Putri LH 2022 Callysta (2), Aktif Memberdayakan Masyarakat Budidaya Maggot dan Budikdamber

Setelah proyek lingkungan hidupnya berhasil, Callysta Kusuma Azalia yang hobi renang dan traveling ini membagikan pengalamannya ke orang lain. Setelah berdiskusi dengan orang tua dan Tri Wahyuningtyas pembinanya, disepakati untuk mengadopsi 18  RW di 7 kelurahan sebagai kampung binaan dan 2 SDN binaan. 

Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mensosialisasikan proyeknya kepada masyarakat agar masyarakat tertarik untuk melakukan budidaya ikan lele dalam ember. “Saya juga memberikan bantuan ember, bibit ikan lele dan bibit tanaman kangkung ke kampung binaan serta menyuplai maggot sebagai pakan lele,” kata Callysta Kusuma Azalia.

Agar warga bisa berhasil mengembangkan budikdamber secara rutin, Callysta sering mengunjungi kampung binaannya. Tujuannya untuk melihat secara langsung upaya yang sudah dilakukan warga dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi warga sehingga permasalahan yang muncul bisa segera diatasi. Warga kampung binaan sangat antusias dalam melakukan proyek ini dan sudah berhasil melakukan panen lele dan kangkung 

Dari ikan lele yang dibudidaya, Callysta sudah berhasil mengembangkan produk olahan yaitu  abon lele, pastel abon lele, stick lele, siomay lele. “Hasil olahan tersebut sudah dipasarkan juga. Saya juga sudah memiliki produk unggulan yaitu maggota yang kepanjangan dari maggotnya Tita, yaitu pakan lele yang dibuat dari maggot,” kata Tita.

Callysta di salah satu kampung adopsinya

Callysta juga membuka “Ruang Edukasi” di rumahnya yang dibuka untuk umum. Siapapun yang ingin belajar tentang maggot dan budikdamber bisa mengunjungi Ruang Edukasi Callysta. Ruang Edukasi Callista sudah dikunjungi di antaranya oleh Ketua PGRI Kota Surabaya, dosen Ubhara, GMDM Surabaya, SMA Al Hikmah Surabaya, ITS Surabaya, STAI Al Azhar, Universitas Muhammadiyah Gresik, Kampung Markisa Gresik dan pengurus seluruh kampung binaannya.

Kampung yang pertama kali diajak oleh Callysta untuk membudidayakan ikan di dalam ember adalah Kampung Kali Kepiting Surabaya. 5 ember budikdamber yang masing-masing diisi 50 ekor bibit lele dan di atasnya ditanami kangkung secara aquaponik diserahkan kepada warga kampung. 

“Mereka bersemangat menerima ember yang berisi lele dan juga kangkung. Lebih bersemangat lagi ketika mereka mengetahui bahwa ada maggot yang bisa dimanfaatkan untuk pakan lele dan menguraikan sampah organik,” Tita menerangkan.

Kampung selanjutnya yaitu Kampung Simo. Kampung ini sangat bersemangat menerima paket lengkap Budikdamber (budidaya ikan dalam ember) dan terus mengembangkannya sampai menjadi produk olahan. “Kampung ini sangat bersemangat mengolah berbagai produk olahan lele. Saya bahkan sudah mengadakan Workshop Olahan Makanan Berbahan Dasar Ikan Lele,” Tita menuturkan. 

Callysta bersama warga kampung adopsinya dan budikdamber

Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, menjadi tujuan kampung adopsi selanjutnya. Diawali dengan Kampung Legundi yang masuk wilayah Kelurahan Ketabang, Callysta memulai aksinya dengan membagikan 5 ember budikdamber dan aquaponik kepada warga di RT 06 RW 3 Legundi. “Warga menyambutnya dengan sangat antusias,” Tita menjelaskan. 

Melihat semangat dan antusiasme warga RT 06, 3 RT yang wilayahnya berdekatan dengan RT 06 pun ingin ikut membudidayakannya. Maka, Callysta pun bergerak cepat dengan didukung keluarga dan guru pembimbing untuk memberikan paket budikdamber kepada warga RT 01, 03, dan 05 di wilayah RW yang sama. 

Warga begitu bersemangat mengembangkan budidaya yang telah diberikan dan disosialisasikan oleh Callysta di kampungnya. Bahkan mereka sangat tertarik ketika mengetahui bahwa maggot dapat dijadikan pakan alternatif bagi lele yang mereka budidayakan.

Setelah 4 RT adopsi yang ada di wilayah Kecamatan Genteng ini berjalan dengan budidaya lele dan kangkungnya, serta merawat maggot dengan pemberian sampah organik sebagai makanannya, Callysta mulai mengembangkan proyeknya dengan menemui Camat Genteng Muhammad Aries Hilmi.

Callysta saat mensosialisasikan proyeknya kepada masyarakat kampung yang akan diadopsinya

“Saya mau menyebarkan dampak yang lebih besar lagi. Callysta ingin mengajak lebih banyak lagi kampung di wilayah kecamatan Genteng untuk membudidayakan lele, kangkung, dan maggot,” Callysta mengatakan kepada Camat Genteng.

Menemui Camat Genteng, membuat Callysta semakin bersemangat mengembangkan proyek lingkungan hidupnya. Camat Genteng memberikan daftar 12 RW yang bisa dibina dan diadopsi menjadi kampung yang peduli sampah dan ketahanan pangan. 

Selangkah demi selangkah Callysta memperkenalkan proyek lingkungan hidupnya kepada 12 RW yang telah dipercayakan kepadanya. 12 RW tersebut tersebar di 4 kelurahan di wilayah Kecamatan Genteng, yaitu Kelurahan Embong Kaliasin, Kelurahan Ketabang, Kelurahan Peneleh, dan Kelurahan Genteng. 

Callysta memulainya dengan membagikan Budikdamber dan Aquaponik lalu memberikan pelatihan atau workshop kepada masing-masing RW untuk merawatnya. Kemudian dilanjutkan dengan membagikan maggot untuk bisa dimanfaatkan dalam penguraian sampah organik yang ada di wilayah RT/RW tersebut. 

Callysta juga rutin mengunjungi kampung adopsinya untuk berkegiatan bersama seperti memilah sampah, memberi makan lele, menyemai bibit kangkung, dan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama. (bersambung)

Penulis: Pirno Siswantoro, Tri Wahyuningtyas

Penyunting: Mochamad Zamroni

2 thoughts on “Putri LH 2022 Callysta (2), Aktif Memberdayakan Masyarakat Budidaya Maggot dan Budikdamber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *