Rais Irwansyah, Pangeran “Sabun Jelantah” LH 2019

Setiap rumah tangga di Kota Surabaya pada umumnya menghasilkan limbah jelantah, yaitu minyak bekas penggorengan beberapa kali. Limbah jelantah itu banyak yang berakhir di selokan atau sungai perkampungan. 

Dampak ketika jelantah telah masuk kali di Surabaya adalah pencemaran air yang berkibat terganggunya ekosistem yang ada di saluran air. Melihat potensi pencemaran yang massif tersebut, Rais Irwansyah, siswa SDN Sememi I Surabaya, mengangkat proyek pengolahan jelantah.

“Proyek lingkungan saya berjudul pengolahan jelantah. Kemudian jelantah itu saya olah menjadi beberapa produk yaitu sabun cuci dan sabun colek untuk kebutuhan rumah tangga,” ujar Rais Irwansyah. Rais dipandu oleh pembina lingkungan di sekolahnya, yaitu Mimik Sri Utami, dalam melaksanakan proyeknya.

Langkah pertama yang dilakukan Rais adalah sosialisasi ke keluarga besarnya. Ia memberikan pemahaman kepada orangtua mengenai proyek pengolahan jelantah. “Alhamdulilah seluruh keluarga setuju dan mendukung,” ujar siswa penghobi sepak bola ini.

Rais didampingi keluarganya saat pameran proyek lingkungan hidup di Taman Flora Bratang

Merasa bahan baku untuk pembuatan sabun jelantah sangat kurang jika hanya mengandalkan keluarganya, maka ia berinisiatif melakukan aksi yang lebih besar lagi yaitu dengan melakukan sosialisasi. 

“Kalau di rumah dibantu oleh ibu saya bersosialisasi di Ibu-ibu PKK. Khususnya ketika mereka mengadakan pertemuan rutin. Selain itu saya juga melakukan sosialisasi di Rumah Susun Bandarejo,” ungkap Rais. 

Rais mampu menjelaskan secara detail mengenai proses pembuatan sabunnya. “Semua dimulai dari proses pembakaran arang menjadi bara. Setelah itu bara arang dimasukkan ke dalam jelantah selama satu hari satu malam. Kemudian minyak jelantah disaring,” terang Rais.  

Dalam pengolahan ini dibutuhkan bahan tambahan berupa soda api. “Masukkan soda api ke dalam wadah yang sudah diisi air. Larutkan hingga terasa panas. Itu adalah langkah pertama dalam pembuatan sabun,” kata siswa bercita-cita menjadi anggota TNI ini.

Rais didampingi guru pembina dan orang tuanya saat diterima Walikota Surabaya Tri Rismaharini di kediaman

Selanjutnya adalan pencetakan. “Tuang jelantah yang sudah diolah ke dalam cetakan. Tunggu sampai 2 hari untuk pelepasan dari cetakan,” jelas Rais. Setelah lepas dari cetakan diangin-anginkan dengan suhu ruang. Lalu bisa dipakai sabun dari jelantahnya.

Rais mengatakan bahwa ayahnya sangat berjasa besar dalam proyek pengolahan jelantah itu. “Ayah mengajarkan saya secara telaten cara membuat sabun jelantah. Apalagi dalam pembuatan sabun itu rawan cedera karena penggunaan soda api,” kata Rais.

Finalis pangeran lingkungan hidup 2019 SD ini mengaku tidak menemui kendala berarti dalam pengolahan jelantah menjadi sabun. “Semua lancar dan saya mampu produksi 400 batang sabun jelantah,” ujar anak dari pasangan Agus Susilo dan Yuyun Widowati ini.

Penulis: Fatih Abdul Aziz

Penyunting: Mochamad Zamroni 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *