“Best Practice” Satu Gudep Satu Wirausaha

Berkolaborasi lagi dengan Sutiana, S.Pd., M.M.Pd. rasanya seperti kembali ke masa saat kami bersama dalam satu tim “menggarap” wirausaha lingkugan hidup Ecopreneur di SDN Kaliasin 1 Surabaya. Meski sekarang kami telah pindah tugas ke sekolah yang berbeda (Sutiana di SDN Ketabang 1 dan saya di SDN Jemur Wonosari 1),  namun semangat dalam menanamkan pembiasaan kepedulian lingkungan hidup kepada anak-anak didik kami ternyata masih terus membara. 

Mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman kami dalam menggerakkan seluruh “stakeholder” sekolah dalam program kewirausahaan menjadikan kami lebih bersemangat lagi untuk terus menggerakkan komunitas yang ada di sekitar kami secara berkelanjutan dalam melakukan aksi nyata lingkungan hidup sekaligus “menghasilkan keuntungan” dalam berwirausaha. 

Pagi itu, Jumat (14/4/2023), Sutiana dan saya mendapatkan kesempatan dari Tunas Hijau Indonesia dan Dispora Provinsi Jatim untuk menyampaikan materi dalam Workshop untuk Pembina Pramuka di Jawa Timur tentang kewirausahaan dengan tema “Satu Gudep Satu Wirausaha”.

Sesi Workshop yang dipercayakan kepada kami tersebut kami beri judul “Best Practice – Satu Gudep Satu Wirausaha”, karena kami akan menceritakan pengalaman-pengalaman kami. Kami lebih fokuskan kepada apa yang bisa dilakukan oleh Gugus Depan dan sekolah untuk mewujudkan kewirausahaan, langkah awalnya dalam menjalankan kewirausahaan tersebut, bagaimana memperoleh modal awal untuk kewirausahaan Gudep, serta bagaimana menjaga keberlanjutan program kewirausahaan itu sendiri.

Di awal sebuah kewirausahaan sebuah Gugus Depan diperlukan pembentukan tim yang terdiri dari seluruh pemangku kepentingan sekolah. Hal ini sangat penting karena dengan melibatkan seluruh warga sekolah / gudep maka setiap pihak akan merasa ikut memiliki dan berperan aktif dalam mengembangkan kewirausahaan tersebut. 

Tim yang dibentuk bisa menyesuaikan dengan kondisi gudep masing-masing dan tergantung pada kewirausahaan apa yang akan dikembangkan. Secara sederhana, seluruh pihak yang terlibat bisa ditempatkan dalam tim-tim, seperti: tim produksi, tim promosi, tim pemasaran, dan tim keuangan. 

Sebuah “Student Company” atau perusahaan siswa tentunya memerlukan modal untuk memulai wirausahanya. Saya dan Ibu Sutiana menyarankan untuk para pembina Pramuka yang mengikuti workshop agar melihat aset / sumber daya / kekuatan dari gudep masing-masing dalam mendapatkan modal di awal menjalankan program kewirausahaan. 

Hal ini sangat penting dilakukan, karena sebenarnya di sekitar kita ada banyak potensi yang kadang-kadang tidak “terlihat” karena kita hanya melihat kekurangan dan kelemahan. Maka “melangkah” terlebih dahulu dengan fokus kepada “kekuatan” yang ada di sekitar kita menjadi titik awal yang sangat penting agar sebuah program dapat berjalan. 

“Sampah” yang seringkali dilihat sebagai masalah pun bisa menjadi modal awal yang sangat menjanjikan. Dengan sampah non organik yang telah dipilah lalu dijual ke bank sampah atau pengepul pasti akan menghasilkan uang yang bisa kita jadikan modal awal bagi wirausaha gudep kita. 

Pada saat kami menjalankan program kewirausahaan bersama, kami sempat berjualan baju bekas layak pakai di Taman Mundu dan Taman Bungkul Surabaya. Ini menjadi salah satu cerita sukses kami, karena dalam semalam kami pernah meraup keuntungan sebesar lebih dari 3 juta rupiah yang kemudian dapat kami gunakan untuk mengembangkan wirausaha di sekolah kami saat itu. 

“Kolaborasi” juga menjadi kata kunci kesuksesan wirausaha di gudep / sekolah kita. Semakin banyak orang yang terlibat dengan kelebihan masing-masing akan semakin membuat wirausaha kita berkembang. Kita bisa melibatkan siswa, orang tua siswa, guru, dan tenaga kependidikan di sekolah untuk ikut menyumbangkan ide, tenaga, pemikiran, bahkan memberikan pelatihan bagi departemen-departemen dalam Tim Kewirausahaan kita. 

Sesi berbagi di Hotel Aston Sidoarjo tersebut kami tutup dengan memompakan semangat bagi seluruh peserta workshop untuk dapat membuat rencana kegiatan 2 minggu ke depan agar bisa langsung memulai program “Satu Gudep Satu Wirausaha”. Kami juga menyampaikan kepada seluruh peserta agar terus melangkah maju dengan fokus kepada kekuatan dan potensi yang ada. 

Menjadi wirausahawan juga tidak boleh “baperan” dan terhenti karena mendengar komentar negatif dari sekeliling kita. Jadikan kesulitan yang ada menjadi aset dan kekuatan yang akan membuat wirausaha kita makin berkembang. Selamat berproses Kakak-kakak Pembina Pramuka Jawa Timur. Mari bersama mewujudkan “Satu Gudep Satu Wirausaha”. Salam Pramuka!

Penulis : Tri Wahyuningtyas, S.Pd.

6 thoughts on ““Best Practice” Satu Gudep Satu Wirausaha

  • Mei 10, 2023 pada 18:10
    Permalink

    Keren banget Mam Tri Wahyuningtiyas dalam memompa semangat kakak-kakak Pembina Pramuka Jawa Timur

    Aisyah Avicena RL
    SDN JEMUR WONOSARI 1 SURABAYA

    Balas
    • Mei 12, 2023 pada 09:16
      Permalink

      Keren banget, semoga bisa dilakukan pembinaan disekolah2 ya

      Putu Deana Sathya Kayana
      SDN Menanggal 601 Surabaya
      No peserta : 139

      Balas
      • Mei 18, 2023 pada 14:54
        Permalink

        Keren sekali!!

        Nama: Zahra talitha tsany
        Sekolah: SMPN 40 surabaya
        No peserta: 964

        Balas
  • Juli 28, 2023 pada 19:18
    Permalink

    Sangat memotivasi ??
    Nama: Ayu Sintia Nengseh
    No. Peserta: 486
    Sekolah: SMP AL-ISLAH
    Proyek: Budidaya Bunga Telang

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *