Peserta Bersih Pantai Berbagi Pengalaman Selama Kritis Covid

Bertepatan dengan hari ke-13 Ramadhan 1442 H, aksi bersih pantai ke-30 digelar di sekitar Jembatan Surabaya Madura dan Benteng Kedung Cowek Surabaya, Minggu (25/4/2021). Sekitar 50 orang mengikuti aksi bersih pantai ini. Para peserta aksi itu hadir bersama keluarga. 

Mereka berasal dari SDN Rungkut Menanggal I, SDN Nginden Jangkungan I, SDN Perak Utara I, SDN Wonorejo VI, SDN Pradah Kalikendal I, SDN Gunung Anyar Tambak, SDN Tanah Kalikedinding I, SD Al Azhar 11, SMPN 6, SMPN 8, SMPN 22, SMPN 41, SMPN 20, SMPN 26, dan SMPN 41.

Sampah lebih dari 3/4 truk berhasil dikumpulkan pada aksi bersih pantai ini. Sebagian besar adalah sampah yang dibawa oleh air laut. “Selain sampah plastik dalam beragam bentuk, banyak juga sampah dedaunan trembesi yang kami kumpulkan,” ujar Kepala SDN Rungkut Menanggal I Surabaya Ika Suci Rahayu, yang juga plt kepala SDN Nginden Jangkungan I.

Pangeran Lingkungan Hidup 2020 Tristan Kesyandria Ali Pasha bersama keluarganya

“Alhamdulillah masih bisa terus bergabung dengan aksi rutin ini,” kata Dini Calista Ivana, siswa SDN Gunung Anyar Tambak Surabaya, yang juga peserta Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2021. Dini ikut pada dua aksi bersih pantai selama Ramadhan 1442 H ini. Dia juga aktif ikut aksi itu bersama keluarganya sebelum Ramadhan.

Sementara itu, Pangeran Lingkungan Hidup 2020 Tristan Kesyandria Ali Pasha bersama keluarganya kembali ikut serta aksi bersih pantai ini setelah 3 aksi absen. “Alhamdulillah kami bisa ikut kembali aksi bersih pantai ini setelah absen karena harus dirawat di rumah sakit karena Covid 19,” kata Rudi Arif Hermanto, ayah dari Tristan.

Usai aksi bersih pantai pun dimanfaatkan untuk sesi berbagi oleh kedua orang tua Tristan mengenai pengalamannya selama positif COVID 19. “Covid 19 belum reda. Saya merasakan sendiri betapa tersiksanya positif COVID 19 yang harus dirawat di rumah sakit,” kata Rudi Arif Hermanto kepada seluruh peserta aksi bersih pantai.

Arkaan bersama adiknya, Afiqah, dan ibunya pada bersih pantai ke-30. Nampak juga plt Kepala SDN Nginden Jangkungan I Surabaya Ika Suci Rahayu

Rudi mengajak masyarakat, melalui peserta bersih pantai, untuk terus disiplin menerapkan protocol kesehatan. “Cukup dari pengalaman saya, bapak/ibu/anak-anak sekalian tahu betapa menyiksanya COVID 19. Jangan sampai terpapar,” tambah Rudi.

Ery Yuliana, ibu dari Tristan, yang juga seorang dokter, menambahkan bahwa dirinya harus isolasi mandiri di rumah. “Alhamdulillah keempat anak saya negative. Tapi saya tidak berinteraksi langsung dengan mereka selama isolasi mereka,” terang dr. Ery Yuliana.

Ery Yuliana menjelaskan kepada para peserta aksi bahwa ada biaya yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan untuk perawatan Rudi Arif Hermanto selama dirawat di rumah sakit karena COVID 19. 

Keluarga dari SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya

“Biaya itu selain biaya perawatan yang ditanggung oleh pemerintah. Yaitu obat yang disarankan dokter yang merawat saat kondisi suami saya kritis,” tambah Ery Yuliana. Satu obat suntik untuk satu hari seharga 15 juta rupiah. “3 obat digunakan suami saya saat kritis 3 hari,” jelas Ery. Jadi selama 3 hari totalnya 45 juta rupiah untuk 3 obat suntik itu.

Ery menjelaskan bahwa kini berbeda dengan sebelumnya. “Dulu isolasi mandiri dikirimi makanan oleh Pemerintah Kota Surabaya ke rumah. Kini sudah tidak ada lagi,” jelas Ery. Dengan dirawat atau isolasi mandiri karena COVID 19, maka kita juga berarti tidak bisa bekerja.

Penulis: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *