40 Penghargaan Terbaik Surabaya Eco School 2020 Diserahkan

Awarding Surabaya Eco School 2020 digelar di Ruang Sidang Wali Kota, lantai 2 Balai Kota Surabaya, Jum’at (8/1/2021). 40 penghargaan diserahkan oleh Plt Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana kepada individu siswa, guru dan kepala sekolah terbaik serta serta sekolah.

Mengawali pelaksanaan awarding itu, Aktivis Senior dan Presiden Tunas Hijau Mochamad Zamroni menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 tidak menjadi halangan bagi sekolah-sekolah di Surabaya untuk terus aktif melakukan aksi peduli lingkungan hidup sehari-hari.

“Surabaya Eco School 2020 ini mengangkat tema ‘Climate Action on Pandemic’ dengan implementasi gerakan keluarga sadar iklim dan sekolah sadar iklim,” kata Mochamad Zamroni.

Keluarga Sadar Iklim 2020 terbaik SD

Dijelaskan oleh Zamroni, melalui keluarga sadar iklim bahwa warga sekolah diajak untuk merealisasikan aksi peduli lingkungan bersama keluarganya di rumahya masing-masing. “Sedangkan melalui sekolah sadar iklim, pengelolaan lingkungan di sekolah selama pandemi diminta untuk terus aktif meskipun dengan sedikit orang,” ujar Zamroni.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menyatakan, program Surabaya Eco School ini diharapkan dapat memberikan pendidikan lebih dini kepada anak-anak agar peduli terhadap lingkungan. Apalagi di masa pandemi mereka juga diarahkan ke arah keluarga yang peduli terhadap ekosistem dan iklim.

“Karena memang Surabaya sendiri sudah berhasil menurunkan 2 derajat suhu pemanasan global. Dan ini yang kita harapkan bisa berlanjut pada generasi ke depan, anak muda, anak didik yang melanjutkan kita,” kata Whisnu saat ditemui usai awarding.

Eco Teacher (Junior) of the Year 2020 Uswatun Hasanah, Eco Headmaster (Junior) of the Year 2020 Elly Dwi Pudjiastuti dan Eco Student (Junior) of the Year 2020 Tristan Kesyandria bersama Plt Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana

Menurut dia, melalui pendidikan terhadap kepedulian lingkungan lebih awal, maka akan menumbuhkan kebiasaan yang lebih baik bagi anak-anak. Meski begitu, kekurangan terkait kepedulian lingkungan juga diharapkan bisa terus diperbaiki ke depannya. Untuk itu, pemkot akan terus memberikan dukungan terhadap aksi lingkungan tersebut.

“Artinya, nanti bisa kita lanjutkan dari Dinas Pendidikan, DKRTH (Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau) untuk lebih aktif lagi memantau sekolah itu agar lebih peduli pada lingkungan,” ujar Whisnu.

Apalagi, kata Whisnu, di antara masalah lingkungan yang ada di perkotaan adalah tentang sampah dan banjir. Nah, untuk mengatasi hal itu diperlukan upaya-upaya pengelolaan sampah yang dimulai dari hulu, seperti di sekolah, rumah tangga dan perkampungan.

Eco Headmaster (Elementary) of the Year 2020 Ika Suci Rahayu, Eco Student (Elementary) of the Year 2020 Sarlita Zahra dan Eco Teacher (Elementary) of the Year 2020 Arif Dwi Santoso bersama Plt Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana

“Contoh tadi ada SDN Rungkut Menanggal I yang mengolah sampah organik sampai bisa menghasilkan 1 ton kompos. Juga beberapa sekolah lain yang bisa sampai tiga ton. Ini kan luar biasa. Hal seperti ini yang kita harapkan sehingga nanti sampai bisa tereduksi dari hulunya,” papar dia.

Meski demikian, Whisnu mengakui bahwa Pemkot Surabaya terus berupaya menekan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Upaya pemkot ini salah satunya dilakukan dengan cara mengelola sampah menjadi energi listrik.

“Kita harapkan tidak terus bertambah volumenya yang di TPA, walaupun penduduk Surabaya bertambah. Tetapi, ada penyelesaian di hulu, pengolahan di hulu, baik di sekolah, rumah tangga dan kampung-kampung sehingga juga bermanfaat bagi warga,” terang Whisnu.

Sekolah terbaik Surabaya Eco School 2020. SDN Rungkut Menanggal I, SDN Kandangan III, SDN Margorejo I, SDN Pakis III dan SDN Nginden Jangkungan I

Tak hanya bermanfaat untuk menekan jumlah volume sampah di TPA dan mencegah terjadinya banjir. Menurut Whisnu, pengelolaan sampah yang dilakukan warga ini sebenarnya juga dapat menambah income pendapatan. “Bank sampah, komposting, itu akan menjadikan tambahan ekonomi juga bagi warga Surabaya,” tambahnya.

Sebagai diketahui, Surabaya Eco Shool 2020 merupakan program kegiatan peduli lingkungan, hasil kerjasama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan Tunas Hijau. Di tahun 2020, kegiatan ini diselenggarakan mulai bulan September sampai dengan Desember 2020.

Aktivis Tunas Hijau Richi Razak menambahkan, Surabaya Eco School 2020 dengan gerakan Sekolah dan Keluarga Sadar Iklim 2020 diluncurkan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Supomo pada 23 September 2020. Kemudian pada 25 September 2020 dilakukan workshop secara virtual. “Semua mulai aksi pada 1 Oktober 2020. Aksi dilakukan selama 77 hari,” katanya.

Sekolah terbaik Surabaya Eco School 2020 SMP. SMPN 22, SMPN 12, SMPN 11, SMPN 40 dan SMPN 26

Dalam setiap aksi, lanjut Razak, setiap sekolah mengirimkan peserta sebanyak 10 keluarga. Peserta ini bisa berasal dari keluarga siswa, guru, atau karyawan sekolah. Selama program berlangsung, tercatat ada 4.200 keluarga dengan sekitar 28.100 aksi. “Aksi paling mudah memang belanja dalam kemasan besar atau menghindari belanja sasetan. Aksi tersebut banyak dilakukan oleh keluarga sadar iklim,” urai Richi Razak.

Selain itu, ada aksi merawat tanaman di rumah, mengumpulkan minyak jelantah dengan mengajak tetangga sekitar, memilah sampah organik dan non organik, dan mengolah sampah organik. 

“Total ada 13 poin realisasi Keluarga Sadar Iklim 2020. Para keluarga yang menang, memang intensitas aksinya cukup tinggi. Aksi ini berulang kali dilakukan dan jadi pembiasaan sehari-hari,” pungkas Richi Razak.

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *