Peserta Kemah Hijau Surabaya 2019 Kampanye Pengendalian Polusi Udara

Peserta Kemah Hijau Kota Surabaya 2019 melakukan kampanye “Kendalikan Polusi Udara”, Minggu (4/8/2019). Kampanye itu digelar di trotoar depan SMPN 5 Surabaya, Jalan Rajawali. Beragam poster digunakan pada kampanye yang menandai kegiatan hari kedua kemah yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya bersama Tunas Hijau itu.

Ada sekitar 50 poster yang digunakan. Poster-poster yang dibuat oleh peserta kemah itu berisi ajakan kepada masyarakat untuk peduli terhadap polusi udara yang semakin parah mendera seluruh kota di seluruh dunia. 

Tim peserta dari SMPN 51 Surabaya, misalnya, menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk membiasakan diri berjalan kaki atau bersepeda bila jarak tempuh dekat. Tim sekolah ini juga mengajak masyarakat memperbanyak tanaman di sekitar. “Sebab, tanaman adalah satu-satunya yang bisa menyerap polusi udara,” kata mereka dalam kampanyenya.

Siswa SMP se Surabaya peserta Kemah Hijau Surabaya 2019 mengampanyekan pengendalian polusi udara di trotoar depan SMPN 5 Surabaya, Minggu (4/8/2019) page

Tim peserta dari SMPN 34 Surabaya menyuarakan ajakan untuk tidak lagi membakar sampah kertas dan sampah plastik. “Pembakaran sampah bisa menyebabkan polusi udara semakin parah. Sampah non organik sebaiknya tidak dibakar melainkan didaur ulang atau disetorkan ke bank sampah,” teriak tim peserta dari SMPN 34 Surabaya.

Beragam poster bertema pengendalian polusi udara lain juga digunakan pada kampanye ini. “Kampanye ini adalah upaya kami mengingatkan masyarakat mengenai bahaya polusi udara yang sebenarnya semakin mengancam kehidupan di muka bumi ini. Namun, seolah polusi udara kurang ditanggapi serius oleh masyarakat,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino saat mendampingi kampanye itu.

Penggunaan kendaraan bermotor yang umumnya masih menggunakan bahan bakar minyak dari fosil, menurut Jodi Daniel, mahasiswa magang Tunas Hijau dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang, menjadi penyebab terbesar kedua terjadinya polusi udara. “Penyebab utama polusi udara yang utama masih berasal dari penggunaan energi listrik dari pembangkit berbahan fosil,” ujar Jodi.

Penulis: Jodi Daniel

Penyunting: Mochamad Zamroni 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *