Raillado and The Gank, Wujudkan Keluarga Sadar Iklim

Raillaldo Bima Heksa Putra adalah nama lengkap siswa SMP Negeri 19 Surabaya yang berhasil merealisasikan 13 poin tantangan keluarga sadar iklim. Tidak hanya merealisasikan, ia juga berhasil menjadi juara 2 keluarga terbaik SurabayaEco School 2020 yang bertema “climate action on pandemic” tingkat SMP.

Bersama keluarganya siswa yang akrab disapa Bima ini berusaha merealisasikan poin ke 3 yaitu pemilahan sampah non organik. Sampah non organik yang berhasil dipilah yaitu kardus, Koran, kaleng cat, botol bekas minuman hingga minyak jelantah. Menurutnya dalam merealisasikan keluarga sadar iklim itu harus dimluai dengan yang paling mudah.

Bima baru menyadari bahwa membeli dengan kemasan besar adalah cara untuk pengurangan sampah kemasan produk dan plastik. Informasi tersebut ia teruskan kepada ibunya sehingga ketika berbelanja di supermarket membeli dengan kemasan besar. 4 Oktober 2020 untuk pertama kalinya keluarga membeli semua kebutuhan rumah tangga dalam kemasan besar seperti minyak goring, sabun cuci piring, dan deterjen.

Selain membeli dengan kemasan besar, ketika berbelanja di supermarket juga menggunakan tas belanja yang dibawa dari rumah sehingga resiko limbah plastik semakin berkurang.

Bima beserta ibunya juga melalukan pengumpulan minyak jelantah dirumah. Karena penggunaan minyak goring sangat sedikit maka jelantah yang terkumpul juga sedikit. Bima berinisiatif melakukan sosialisasi pengumpulan minyak jelantah yan dilakukan di Balai RW. Dalam sosialisasi tersebut sedikitnya 20 peserta yang terdiri dari ibu-ibu yang hadir. Rencananya para peserta juga ikut andil dalam pengumpulan minyak jelantah.

Raillaldo bersama ibu-ibu dalam sosialisasi pengumpulan minyak jelantah

Jika melihat rumah Bima maka kesan pertama kali yang hadir dipikiran adalah tanaman rindang. Dirumah tersebut bima sangat memanfaatkan seluruh bagian rumahnya untuk penghijauan termasuk pemanfaatan lahan sempit. Disamping rumahnya terdapat puluhan jenis tanaman yan tumbuh subur, ia juga memanfaatkan atap rumah sebagai media penanaman.

“Pemanfaatan lahan sempit saya gunakan untuk budidaya tanaman buah naga.” Ujar Bima. Selain penghijauan hal tersebut dilakukan untuk menambah nilai ekonomis dengan hasil budidaya tanaman buah naga.

Pencacahan sampah organik sebagai bahan dasar pupuk kompos

Banyaknya tanaman berbandung lurus dengan banyaknya sampah organik yang dihasilkan oleh tanaman. Untuk mengatasi sampah organik, bima juga melakukan pengomposan dirumah. Berbekal tong cat bekas dan larva maggot yang dibelinya dari salah satu komunitas. Pengomposan bima berjalan dibantu dengan ayahnya. Meskipun belum panen, tapi ia yakin apa yang dilakukan bersama keluarganya membawa manfaat bagi lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *