Pengomposan SMPN 11 Surabaya Nyata Cegah Perubahan Iklim (7)

Sampah yang dihasilkan setiap harinya itu pasti akan menghasilkan pencemaran.  Tapi tidak usah khawatir, karena ada beberapajenis sampah yang bisa mudah ditangani pencemarannya. Salah satunya adalah sampah organik. Sampah organik merupakan sampah-sampah hasil kegiatan sehari-hari yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup, ataupun sisa-sisa makanan. 

Bahan-bahan itu masih bisa diuraikan oleh bakteri-bakteri pengurai yang memang ada secara ilmiah. Ketika dibiarkan di udara terbuka atau dibuang begitu saja, sampah organik itu hanya akan terurai begitu saja di tempat pembuangan sampah tanpa bisa dimanfaatkan. Sementara kalau sampah organik itu mau dikumpulkan, hasil sisa penguraian masih bisa dimanfaatkan menjadi pupuk yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan menyuburkan tanaman-tanaman.

Cahyo Lintang, mahasiswa magang Tunas Hijau dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, menjelaskan keterkaitan antara kompos dan perubahan iklim di SMP Negeri 11 Surabaya, Rabu (21/8/2019).

Cahyo Lintang menjelaskan pengomposan sebagai upaya mencegah perubahan iklim

“Salah satu gas yang menimbulkan dampak buruk dari perubahan iklim adalah metana. Metana dihasilkan dari penguraian bahan-bahan organik secara natural. Ketika dibiarkan begitu saja di ruang terbuka, gas penguraian tersebut malah akan jadi pencemar udara dan menjadi gas rumah kaca,” tutur Cahyo. 

Gas metana bukanlah pemain utama dalam penyebab perubahan iklim. “Bersama dengan karbon dioksida, metana mejadi alasan mengapa suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Peningkatan suhu bumi inilah yang menyebabkan perubahan iklim secara global,” imbuh Cahyo.

Selama pertemuan tersebut, Cahyo menjelaskan efek-efek negatif dari perubahan iklim. Menggunakan media permainanular tangga bertema Perubahan Iklim ala Tunas Hijau, Cahyo menjelaskan beberapa fakta menarik soal perubahan iklim bersama dengan permainan itu.

”Dengan mengurangi penggunaan transportasi berbahan bakar minyak, teman-teman dan keluarganya juga ikut mengurangi polusi dan juga mengurangi penambahan gas rumah kaca di atmosfir udara. Itu berarti mencegah semakin memburuknya perubahan iklim,” terang Cahyo.

Pertemuan ini pun berlanjut ke tempat pembuatan kompos yang ada di SMP 11. Tim lingkungan hidup SMP 11 memang mempunyai tempat pengolahan kompos terdedikasi yang berada di belakang kantin sekolah. Fikri, siswa kelas 7 yang menjadi penanggung jawab proyek kompos tersebut antusias menceritakan proyek tersebut. 

“Setiappekannyapada hari Jumat tim lingkungan hidup kami pergi ke pasar-pasar tradisional untuk mengumpulkan sampah organik dan dijadikan kompos. Selain itu, sampah sisa makanan yang berada di lingkungan sekolah kita dimasukkan ke dalam wadah khusus untuk akhirnya dikomposkan,” jelas Fikri. 

Di rumahkompositu, Cahyo pun memberikan penjelasan tambahan. “Dengan memotong kecil-kecil sisa sampah makanan, maka bakteri pengurai akan bekerja lebih mudah dalam tong anaerob untuk menguraikan sisa sampah-sampah organik yang ada. Daripada dibuang sia-sia dan jadi bebauan yang tidak jelas, lebih bisa dikumpulkan digunakan untuk pupuk tanaman di sekitar kita. Bahkan, sampah ini pun akhirnya menjadi nilai ekonomis karena kompos,” tutur Cahyo di tengah-tengah tong komposter SMP Negeri 11 Surabaya.

Aksi nyata yang dilakukan oleh SMP Negeri 11, dan juga berbagai sekolah di Surabaya dalam menggunakan komposter sangat membantu untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim. Tidak hanya di Surabaya, di seluruh kota besar di dunia juga mulai digalakkan program pembuatan kompos dari sampah-sampah organik. 

Penulis: Cahyo Lintang

Penyunting: Mochamad Zamroni

19 tanggapan untuk “Pengomposan SMPN 11 Surabaya Nyata Cegah Perubahan Iklim (7)

  • Agustus 23, 2019 pada 18:52
    Permalink

    Semoga tunas hijau dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik

    Balas
  • Agustus 23, 2019 pada 19:53
    Permalink

    mantap.. ilmu yang sangat berguna..

    Balas
  • Agustus 23, 2019 pada 21:41
    Permalink

    Semoga langkah luar biasa ini diikuti oleh semua sekolah di Indonesia… go green 👌

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 07:20
    Permalink

    saya sangat bangga karena pengolahan pupuk kompos bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.
    salam bumi lestari.

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 07:53
    Permalink

    Kerenn bangett❤️

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 08:34
    Permalink

    Kegiatan ini sangat bagus untuk mengurangi populasi sampah organik. Dengan adanya pengomposan kita dapat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan tanaman.

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 08:51
    Permalink

    Semangat selalu teman teman, semoga proyek ini bermanfaat

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 10:16
    Permalink

    Salam hijau

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 01:55
    Permalink

    Semakin banyak sampah organik yang diolah, semakin turun suhu permukaan bumi.

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 01:55
    Permalink

    Ayo kita biasakan mengolah sampah organik di mana saja

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 01:57
    Permalink

    Kami juga melakukan hal yang sama, mengolah sampah organik menggunakan keranjang takakura. Beberapa hari yang lalu sekolah kami juga melakukan kegiatan gerebeg pasar dan berhasil mengumpulkan 75 kg sampah organik sisa sayuran di pasar tambak wedi

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 01:57
    Permalink

    Patut dicontoh usaha SMPN 11 dalam mengelola lingkungan

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 01:58
    Permalink

    Selain menimbulkan gas metan, sampah yang dibiarkan terbuka juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Ayo kita olah bersama.

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 01:59
    Permalink

    Jangan lupa untuk mengaduk sampah organik yang sudah diolah ya.

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 02:00
    Permalink

    Tidak hanya sampah plastik saja yang berpotensi menimbulkan masalah, sampah sisa makanan yang dibiarkan begitu saja juga berpotenai menimbulkan masalah

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 02:01
    Permalink

    Semangat terus ya kakak untuk mengolah sampah-sampah di lingkungan sekitar.

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 10:12
    Permalink

    Semoga selain di lingkungan sekolah, sampah organik dapat dimanfaatkan di lingkungan rumah dengan menggunakan keranjang takakura

    Balas
  • Agustus 25, 2019 pada 12:49
    Permalink

    benar sekali daripada sampah organik dibiarkan menumpuk, mending digunakan untuk membuat pupuk kompos lebih bermanfaat dan dapat mengurangi sampah organik sehingga sampah sampah di daerah surabaya dan lainnya dapat terkurangi

    Balas
    • September 28, 2019 pada 11:05
      Permalink

      Semoga kegiatan ini dapat diterapkan di seluruh SMP di Surabaya !
      Saya juga baru sadar bahwa selain sampah anorganik ternyata sampah organik juga dapat membawa dampak yang lumayan besar buat dunia

      Salam Lestari

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.