SMPN 7 Surabaya Aktifkan Lubang Resapan Biopori

SMPN 7 Surabaya terus membenahi pengelolaan lingkungan hidupnya. Di bawah kepemimpinan Siti Erum Megawati, kepala sekolah, sekolah yang berlokasi di Jalan Tanjung Sadari 17, mereka tidak lagi menghasilkan sampah non organik kemasan makanan/minuman sekali pakai dari kantinnya.

Teranyar, mereka mengaktifkan kembali lubang resapan biopori. Pengaktifan kembali program lubang resapan biopori diawali dengan workshop bersama Tunas Hijau, Sabtu (31/8/2019) di SMPN 7 Surabaya. 65 orang siswa kader lingkungan hidup dan karyawan kebersihan sekolah ini mengikuti workshop yang dipandu Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Panas terik tidak menyurutkan semangat siswa SMPN 7 Surabaya membuat lubang resapan biopori di sekolah, Sabtu (31/8/2019)

Pada saat workshop, Kepala SMPN 7 Surabaya Siti Erum Megawati berharap bisa membuat banyak lubang resapan biopori di SMPN 7. “Program biopori SMPN 7 Surabaya harus dilakukan serius dan bermanfaat. Harus efektif meresapkan air hujan ke dalam tanah dan mengolah sampah organik,” kata Siti Erum Megawati.

Dalam workshop itu, Zamroni mengatakan bahwa tidak adanya tanah terbuka bukanlah alasan untuk tidak membuat lubang resapan biopori. “Seperti di SMPN 7 Surabaya, yang semua lahannya tertutup paving, biopori juga harus tetap dibuat dengan membuka sebagian paving,” kata Zamroni.

Alhasil sekitar 10 lubang resapan biopori baru dengan kedalaman minimal 90 cm berhasil dibuat dalam sesi praktek selama 120 menit setelah sesi teori dalam ruangan. Lubang resapan biopori baru itu dibuat di pekarangan depan dan samping lapangan upacara. Semua lubangnya juga lantas diisi penuh dengan sampah organik.

Pembuatan komposter aerob juga dilakukan oleh beberapa orang karyawan kebersihan sekolah ini. Komposter aerob itu memanfaatkan tandon air 600 liter yang sudah rusak. Bekas tandon air itu difungsikan menjadi komposter dengan beberapa modifikasi. Diantaranya melubangi bagian bawahnya dan memberi beberapa lubang pada bagian samping.

Tim lingkungan hidup SMPN 7 Surabaya juga diajak memindahkan instalasi hidroponik NFT dengan 102 lubang. Pemindahan itu dilakukan dari pekarangan depan ke samping lapangan. Tujuannya, untuk mendapatkan sinar matahari yang lebih lama, lebih dari 5 jam setiap harinya.

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *