Pria Papua Nugini Tewas Usai Makan Ikan Tercemar Limbah Nikel

Seorang warga Provinsi Madang, Papua Nugini tewas setelah memakan ikan yang ditangkap di area diduga tercemar limbah tambang nikel milik perusahaan asal China.

Wakil Administrator Provinsi Madang Marcus Kachau mengatakan pria itu awalnya pergi mencari ikan untuk keluarganya, tetapi mereka menolak memakan hasil tangkapan tersebut.

“Seorang pergi memancing, dan menangkap ikan, tetapi keluarganya menolak memakan,” kata Kachau dikutip dari ABC Australia, Rabu (2/10). “Dia makan ikan itu, kemudian sekitar satu setengah jam setelahnya, dia meninggal.”

Dikutip dari surat kabar setempat Post-Courier, petugas medis yang tak disebutkan namanya mengatakan pria itu telah memakan ikan buntal beracun. Dia mengaku telah berupaya menyelamatkan nyawa pria tersebut, namun tak berhasil.

Otoritas Konservasi dan Perlindungan Lingkungan Papua Nugini (Conservation and Environment Protection Authority atau CEPA) langsung melakukan investigasi ke lokasi tumpahan lumpur yang diduga beracun itu.

Perwakilan Pemerintah Provinsi Madang dilaporkan bertemu dengan otoritas lingkungan di Port Moresby hari ini untuk menerima hasil penyelidikan itu. Namun belum diketahui bagaimana hasilnya.

Meski demikian, pihak berwenang telah mengeluarkan larangan warga untuk makan atau menjual ikan yang ditangkap di provinsi ini. Untuk memastikan penyebab kematian pria itu, pihak berwenang juga meminta dilakukan pemeriksaan post-mortem.

Otoritas Sumber Daya Mineral Papua Nugini memang telah menutup sebagian area Teluk Basamuk di Provinsi Madang karena diduga tercemar limbah tambang nikel milik perusahaan asal China. Kilang itu menyemburkan lumpur yang diduga beracun ke pantai di sekitar pabrik.

Badan tersebut mengatakan air di pantai sekitar tambang yang terletak di utara Papua Nugini itu berubah warna menjadi merah akibat kejadian itu. Limbah itu dilaporkan berasal dari sejumlah tangki kilang Ramu Nickel yang bocor.

Perusahaan itu sendiri membantah bahwa tumpahan limbah menjadi penyebab tewasnya pria tersebut. Pihak perusahaan menyatakan tidak akan bertanggung jawab sampai pemerintah provinsi memberikan bukti ilmiah. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *