Ayo Cegah Banjir dengan Sumur Resapan, Biopori dan Tebar Ember

Musim hujan telah tiba. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, puncak musim penghujan akan jatuh pada Februari dan Maret 2020. BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu siaga menghadapi cuaca ekstrem tersebut.

Menanggapi himbauan tersebut, Tunas Hijau mengajak masyarakat dan sekolah-sekolah untuk mengoptimalkan penyerapan air hujan ke dalam tanah. Penyerapan air hujan itu sedapatnya secara alami dengan memperbanyak pepohonan di sekitar.

Lahan sekitar yang sudah tertutup semen atau paving block bisa disiasati dengan membuka sebagiannya untuk ditanami pohon. Tentunya dengan tetap memperhatikan keamanan akses dan keindahan tempat tersebut.

Apalagi, musim hujan seharusnya juga menjadi musim menanam pohon baru. Meskipun memang menanam pohon baru tidak bisa langsung dirasakan efektif dampaknya, namun bisa dirasakan beberapa bulan setelahnya.

Tunas Hijau juga mengajak masyarakat untuk mengaktifkan lubang resapan biopori di sekitar. Bagi yang belum pernah membuat sebelumnya, bisa segera membuat lubang yang umumnya berdiameter sekitar 12 cm ini. Kedalamannya satu meter.

Kedalaman lubang resapan biopori yang dibuat harus dibuat sedalam mungkin hingga belum sampai ketemu air tanah. Pembuatan lubang resapan biopori harus dihentikan bila sudah ketemu air tanah.

Sekolah-sekolah yang sudah pernah membuat lubang resapan biopori sebelumnya bisa diperbarui dengan mengangkat kompos atau tanah hasil pengolahan sampah organik yang sebelumnya diolah ke dalam lubang.

Bagi yang memungkinkan dibuat sumur resapan sebaiknya segera dibuat. Sumur resapan berbeda dengan sumur yang biasanya diambil airnya. Sumur resapan dibuat berdiameter sekitar 1 meter dan kedalaman sekitar 1 meter atau lebih, atau kedalaman yang belum keluar air tanah.

Sumur resapan sebaiknya ditempatkan di dekat talang atap air. Fungsi sumur resapan untuk meresapkan sebanyak mungkin air hujan. Satu bangunan sangat mungkin dibuat lebih dari 1 sumur resapan.

Cara yang mudah lainnya untuk mencegah banjir saat hujan lebat adalah dengan meletakkan banyak bak atau ember besar di atas tempat yang tidak memungkinkan air hujan meresap ke dalam tanah. Di atap, misalnya.

Penempatan bak atau ember besar untuk menampung hujan ini akan signifikan mencegah banjir bila jumlah yang disediakan sangat banyak. Air tampungan di bak atau ember besar itu selanjutnya bisa diresapkan ke tanah ketika hujan sudah reda.

Bila satu bak atau ember besar bisa menampung 100 liter, maka satu juta bak bisa menampung 1.000.000 liter air hujan. Maka sudah pasti potensi terjadinya banjir bisa diminimalkan.

Cara terakhir yang juga signifikan mencegah banjir adalah dengan mengoptimalkan kapasitas saluran air, selokan dan sungai. Yaitu dengan mengangkat endapan di dasarnya. Juga dengan memastikan tidak ada sampah di dalamnya.

Intinya, ayo bergotong royong menampung air hujan. Jangan hanya bangga lokasinya tidak banjir tapi hanya memindahkan air hujan itu ke sekitarnya. Sedikit demi sedikit air hujan yang ditampung atau diresapkan ke dalam tanah di setiap bangunan yang ada, maka potensi banjir bisa dicegah. 

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *