Pertiwi Eka Putri Handayani, Budidaya 1000 Tanaman Kelor Selama Pandemi

Siswa kader lingkungan hidup SDN Tanah Kalikedinding I Surabaya ini berhasil merealisasikan target proyek lingkungannya. Yaitu, budidaya 1000 tanaman kelor sekaligus pemanfaatannya. Pertiwi Eka Putri Handayani, namanya. 

Koran Jawa Pos bahkan beberapa kali mengulas aksi pembibitan tanaman kelor yang dilakukan oleh Pertiwi. 1000 tanaman kelor hasil pembibitan yang dilakukan oleh Pertiwi itu dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

“Saya memberikan tanaman kelor hasil pembibitan yang saya lakukan di rumah. Saya berikan gratis kepada siapapun,” kata Pertiwi, peserta seleksi IV Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2020. Dia hanya minta tanaman kelor yang diberikan itu dirawat dan dimanfaatkan. 

Pertiwi dengan budidaya tanaman kelor yang kaya manfaat

Pertiwi juga minta kepada para penerima bantuan tanaman kelor itu untuk menginfokan perkembangan tanamannya. “Saya juga minta supaya sewaktu-waktu diijinkan untuk mengecek tanaman itu sewaktu-waktu,” terang Pertiwi, yang juga penerima penghargaan Eco Student (Elementary) of the Year 2019 dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini ini.  

Selama sekitar 3 bulan masa darurat COVID-19 yang mengharuskannya di rumah saja, Pertiwi tidak pernah membiarkan ada satu hari pun terlewat tanpa melakukan aksi yang berkaitan dengan budidaya tanaman kelor. 

“Minimal yang saya lakukan adalah menyiram dan merawat tanaman kelor yang saya budidaya di rumah,” terang putri kelahiran Surabaya, 14 Juli 2008 ini. Untuk melakukan aksinya ini, kedua orang tuanya menjadi timnya yang handal.

Pertiwi dibantu kedua orang tuanya memanfaatkan indukan pohon kelor untuk dibudidayakan

Pemanfaatan tanaman kelor untuk beragam olahan makanan dan minuman juga sering dilakukan oleh Pertiwi. “Saya biasa mengolah daun tanaman kelor untuk stick kelor, sempol kelor, sayur kelor, teh daun kelor dan minuman kesehatan lainnya,” terang Pertiwi.

Budidaya tanaman kelor ini dilakukan oleh Pertiwi karena manfaatnya yang banyak. “Dari buku yang saya baca, tanaman kelor itu bisa mengobati sekitar 1000 penyakit. Di antaranya bisa menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan mata, juga menurunkan resiko penyakit ginjal dan rematik,” terang Pertiwi.

Pembibitan tanaman kelor yang tergolong cukup mudah membuat upaya yang dilakukan oleh Pertiwi. “Saya melakukan pembibitan 1000 tanaman kelor melalui semai biji dan stek dari indukan tanaman di rumah keluarga di Menganti,” terang Pertiwi Eka.

Pertiwi mengecek perkembangan tanaman kelor di salah satu penerima bantuan tanaman darinya

Untuk wadah penyemaian tanaman kelornya, Pertiwi memanfaatkan barang-barang bekas yang sengaja dia kumpulkan dari sekitar tempat tinggalnya. “Saya memanfaatkan botol plastik bekas air mineral dan bekas kemasan deterjen serta softergen untuk melakukan pembibitan tanaman kelor ini,” kata Pertiwi Eka Putri Handayani.

Selama budidaya 1000 tanaman kelor dalam 4 bulan terakhir, banyak pengalaman yang didapat oleh Pertiwi. “Saya jadi banyak mengenal orang-orang baru dengan budidaya tanaman ini. Banyak orang yang mendoakan dan mendukung saya,” tutur Pertiwi Eka Putri Handayani.

Namun, Pertiwi pernah juga pernah dianggap seperti penjual tanaman ketika mencoba memasuki beberapa rumah orang. “Padahal saya tidak menjualnya. Saya memberi bantuan tanaman kelor gratis itu kepada mereka yang mau menanamnya di pekarangan rumah,” ujarnya.

Pertiwi saat menyerahkan tanaman kelor gratis kepada yang berminat merawatnya

Dengan membagikan 1000 tanaman kelor hasil pembibitannya ini, Pertiwi berharap bisa berbagi dengan masyarakat pada masa krisis akibat pandemi COVID19 ini. “Tanaman kelor itu bisa mendukung ketahanan pangan dan kesehatan keluarga,” pungkas Pertiwi Eka Putri Handayani.

Pertiwi juga sangat aktif menerapkan perilaku mengolah sampah di rumah. Di antaranya selalu berbelanja menggunakan tas belanja kain yang berulang kali pakai. Dia bersama kedua orang tuanya juga senantiasa membawa tumbler setiap kali beraktivitas di luar rumah. Dari 12 poin Keluarga Zero Waste 2020, keluarganya selalu menerapkannya.

Pengumpulan sampah non organik bahkan dilakukan oleh Pertiwi dari tetangga di sekitar rumahnya. Setelah dipilah di rumah, sampah non organik itu sering dia sedekahkan kepada pemulung sampah yang biasa melewati rumahnya. Sering juga dia setorkan ke bank sampah di sekolahnya.

“Saya juga sering menerima jelantah dari tetangga di sekitar rumah. Jelantah juga sering saya terima dari orang-orang yang menerima bantuan tanaman kelor hasil pembibitan saya,” pungkas Pertiwi Eka Putri Handayani. 

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *