisi karbon itulah yang lalu disebut sebagai jejak karbon (carbon footprint). Setiap tahunnya, satu orang Indonesia  menghasilkan sekitar 2,5 ton karbon dioksida dari kegiatan hidup mereka sehari-hari. Jumlah itu adalah angka rerata per kapita, sehingga jumlah itu bisa lebih besar dan lebih tinggi berdasar gaya hidup tiap orangnya. 

Apabila orang tersebut sering berpergian naik pesawat, maka rerata jejak karbon dia bisa lebih tinggi. Kalau ada orang yang menerapkan pola hidup vegan, nilai jejak karbon yang dihasilkan bisa lebih rendah. Intinya, setiap orang dengan gaya hidup masing-masing akan menghasilkan jejak karbon yang berbeda-beda berdasarkan energi yang dipakai tiap harinya.

Nilai jejak karbon bisa ditelusuri dengan melakukan penghitungan menggunakan kalkulator yang sudah tersedia banyak secara online. Salah satu contohnya seperti yang disediakan oleh www.carbonfootprint.com.

Website kalkulator ini akan membantu menghitung pola kosnumsi energi kita, dan juga dapat menyediakan informasi terhadap karbon yang dihasilkan oleh barang-barang yang kita pakai tiap harinya. Setelah melakukan kalkulasi, biasanya teman-teman akan dapat melihat, pada konsumsi barang apakah yang bisa dikurangi untuk bisa mengurangi jejak karbon harian teman-teman.

Perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan sangat berkontribusi dalam pengurangan jejak karbon kita. Dengan beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, bisa mengurangi sampai 3 ton karbon setiap tahunnya.

Dengan membeli produk sayur-mayur lokal, kita bisa berkontribusi terhadap ekonomi lokal dan juga mengurangi jejak karbon dengan mengurangi jarak tempuh setiap produknya. Dengan mengurangi jejak karbon, kita bisa berkontribusi mengurangi emisi karbon dan mengurangi dampak buruk perubahan iklim.

Penulis: Cahyo Lintang

Penyunting: Mochamad Zamroni

2 tanggapan untuk “Kalkulasi Jejak karbon, Kendalikan Perubahan Iklim (5)

  • Agustus 20, 2019 pada 13:24
    Permalink

    Heemmm…..ternyata banyak jejak karbon yang kita tinggalkan,ampuuun

    Balas
  • Agustus 20, 2019 pada 14:41
    Permalink

    Jejak Karbon sangat berbahaya bagi lingkungan dan terutama bagi mahluk hidup, dalam hal ini alangkah baiknya kita meningkatkan kesadaran dalam pengendalian emisi kendaraan yang bisa meninggalkan jejak karbon dioksida, dalam hal ini kita bisa menguranginya dengan cara lebih baik berangkat kesekolah atau ditempat terdekat kita bisa jalan kaki atau naik sepeda atau naik kendaraan umum sehingga pemakai kendaraan pribadi bisa berkurang dan emisi kendaraanpun juga berkurang.
    Dan disekitar rumah atau jalan-jalan raya kita tanami banyak tanaman sansivera yang sangat baik untuk menyerap karbon dioksisa (CO2) dan sangat kaya menghasilkan Oksigen (O2)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *