Pencegahan Intrusi Air Laut

Beberapa kawasan pantai di Indonesia air sumurnya (air tanah) payau bahkan asin seperti air laut. Hal ini bisa terjadi karena kawasan tersebut merupakan kawasan bekas tambak yang dipakai permukiman sehingga lapisan tanahnya banyak mengandung garam, kawasan reklamasi (laut yang diurug), atau karena intrusi air laut. 

Intrusi air laut adalah masuk atau menyusupnya air laut ke dalam pori-pori tanah dan atau batuan akan menyebabkan air tanah yang awalnya tawar berubah menjadi payau atau asin. Secara alamiah air laut tidak dapat masuk jauh ke daratan sebab air tanah memiliki piezometrik yang menekan lebih kuat dari pada air laut, sehingga terbentuklah interface sebagai batas antara air tanah dengan air laut, batas kesetimbangan antara air laut dan air tanah.

United States Geological Survey (USGS) menyebutkan bahwa, penyebab terjadinya intrusi adalah pemompaan air tanah yang berlebihan dari akuifer. Meningkatnya permukaan air laut bila air laut meningkat 10 sentimeter bisa menyebabkan intrusi air laut ke air tanah sejauh 100 meter. 

Penyebab ketiga adalah pembangunan di sekitar pantai. Beberapa pembangunan masif di sekitar pantai berdampak pada terjadinya intrusi air laut. Contohnya adalah pembangunan jalan, gedung, lahan parkir, dan jembatan. Pembangunan ini berisiko merusak lapisan akuifer dan memberi jalan untuk air laut masuk ke dalamnya. 

Gambar 1 : Intrusi air laut. Gambar atas pada intrusi alami, dimana pengambilan air tanah masih seimbang dengan masuknya air tanah. Gambar bawah batas intrusi terganggu karena pengambilan air tanah melebihi dari masuknya air tanah

Dampak intrusi air laut, maka air sumur tidak bisa dipakai untuk air minum. Air juga tidak akan berbusa bila dipakai mencuci pakaian dan pakaian akan lebih cepat lusuh. Tidak hanya itu, masyarakat juga merasakan bahwa mandi dengan air yang terkontaminasi air laut akan menjadi lengket di kulit (Kompas).

Kawasan pantai yang datar, air laut memiliki berat jenis yang lebih besar dan volume lebih banyak dibandingkan dengan air tanah, akibatnya air laut akan mudah mendesak air tanah semakin masuk. Sebaliknya di kawasan pantai berdampingan perbukitan/pegunungan akan terjadi sebaliknya dimana air tanah volume dan tekanan lebih besar dari air lau sehingga air tanah lebih masuk ke dalam lautan dan sering muncul sebagai sumber air tawar di tengah laut. 

Intrusi air laut terjadi bila keseimbangan alam terganggu. Bila intrusi sudah masuk pada sumur, maka sumur akan menjadi asin sehingga tidak dapat lagi dipakai untuk keperluan sehari-hari (Gambar 1). Perubahan air tanah tawar menjadi payau atau asin bisa disebabkan adanya naiknya batas interface (upconing) dikarenakan pengambilan air tanah berlebihan (Gambar 2.)

(ESDM) tahun 2015 menunjukkan, untuk lapisan akuifer bebas, dari 85 lokasi sumur yang dipantau, hanya ada 16 lokasi yang memenuhi baku mutu. Di lokasi akuifer tertekan, dari total 69 lokasi yang diambil sampelnya, hanya 12 lokasi yang airnya memenuhi baku mutu. Persebarannya meliputi wilayah utara, barat dan timur Jakarta mengandung NaCl (garam). 

Gambar 2 : Gambar kiri upconing di kawasan pantai. Gambar kanan upconing di pulau

Sementara di bagian tengah hingga Depok beragam. Berdasarkan Data Dinas Tata Air DKI Jakarta, 2015 menunjukkan bahwa jumlah pemakai air tanah secara legal meningkat dari tahun 2011 ke 2014. Pada 2011, jumlah pemakai air tanah sebanyak 4.231 lokasi, 

Siaran Pers Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor: 639.Pers/04/Sji/2019 memberikan arahan pengurangan Laju Intrusi Air Laut Wilayah Jakarta dikarenakan pemanfaatan air tanah secara berlebihan di wilayah Jakarta menjadi salah satu penyumbang terjadinya penurunan tanah (land subsidence) dan intrusi air laut. 

Pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi dampak penurunan air tanah dan intrusi air laut, seperti dengan membangun beberapa tanggul untuk mencegah air laut masuk ke daratan, pengendalian dari pengaruh manusia terhadap laju penurunan permukaan tanah dengan memperhatikan tumpuan atau pondasi yang harus berada di atas batuan keras, baik itu bangunan berupa gedung, jembatan, dan lainnya.

Penulis: Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si. Peneliti Senior Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *