Aquaponik SDN Sidotopo Wetan II Saat Pandemi Covid-19

SDN Sidotopo Wetan II Surabaya adalah jawara Surabaya Eco School 2019 tingkat SD. Di masa darurat pandemi Covid-19, yang mengharuskan seluruh siswa belajar di rumah, sekolah yang dikepalai oleh Khoirul Fansuri ini terus berinovasi mengelola lingkungan hidup.

Kesan kumuh sudah tidak nampak lagi di sekolah yang berlokasi di Jl. Sidotopo Wetan I Luar No.1, Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran ini. Di lahan sekolah yang terbatas ini, pengolahan sampah organik dilakukan dengan menggunakan 4 tong komposter aerob dan 1 kotak sampah multiguna. 

“Khusus untuk tong aerob selalu kami isi dengan sampah organik yang berasal dari sekolah dan luar sekolah. Sedangkan kotak multiguna adalah hasil modifikasi tempat sampah biasa,” ujar Khoirul ketika ditemui sekolahnya.

Kontainer penampungan sampah organik, khusus sampah daun

Pengolahan sampah organik SDN Sidotopo Wetan II termasuk sebagai pengolahan sampah yang unik karena melibatkan organisme larva BSF (Black Soldier Fly). Pemanfaatan larva lalat ini merupakan salah satu inovasi lingkungan untuk mempercepat proses pembusukan sampah organik. 

Khoirul menyediakan tempat khusus semacam lemari pengembangbiakan serta budidaya larva BSF ini. Sehingga larva BSF tetap tersedia sebagai pembantu pengomposan di SDN Sidotopo Wetan II Surabaya.

Biasanya tanpa larva BSF melalui tong butuh proses paling cepat 3 bulan untuk menghasilkan kompos. Larva BSF disiapkan di kotak-kotak beserta sampah organik. 

Sampah organik dan pasukan BSF yang menguraikannya

“Ketika menggunakan larva BSF cukup satu bulan sudah jadi. Jadi larva ini sangat rakus karena memang makanan utama mereka adalah sampah organik,” ujar peraih penghargaan Eco Headmaster (Elementary) of the Year 2019 Surabaya Eco School 2019.

Khoirul menjelaskan bahwa pengolahan sampah organik di sekolahnya selalu kekurangan samoah organik untuk diolah semenjak keberadaan larva BSF. Oleh karena itu, setiap pekan ia bersama tim lingkungan selalu melakukan grebek Pasar Sidotopo Wetan untuk memenuhi media komposter. Sehingga media komposter selalu terisi penuh setiap harinya. 

“Di tengah pandemi Covid-19 seperti ini, kami tidak bisa grebek pasar. Tapi ada dua pedagang yang sudah berkerjasama dengan kami, yaitu pedagang buah dan pedagang gorengan pisang. Sampah kulit buah mereka selalu disetor ke kami seminggu dua kali hingga sekarang. Sampah kulit buah mereka langsung kami olah dengan pasukan BSF,” ujar Khoirul.

Tanaman lee kwan yew mendominasi koridor depan kelas lantai 2 SDN Sidotopo Wetan II

Selain pengolaan sampah organik, SDN Sidotopo Wetan II Surabaya juga sangat memperhatikan fasilitas penunjang fisik lingkungan sekolah. Salah satunya adalah membuat tirai dari tanaman hidup yaitu tanaman lee kwan yew. Inspirasi pembuatan tirai per tingkat berasal dari beberapa gedung Pemerintah Kota Surabaya yang sudah menerapkannya.

“Saya ketika berkunjung ke Balai Kota Surabaya melihat betapa segarnya ketika bangunan diaplikasikan dengan tirai dari tanaman hidup. Saya cari-cari jenis tanamannya ternyata dijual di toko bunga,” kata Khoirul Fansuri. 

Dia mengaku sempat gagal merawat tanaman lee kwan yew ketika menggunakan media tanam pipa paralon. “Ternyata mereka tidak bisa ditanam di media yang kecil. Maka saya menggunakan pot yang memanjang. Alhamdulilah berhasil,” terang Khoirul. 

Tanaman kangkung yang dibudidaya dengan cara aquaponik di SDN Sidotopo Wetan II

Dengan memanfaatkan hadiah uang pembinaan sebagai jawara Surabaya Eco School 2019, Khoirul Fansuri berinovasi menambah ikon baru SDN Sidotopo Wetan II berupa Aquaponik. Yaitu perpaduan hidroponik dan budidaya lele.

Untuk budidaya lele memang sudah dilaksanakan sejak satu tahun yang lalu. Namun baru pada awal 2020 untuk pertama kalinya budidaya lele tidak membeli bibit anakan.

“Kalau sebelumnya kami selalu beli bibit. Alhamdulillah saya berhasil melakukan pemijahan anakan lele melalui indukan. Sehingga kami pelihara indukan yang besar hingga bertelor,” terang Khoirul Fansuri.

Aquaponik SDN Sidotopo Wetan II

Pada awal tahun 2020, sekolahnya berhasil menetaskan sekitar 5000 ekor anakan ikan lele. “Jadi sudah hemat beberapa ratus ribu untuk bibitnya saja,” ujar kepala sekolah yang lahir di Jombang, 13 November 1971 ini. Lele tersebut digunakan sebagai media aquaponik.

Berada di atap gedung sekolah, aquaponik SDN Sidotopo Wetan II terdiri dari 2 kolam dengan dimensi 2 x 4 meter. Aquaponik dengan 260 lubang tanam itu terlihat tumbuh subur dengan tanaman kangkungnya. Saat Tunas Hijau mengunjungi aquaponik sekolah ini, Kamis (30/4/2020), tanaman kangkungnya sedang berumur 22 hari.

Mengenai ide membuat aquaponik, Khoirul mengaku mendapat ide dari berbagai literatur pertanian serta dari media sosial facebook dan youtube. Bahkan ia yang merancang sendiri konsep aquaponik rooftop SDN Sidotopo Wetan II dengan dibantu oleh seorang karyawan kebersihan. 

Pakan lele berasal dari pelet kombinasi maggot BSF yang dibudidaya di sekolah ini

Keunggulan dari aquaponik, menurut Khoirul Fansuri, tidak menggunakan nutrisi seperti yang jamak dilakukan pada budidaya tanaman hidroponik umumnya.

“Jadi nutrisi tanaman hidroponik berasal dari kotoran lele yang berada di kolam bawahnya. Kalau dibandingkan dengan hidroponik biasa, maka hasil aquaponik lebih bagus dan subur,” tutur Khoirul Fansuri.

Sementara itu untuk pakan budidaya ikan lele di aquaponik ini juga tidak menggunakan pakan yang dibeli di pasaran. “Pakan budidaya ikan lele di aquaponik ini menggunakan olahan sendiri pelet kombinasi maggot BSF,” pungkas Khoirul Fansuri.

Reporter: Fatih Abdul Aziz

Editor: Mochamad Zamroni

3 tanggapan untuk “Aquaponik SDN Sidotopo Wetan II Saat Pandemi Covid-19

  • Mei 1, 2020 pada 11:31
    Permalink

    Mantul banget buat Tim lingkungan SDN Siwet II ini. Luar biasa gih . Di tengah pandemi Covid 19 Tim sekolah Jawara ECO SHOOl 2019 terus semangat dalam menjalankan aksi lingkungan hidup.
    Memang untuk menjalankan aksi lingkungan hidup tidaklah sulit bagi yang mempunyai jiwa peduli lingkungan.
    Kapanpun dan di manapun bisa merealisasikan .
    Di bawah nakhoda Bapak Kepala Sekolah yang hebat hal ini tidaklah sulit.
    Buat tim lingkungan hidup Siwet II tetap semangat semoga bisa menginspirasi sekolah yang lainya.
    Semoga segera melenggang ke Sekolah Adiwiyata , semoga sukses.

    Balas
    • Mei 1, 2020 pada 18:47
      Permalink

      Keren dan subur Hydroponiknya…sdn sidowetan II…💪💪💪💪👍👍👍👌

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *