Banjir Jakarta pada Hari Pertama Tahun 2020 Peringatan Buat Semuanya

Duka meliputi warga Jakarta dan sekitarnya pada malam pergantian tahun baru 2020 hingga hari pertama tahun ini. Duka itu berupa hujan lebat yang berakibat pada terjadinya banjir yang melanda sebagia besar wilayah ibukota.

Banjir Jakarta dan daerah sekitarnya menyebabkan setidaknya 16 orang meninggal dan lebih dari 19.000 orang mengungsi. Sementara puncak hujan diperkirakan oleh BMKG baru akan terjadi pada pertengahan Januari hingga Maret 2020.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu (1/1/2020) menyebutkan bahwa 16 orang korban meninggal termasuk delapan orang di DKI Jakarta, satu orang di Kota Bekasi, tiga orang di Kota Depok, satu orang di Kota Bogor, satu orang di Kabupaten Bogor, satu orang di Kota Tangerang, dan satu orang di Kota Tangerang Selatan.

Kepala BNPB, Doni Monardo menghimbau masyarakat agar segera mengungsi ke tempat aman jika tempat tinggalnya berpotensi mengalami banjir lebih besar. “Utamakan nyawa selamat terlebih dahulu daripada harta,” kata Doni.

Salah seorang korban di Jakarta termasuk seorang remaja pria berusia 16 tahun karena tersengat listrik di Kemayoran dan tiga lainnya karena kedinginan, kata BNPB. “Jenazah anak saya ditutupi dengan koran saat dua anak saya yang lain lewat,” kata Farid, yang menyebut diri sebagai ayah dari remaja 16 tahun itu.

“Orang-orang bertanya ada yang kenal dengan korban. Bila anak-anak saya tidak lewat, kami tidak tahu putra saya meninggal,” kata Farid seperti dikutip kantor berita AFP. Korban lain termasuk pasangan lanjut usia yang kedinginan setelah terperangkap di rumah mereka di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, yang terendam air setinggi empat meter, akibat meluapnya sungai.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyatakan Rabu (01/01), “19.079 orang (yang mengungsi) ditangani sepenuhnya oleh Pemprov DKI Jakarta.” Namun data warga yang mengungsi ini belum termasuk mereka yang tinggal di wilayah Jabodetabek.

Pool Blue Bird di Kramat Jati, Jakarta Timur, terendam pada pukul 08:00 pagi Rabu, 1 Januari 2020. Foto: BNPB

Evakuasi warga yang tinggal di wilayah tergenang dilakukan oleh tim terpadu termasuk Palang Merah Indonesia. Pramuka juga tidak ketinggalan ikut serta membantu penanganan banjir Jakarta ini dengan satgas pramuka peduli dan brigade penolongnya.

Sementara itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memadamkan sementara listrik di 724 wilayah yang terkena banjir. Pemadaman listrik ini dilakukan demi keselamatan masyarakat agar terhindar dari bahaya arus listrik.

Curah hujan “mencapai rekor tertinggi” di sejumlah wilayah ibu kota, termasuk Halim, dan di seputar Taman Mini, Jakarta Timur, menurut Kepala BNPB, Doni Monardo yang meninjau wilayah banjir melalui udara Rabu (1/1/2020).

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya juga sempat mengganggu aktivitas Bandara Halim Perdana Kusumah, namun bandara itu kemudian dibuka kembali pada Rabu sore.

Gubernur Jakarta, Anies Baswesdan, mengatakan bahwa pemerintah provinsi mengambil sikap bertanggung jawab atas banjir yang melanda Jakarta. “Kita hadapi dan kita selesaikan masalah yang ada sekarang ini dengan sebaiknya-baiknya. Semoga kita bisa menanggulangi banjir ini sesegera mungkin,” kata Anies kepada para wartawan.

—-

Musibah hujan lebat dibarengi banjir pada awal tahun 2020 di Jakarta ini seyogyanya menjadi peringatan kota dan kabupaten yang lainnya di seluruh tanah air Indonesia. Bahwa sudah seharusnya air hujan dibuatkan banyak jalan untuk mudah meresap ke dalam tanah.

Meresapnya air hujan ke dalam tanah yang utama adalah melalui akar-akar pepohonan di hutan alami. Bisa juga dengan hutan kota yang atau taman. Bisa dengan bozem, sumur resapan dan/atau lubang resapan biopori.

Kebijakan kepala daerah tentu sangat penting untuk melakukan pencegahan banjir. Kepala daerah bisa membuat edaran yang mengharuskan seluruh ketua RT membuat lubang resapan biopori dengan kedalaman sekitar 1 meter atau kedalaman sebelum bertemu air tanah. 

Kepala daerah juga bisa meminta setiap kampung membuat minimal lima sumur resapan. Yaitu sumur yang dibuat dengan kedalaman lebih dari 1 meter hingga kedalaman tidak sampai ketemu air tanah. Sumur resapan ini ditempatkan di sekitar talang atap air rumah warga.

Sekolah-sekolah dan sarana publik lainnya juga bisa mengambil peran. Caranya dengan inisiatif aksi pembuatan sumur resapan dan lubang resapan biopori di wilayahnya dalam jumlah yang memadai.

Cara terakhir yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan kapasitas penampungan selokan dan sungai. Yaitu dengan memastikan tidak ada endapan atau sedimen di dasar saluran air tersebut. Namun, cara terakhir ini hanya akan memindahkan air hujan ke laut saja. Tidak untuk menabungnya di dalam tanah.

Penulis: Mochamad Zamroni 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *