Beradaptasi dengan Gempa. Ikuti Webinar Nasional Seri#180 Sabtu (2/3/2024)

Kerusakan akibat gempa besar terlihat nyata di berbagai belahan dunia. Untuk Indonesia gempa skala < 6 sangat merusak seperti yang terjadi beberapa daerah seperti di Aceh, Jogja, Padang, Mamuju, Cianjur dan banyak tempat lainnya. Gempa skala > 7 yang terjadi di darat lebih mengerikan seperti yang terjadi di Turki yang menghancurkan ratusan apartemen dan kerugiannya tembus Rp521 Triliun.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia mencatat rata-rata kerugian akibat bencana di Indonesia sebesar Rp 22,85 triliun. Adapun rata-rata kerusakan berasal dari gempa bumi, kebakaran, dan banjir. Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara (PRKN) Kementerian Keuangan menyebutkan setidaknya ketiga bencana alam besar tersebut menjadi penyumbang terbesar atau sekitar 76,7 persen.

Kementerian Keuangan merinci bencana Tsunami di Aceh pada 2015 menjadi bencana penyumbang terbesar kerugian negara sebesar Rp 51,4 triliun. Selanjutnya bencana gempa Yogyakarta pada 2006 sebesar Rp 29,15 triliun, bencana gempa Padang pada 2009 sebesar Rp 28,5 triliun, Gempa dan Tsunami Sulteng pada 2018 sebesar Rp 23,1 triliun, dan gempa NTB pada 2018 sebesar Rp 18,2 triliun. 

Gempa Majene tercatat total kerusakan dan kerugian mencapai Rp829,1 miliar. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 November 2022. Akibatnya sekitar 58 ribu rumah rusak dan 600 orang meninggal dunia. Ditaksir kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp 4 triliun.

Dampak gempa Palu

Indonesia banyak gempa sebagai konsekuensi dari tekanan lempeng tektonik sudah menekan Indonesia sejak jutaan tahun yang lalu. Pergerakan lempeng tektonik akan terus berlangsung dengan kecepatan tertentu antara 2 – 10 cm per tahun. 

Pada batas lempeng ini terjadi akumulasi energi sampai suatu batas tertentu atau dengan selang waktu tertentu kekuatan lapisan litosfer terlampui sehingga terjadi pelepasan energi yang dikenal dengan gempa bumi. 

Oleh karena lempeng tektonik bergerak terus maka kejadian gempa akan berulang dan terus berulang di masa depan  bisa terjadi tiap tahun, bisa tiap 10 tahun, bahkan bisa 100 tahun atau lebih. 

Dulu sebelum manusia didatangkan ke bumi, gempa ini tidak menimbulkan bencana. Saat sekarang dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menimbulkan persebaran manusia dengan aktivitasnya mendekati kawasan rawan gempa dan atau tsunami sehingga gempa dan tsunami ini berubah menjadi bencana.  

Untuk sementara ini gempa dianggap given dan data lokasi gempa dengan skala terbesar dan waktu ulang yang pernah terjadi merupakan data penting untuk berbagai upaya mengurangi risiko bencana gempa. 

Lalu, kenapa Tuhan menciptakan gempa yang menghancurkan dan mematikan?

*****

Webinar Nasional Seri#180 “Webinar Mitigasi Bencana Gempa” kembali akan digelar oleh Tunas Hijau ID bersama PT Dharma Lautan Utama, Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan & Perubahan Iklim ITS. Webinar ini juga didukung oleh Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Departemen Teknik Geofisika ITS, U-Inspire dan Dongeng Geologi.  

Narasumber:

  1. Fajar Shidiq, S.Sos, M.Si, (Han) – U-INSPIRE Indonesia.
  2. Maghfira Abida, S.T., M.Sc – Pengelola Dongeng Geologi; Pengurus Pusat IAGI.
  3. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si – Peneliti Senior Pusat Penelitian Mitigasi, Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS.

Moderator:

  1. Callysta Kusuma Azalia (Putri Lingkungan Hidup 2022 dan Siswi SDN Kaliasin I Surabaya)
  2. Talitha Aurora Diesta Putri Maqsudi (Putri Lingkungan Hiduo 2012 dan Mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang)
  3. Tri Wahyuningtyas, S.Pd {Guru SDN Jemur Wonosari I Sby; Guru Teladan Lingkungan (Eco Teacher) – Surabaya Eco Year 2023; Lifetime Achievement – Pembina Pangeran & Putri Lingkungan Hidup 2021; dan Guru Penggerak Angkatan 6′}

Pendaftaran gratis melalui :

Setiap peserta terdaftar dan mengisi daftar hadir akan mendapatkan sertifikat. Khusus bagi guru, disediakan sertifikat 32JP dengan syarat dan ketentuan.

Penulis: Amien Widodo

4 thoughts on “Beradaptasi dengan Gempa. Ikuti Webinar Nasional Seri#180 Sabtu (2/3/2024)

  • Maret 1, 2024 pada 12:21
    Permalink

    Tuhan dengan rahmat-Nya menciptakan alam semesta beserta mahluk dengan berbagai macam bentuk dan memiliki manfaat, tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak bermanfaat meskipun sebagian dari ciptaan Tuhan dianggap buruk oleh sebagian besar manusia.

    Allah dengan rahmat-Nya menjadikan hamparan bumi, tanaman dan hewan tunduk kepada manusia, untuk menyenangkan dan memenuhi kebutuhan manusia. Allah juga menciptakan beberapa kejadian agar kita semua berpikir & merenungkannya (dan agar menjadi pengetahuan) untuk diambil pelajarannya dan hikmah sehingga kita semua semakin bertakwa karena tanda-tanda kebesaran Allah.

    Dialah Allah yang menciptakan dunia beserta seluruh isinya, yang mampu menghancurkannya dalam sekejap juga memulihkannya sesuai dengan KehendakNya, dan Allah tidak pernah merasa berat memelihara seluruh ciptaanNya.

    Maha besar Allah,
    Jika kita melihat perbandingan ukuran kita dengan bumi, dengan planet lainnya dengan galaxy dan dengan semua yang ada diangkasa tentu kita tahu ukuran kita sangat sangat sangat sangat kecil sekali dibandingkan dengan seluruh tata surya yang bahkan sebagiannya para peneliti khususpun belum mengetahui jarak dan ukurannya.

    Ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan segala kejadian memiliki manfaat untuk dipelajari dan agar kita semakin bertawakal karena melihat tanda-tanda kebesaranNya.

    .

    Dari sudut pandang saya…
    Mohon maaf apabila kurang berkenan..

    Salam,

    Balas
    • Maret 4, 2024 pada 08:52
      Permalink

      menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan segala kejadian memiliki manfaat untuk dipelajari dan agar kita semakin bertawakal karena melihat tanda-tanda kebesaranNya.

      Balas
  • April 1, 2024 pada 21:48
    Permalink

    Nama : Stephani Dwi Puspa Anggun Pratiwi
    Sekolah : SMPN 3 SURABAYA
    No Peserta : 850
    Judul Proyek : ASI ULIB IGP ( Fermentasi Sisa Kulit Buah Isok Gawe Opo Ae )

    Saya memilih proyek Eco Enzyme, karena 70% sampah yang terbuang di TPA adalah sampah organik dan sisanya (30%) adalah sampah non organik.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *