Maria Inggrid Mei Moniaga, Puteri “Pengomposan” LH 2019

Rumah tangga menjadi penghasil sampah terbesar di Kota Surabaya. Berbagai jenis sampah selalu dihasilkan oleh rumah tangga setiap harinya. Di antara yang paling banyak volumenya adalah sampah organik. 

Melihat banyaknya sampah organik yang dihasilkan rumah tangga yang selalu berakhir membusuk dan bau busuk, membuat Maria Inggrid Mei Moniaga tergerak membuat proyek pengolahan sampah  organik rumah tangga. 

“Awal mulanya dari kegiatan sehari-hari di kampung saya setiap pagi ada petugas yang mengangkat sampah dari setiap rumah dan setiap bak sampah yang dibawanya kadang terasa bau yang kurang sedap karena sampah organiknya yang sudah membusuk. Dari situ saya pikir apakah ini karena sampah yang tercampur aduk,” ujar siswi yang akrab disapa Maria ini.

Maria Inggrid saat sosialisasi pengolahan sampah rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya

Sebelum menentukan proyek lingkungan Maria terlebih dahulu mendapat bimbingan dari Suci Alima, pembina lingkungan hidup di sekolahnya, SMPN 26. “Berawal dari berbagai saran Mam Suci saya berani melaksanakan proyek pengolahan sampah rumah tangga,” ujar Maria. 

Menurut Maria, proyek pengolahan sampah organik rumah tangga ini sangat mudah dilakukan. “Apalagi oleh seorang siswa SMP seperti saya. Yang perlu dibutuhkan adalah keseriusan dan ketelatenan merawat sampah yang sudah kita olah,” kata siswa yang ingin menjadi wanita karir ini. 

Untuk memulai proyeknya dalam pengolahan sampah rumah tangga, Maria mencoba menerapkan terlebih dahulu di rumah. Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya mengolah sampah rumah tangga adalah hal pertama yang ia lakukan.

Pengolahan sampah rumah tangga harus diawali dengan memilah sampah organik dan non organik dari sumbernya

Keberhasilan mengolah sampah di rumahnya membuat Maria berani melangkah lebih jauh untuk mengajak tetangga rumah hingga temannya. 

“Saya memulainya dengan keluarga saya. Setelah itu saya mulai bersosialisasi kepada warga dekat rumah tentang pengolahan sampah rumah tangga dengan menunjukkan spanduk sampah organik dan non organik,” terang Maria.

Maria selanjutnya sosialisasi kepada teman sekelasnya untuk memilah sampah organik dan non organik di rumahnya. “Tujuannya untuk mengajak lebih banyak orang mengurangi produksi sampah rumah tangga secara luas,” ungkap Maria.

Maria Inggrid didampingi guru pembina lingkungan hidup SMPN 26 saat diterima Walikota Surabaya Tri Rismaharini di kediaman

Selama masa seleksi pangeran dan puteri lingkungan hidup 2019 Maria berhasil melakukan sosialiasi kepada warga kampung dan temannya. “Ada 4 keluarga yang mulai mengolah sampah organik  rumah tangga mereka menggunakan media keranjang pot,” jelas Maria. Beberapa orang teman sekelas saya juga ikut mengolah sampah organik rumah tangganya.

Pasca penganugerahan pangeran dan puteri lingkungan Maria beserta keluarga masih tetap konsisten untuk melakukan pengolahan sampah organik rumah tangganya. “Sampai sekarang saya beserta keluarga masih mengolah sampah organik,” tutur Maria. 

Dia mengatakan bahwa tetangganya juga masih konsisten mengolah sampah basah mereka. “Saya merasa dengan mengurangi mengirim sampah basah keluar sama dengan mengurangi resiko bencana lingkungan yang diakibatkan oleh manusia,” tutup Maria. 

Penulis: Fatih Abdul Aziz

Penyunting: Mochamad Zamroni

6 tanggapan untuk “Maria Inggrid Mei Moniaga, Puteri “Pengomposan” LH 2019

  • Mei 1, 2020 pada 09:32
    Permalink

    Nama: Filzah Putri Naraya
    No. Peserta 68
    Sekolah: SDN Kaliasin 7
    Proyek Pemanfaatan Barang Bekas Menjadi Aneka Barang Yang Berguna.
    Wah hebat kak Maria Inggrid Mei Moniaga, aku suka dengan semangat nya kakak….

    Balas
  • Mei 1, 2020 pada 09:38
    Permalink

    Nama : Elvina Ailsha Hayyu Veronica
    No.peserta : 66
    Dari : SDN KALIASIN 7
    Judul Proyek ” Pemanfaatan Sampah Non Organik Menjadi Sesuatu Yang Berguna”

    Selamat Ya Kak Maria Inggrid, telah terpilih sebagai Puteri Lingkungan Hidup 2019. Tetap semangat ya untuk Mencintai, dan melestarikan Lingkungan Hidup. Dengan mengolah sampah organik menjadi kompos.
    Saat ini saya juga mengolah sampah organik untuk menjadi pupuk kompos.
    Semoga Sukses terus ya Kak.
    Teruslah Lestarikan Lingkungan Hidup

    STAY AT HOME

    SALAM BUMI PASTI LESTARI
    SELALU ZERO WASTE
    HIJAUKAN BUMIKU
    DIET PLASTIK

    Balas
  • Mei 1, 2020 pada 12:41
    Permalink

    Nama:Khanza Aurellya Anggraeni.
    Sekolah:SDN Kaliasin VII Surabaya.
    No peseeta:72.
    Proyek:Pemanfaatan Sampah Kain Perca Menjadi Barang Berguna.

    Selamat buat kak Maria yang terpilih menjadi puteri Lingkungan Hidup 2019…sampah organik merupakan sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga akan tetapi dapat bermanfaat bagi kita semua yaitu dengan cara diolah menjadi kompos seperti apa yang dilakukan oleh kak Maria…mari kita jaga lingkungan kita agar tetap bersih…

    STAY AT HOME

    SALAM BUMI PASTI LESTARI
    ZERO WASTE SELALU
    CINTAI LINGKUNGAN

    Balas
  • Mei 2, 2020 pada 04:24
    Permalink

    Nama : Najwa Almira Salsabila
    Sekolah : SDN Rangkah 1 Sby
    No. Peserta : 234
    Proyek Lingk : Budidaya Tanaman Ginseng Jawa

    Proyek Kak Maria menginspirasi sekali untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Selain mengurangi jumlah sampah juga mengurangi polusi udara.
    Terus berkarya dan berkarya ya kak demi kelestarian lingkungan kita.

    Salam Bumi 🌏 Pasti Lestari ☘🌲🌲🌳

    Balas
    • Mei 2, 2020 pada 20:18
      Permalink

      Nama:Acha A’isy Saarah
      Asal sekolah:SDN Margorejo1
      No:136
      Proyek:Kobilak(kopibijisalak)
      Semangat terus memang sampah tiap hari sangat banyak.

      Balas
  • Mei 3, 2020 pada 16:32
    Permalink

    Nama: Niken Octaria Sidabalok
    Sekolah: SDN Kaliasin 1
    No. Peserta: 490
    Proyek: Pengelolaan Sanpah Organic

    Kak Maria hebat dapat mengelola sampah organic menjadi pupuk kompos. Saya juga memiliki proyek yang sama dengan kak Maria. Pasti kakak sangat sulit untuk mengajak masyarakat mengwlolah sampah organic karena sampah organic gampang berair dan bau. Saya mengalami kesulita untuk mengajak warga sekitar padahal mereklah yang paling banyak menghasilkan sampah organic karena sering mengupas bawang merah dan putih dan sekali mengupas bisa bertumpuk sampah nya. Maka dari itu saya sangat terinspirasi dari kakak Maria. Semoga saya juga bisa seperti kakak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *