SD Wilayah 3 dan 4 Surabaya Adu Pengelolaan Lingkungan

Lebih dari 250 orang guru Sekolah Dasar wilayah 3 dan 4 Surabaya mengikuti Workshop Surabaya Eco School 2019 hari keempat yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya di Aula SMPN 26 Surabaya, Kamis (10/10/2019).

Beragam program lingkungan hidup dibagikan oleh para peserta workshop ini. SDN Kapasari VIII Surabaya yang diwakili Eny Murtiningtyas, guru pembina lingkungan hidup misalnya. “Upaya minimalisasi sampah non organik khususnya plastik sekali pakai sudah dibiasakan di SDN Kapasari VIII,” kata Eny Murtiningtyas.

Guru-guru peserta Workshop Surabaya Eco School 2019 hari keempat mempresentasikan hasil diskusi pengelolaan lingkungan hidup sekolah

Diantara upaya yang dimaksud Bu Tyas, panggilan Eny Murtiningtyas, adalah dengan melarang kantin sekolah menjual makanan dan minuman dengan wadah non organik sekali pakai. “Di setiap kelas kami juga ada piring dan gelas siswa yang bisa digunakan berulang kali,” ujar Bu Tyas.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos bahkan sudah dilakukan di SDN Kandangan I Surabaya, Sekolah Adiwiyata Mandiri dan peserta Eco Mobile PJB Challenge 2019. Pemilahan sampah daun selalu dilakukan langsung oleh karyawan kebersihan sekolah ini dengan dimasukkan ke komposter aerob yang banyak di sekolah.

Guru-guru peserta Workshop Surabaya Eco School 2019 kunjungan lapangan pengelolaan lingkungan hidup di SMPN 26 Surabaya

“Setelah sampah daun dimasukkan ke dalam komposter aerob, siswa kader lingkungan yang mengolahnya. Siswa kami juga sering melakukan grebeg pasar tradisional di sekitar. Kami berhasil panen kompos beberapa kali di tahun 2019 ini,” tutur Siti Fatonah, guru pembina lingkungan hidup SDN Kandangan I peserta workshop hari keempat ini.

SDN Bubutan IV Surabaya, yang diwakili oleh Imam Subroto, guru pembinan lingkungannya, tidak mau kalah. Subroto memamerkan program lubang resapan biopori, pengolahan sampah organik menggunakan komposter aerob dan grebeg pasar. SDN Bubutan IV juga rutin memilah sampah kertas dan pengumpulan jelantah.  

Lantas, bagaimana dengan pengelolaan lingkungan hidup di sekolahmu?

Penulis: Mochamad Zamroni

28 tanggapan untuk “SD Wilayah 3 dan 4 Surabaya Adu Pengelolaan Lingkungan

  • Oktober 11, 2019 pada 11:07
    Permalink

    Disekolah saya masih sering membuang sampah sembarangan , dan saya ingin setelah pulang dari sini sekolah saya mulai berkembang dengan baik , asri dan hijau

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 20:39
      Permalink

      Bapak ibu guru pembina lingkungan hidup dari adik adik Sekolah Dasar
      Panjenengan orang yang hebat, telaten.

      Adik adik hebat lahir dari kepiawaian panjenengan. Terus semangat gih Bapak Ibu. Mari satukan langkah demi pelestarian lingkungan hidup kita.
      Good Job buat panjenengan semua

      Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:08
    Permalink

    Sangat menginspirasi. Saya siswi dari SMPKr Anak Panah, Grace Sutantono, setelah saya berkeliling mengikuti petunjuk pengarah lingkungan SMPN 26. Saya sangat terpukau dengan penjagaan lingkungan SMPN 26. Di sekolah saya, kami juga melakukan pemilahan sampah, tetapi hal tersebut tidak dilakukan dengan baik oleh siswa.

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 11:15
      Permalink

      Menurut saya, disini sangat bersih dan sampahnya diolah dengan baik. Di sekolah saya, kami belum melakukan pengolahan sampah dengan baik. Setelah saya mengikuti workshop ini saya akan mencoba melakukannya bersama teman-teman saya.

      Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:09
    Permalink

    Kegiatan pengolahan sampah ini ternyata kegiatan yang sangat menarik dan menyenangkan. Dari sampah kecil yang sering kita jumpai ternyata bisa olah menjadi hal yang luar biasa.
    Upaya pengolahan sampah ini harus terus ditingkatkan mulai dari hal yang sederhana seperti memilah sampah dan menjadikannya sebagi pupuk.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:09
    Permalink

    Sangat menginspirasi setelah berkeliling seluruh SMPN 26. Selanjutnya, saya akan coba menerapkannya di sekolah saya.

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 11:21
      Permalink

      Setelah saya berkeliling saya sangat tertarik semua yang ada di smpn 26 dengan banyak tanaman dan banyak nya kegiatan menggolah barang bekas tapi sayang sekali dengan tempat saya tidak memungkinkan

      Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 12:55
      Permalink

      SMPN 26 sangat menginspirasi banyak siswa dan guru, kantin apung merupakan solusi kreatif dari daerah2 yang kerap jadi langganan banjir dan bekas lahan kosong dibelakang sekolah menjadikan lahan resapan air bagi SMPN 26 yang bisa menjadikannya contoh baik bagi sekolah kami.
      Untuk pengolahan sampahnya juga baik, terdapat rumah kompos, takakura dan lebih dari 100 lubang resapan biopori yang dapat menjadi salah satu penghasil kompos dari sampah daun kering (organik).
      Sedangkan untuk pengolahan sampah non organik tertata rapi pada lemari karya yang dapat menarik perhatian setiap tamu di SMPN 26 Surabaya.
      Dan sukses selalu untuk tim siswa yang telah menjadi pemandu bagi kami.

      Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:11
    Permalink

    Pengelolaan sampah & lingkungan di SMPN 26 (tuan rumah workshop) banyak memberi inspirasi untuk diterapkan di sekolah kami, SMPK Etika Dharma Surabaya. Salut untuk kegiatan yang bisa melibatkan seluruh warga sekolah. Gak sabar melaksanakan di sekolah.

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 13:04
      Permalink

      saya dari SMP Al Islah,sangat terinspirasi dengan SMPN 26, setelah berkeliling dan berkunjung pada semua divisi di SMPN 26 banyak ilmu yang saya dapatkan, terutama tentang kantin apungnya.
      SMPN 26 menjelaskan semua yang diterapkan disekolahnya, oleh karena itu saya berharap SMPN 26 bisa menjadi inspirasi yang baik bagi sekolah saya agar bisa menjadi yang lebih baik lagi. Saya sangat kagum ketika tau bahwa semua siswa ikut berpastisipasi aktif, saya harap hal yang sama pada seluruh siswa siswi sekolah saya agar kedepannya dapat lebih aktif untuk turut menjadikan sekolah kami lebih baik lagi.

      Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:12
    Permalink

    Smp ypp nurul huda
    Good terasa sejuk …sekolah saya keterbatasan lahan …namun pengalaman hari ini menginspirasi

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 12:53
      Permalink

      Perkenalkan nama saya riska dari SMP tri guna bhakti

      Setelah saya berkeliling di smp negri 26 sby saya sangat terinspirasi dengan cara mengolah daun daun yg sudah kering menjadi kompos yg sangat berguna bagi tumbuh tumbuhan , saya ingin sepulang dari smp negri 26 sby ini ,saya bisa mengembangkan sekolah smp tri guna bhakti dengan cara adanya (eco schoo)dan (zero waster )

      Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:14
    Permalink

    Mudah mudahan bisa diterapkan di sekolah kami masalahnya lingkungan kita terbatas. Tapi sekolah kami sdh menerapkan jiwa kebersihan yg maksimal dan alhamdulillah jalan , brqvo spegrisa jaya.

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 11:24
      Permalink

      Salam lestari ….mengikuti Workshop SES 2019 dan berkeliling di lingkungan SMPN 26 Sby..sangat menginspirasi untuk diterapkan di lingkungan sekolah kami

      Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:14
    Permalink

    Kami dari SMP GEMA 45 Surabaya, mendapat pengalaman yang luar biasa dari SMPN 26 SUrabaya, smoga kedepan sekolah kami bisa seperti ini. Amin

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:14
    Permalink

    menurut saya yang menarik pada kegiatan tadi , adalah ketika mengetahui cara mengolah kompos dari daun kering, hidroponik , dan cara mengolah daun daun kering atau sampah plastik menjadi barang yang bagus dan bernilai

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:15
    Permalink

    SMP K Santa Clara sudah membudayakan membuang sampah pada tempat sampah, sesuai dengan kategori sampah organik dan anorganik, meskipun pada realitanya masih ada yang tidak mematuhinya. Selain itu, kami sudah meminimalisir penggunaan sampah plastik sekali pakai dengan membawa kotak bekal makan dan tumblr. Kami tertarik untuk melakukan aksi cinta lingkungan dengan lebih serius dan lebih konsisten lagi.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:15
    Permalink

    Assalamualaikum ,Saya dari Smp Islam Raden Paku sby
    Setelah berkeliling di semua area SMPN26 Sby membuat saya merasa tergerak & Sangat menginspirasi untuk meminimalisasi sampah (zero waste). Terutama saya ingin sekali mengaplikasikan peduli lingkungan di sekolah SMP ISLAM RADEN PAKU.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:16
    Permalink

    Di sekolah saya (SMPK Santa Clara) sudah melakukan berbagai cara untuk mengurangi dan memilah sampah. Untuk memilah sampah, di sekolah disediakan tempat sampah organik dan tempat sampah anorganik sehingga para murid dapat membuang sampah di tempat sampah sesuai kategori sampah tersebut. Akan tetapi, masih ada sebagian siswa yang membuang sampah sembarangan, oleh karena itu, kesadaran siswa harus ditingkatkan. Untuk mengurangi sampah, hampir semua bungkus makanan di kantin sekolah kami tidak ada yang terbuat dari plastik, semoga kedepannya seluruh makanan yang dijual tidak menggunakan plastik sebagai bungkus.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:18
    Permalink

    Kegiatan ini sangat menginspirasi saya untuk menerapkan cara pengolahan komposer yang ada di SMPN 26. Serta mengajak teman-teman di sekolah agar lebih cinta terhadap lingkungan dengan cara untuk tidak banyak membuang sampah.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:20
    Permalink

    dari kunjungan ini saya belajar untuk memilah sampah dan mengurangi sampah plastik semoga saya bisa menerapkan di sekolah saya

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:24
    Permalink

    SMPN 26 sgt menginspirasi kami .Bisa di contoh dan di coba di sekolah kami. Selama ini di SMP Unesa 1 Labschool Kawung ,kami mengupayakan zero waste dgn cara siswa tidak boleh memakai plastik sekali pakai sebagai wadah makanan. Jadi kantin harus menyediakan alat makan ,piring, gelas ,sendok yang tidak sekali pakai. Dan setiap hari Jumat siswa makan pagi bersama dengan bekal yang dibawa dari rumah.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 11:29
    Permalink

    Luar biasa setelah berkunjung dan berkeliling di SMPN 26 yg sangat terlihat bersih dan asri. Terlihat sekali perwujudan cinta lingkungan dan upaya ‘zero waste’. Saya harap bisa mencontoh hal tersebut di sekolah saya. Terutama pada bagian pengelolaan sampah dan kehijauan nya dulu (minimal).

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 12:07
    Permalink

    Adanya kunjungan di SMPN 26 sangat berarti bagi kami,krn ingin merubah sekolah kami sekolah SMP Sasana Bhakti bebas sampah,dgn inspirasi yg di dpt dr SMPN 26 yg sangat luar biasa,namun sangat disayangkan lahan sekolah kami yang kurang memadahi ato kurang menunjang

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 12:22
    Permalink

    Alhamdulillah, setelah ikut workshop ini, dn keliling melihat lingkungan sekolah SMPN 26, kami jd terinspirasi, semoga sekolah kami bisa mengikuti menjadi seperti lingkungan yang bersih dan hijau dan tidak buang sampah sembarangan.

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 12:39
    Permalink

    Saya terinspirasi sekali dengan eco school di smpn 26. Trutama kantin apung, taman literasi dan daur ulang jelanta. Mungkin sy bisa terapkn di sklh saya

    Balas
  • Oktober 11, 2019 pada 12:55
    Permalink

    Sangat menarik dan menginsipirasi semuanya untuk terus menjaga lingkungan sekitar agar tidak kotor.saya berharap di sekolah saya bisa melakukan hal yang sama.

    Balas
  • Oktober 13, 2019 pada 17:33
    Permalink

    Sebuah tantangan bagi sekolah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, bebas sampah.
    Zero waste artinya semua sampah yang dihasilkan tidak terbuang sia2, dipilah, dipilih, dan diolah.
    Penggunaan kemasan plastik sekali pakai harus mulai ditinggalkan untuk tetap menjaga kelestarian bumi. Karena kita tahu untuk menghancurkan selembar kecil plastik butuh waktu ratusan tahun agar terurai bercampur dengan tanah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *