Suku Kajang dan Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana

Suku Kajang adalah salah satu komunitas adat di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang terkenal akan kearifan lokalnya dalam menjaga keseimbangan alam. Mereka terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni Kajang Dalam (yang masih memegang teguh adat Ammatoa) dan Kajang Luar. Dalam konteks mitigasi bencana, terutama bencana ekologis seperti banjir, kekeringan, dan longsor, Suku Kajang memiliki sistem nilai dan praktik yang relevan dan terbukti efektif.

Salah satu prinsip dasar dalam kehidupan Suku Kajang adalah “Kamase-masea”, yaitu hidup sederhana dan tidak serakah terhadap sumber daya alam. Prinsip ini berperan penting dalam menjaga lingkungan tetap lestari. Dengan tidak menebang pohon sembarangan, tidak menggunakan bahan kimia untuk pertanian, dan menjaga kelestarian hutan adat, masyarakat Kajang secara alami telah meminimalkan risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Hutan adat Kajang, yang disebut Borong Karama, menjadi simbol penting dalam upaya mitigasi bencana. Hutan ini tidak boleh diganggu atau dieksploitasi secara sembarangan. Larangan keras ini dilindungi oleh hukum adat, dan pelanggarnya akan dikenai sanksi sosial dan spiritual. Praktik ini memastikan bahwa kawasan resapan air dan keanekaragaman hayati tetap terjaga.

Suku Kajang memiliki sistem nilai dan praktik yang relevan dan terbukti efektif memitigasi bencana, terutama bencana ekologis seperti banjir, kekeringan, dan longsor

Selain menjaga hutan, sistem pertanian masyarakat Kajang juga mencerminkan prinsip mitigasi bencana. Mereka menggunakan metode pertanian tumpang sari yang membantu menjaga kesuburan tanah, serta menggunakan benih lokal yang tahan terhadap perubahan cuaca. Mereka juga menanam tanaman penahan erosi di lereng-lereng bukit, yang menjadi bagian dari upaya pencegahan tanah longsor.

Dalam hal pengetahuan tradisional, Suku Kajang memiliki kalender musim dan cuaca yang diwariskan secara turun-temurun. Mereka mampu membaca tanda-tanda alam untuk memprediksi musim hujan, kekeringan, atau potensi badai. Dengan cara ini, mereka dapat mengatur waktu tanam dan panen secara bijak dan menghindari kerugian akibat bencana iklim.

Suku Kajang juga memiliki sistem komunikasi dan gotong royong yang kuat, yang sangat membantu saat terjadi bencana. Ketika ada bencana seperti banjir atau badai, masyarakat bergerak bersama secara cepat untuk melakukan evakuasi atau membantu warga terdampak. Mereka tidak mengandalkan bantuan eksternal semata, tetapi mengutamakan solidaritas dan bantuan internal berbasis komunitas.

Kepemimpinan adat juga memegang peran vital dalam pengambilan keputusan dan penegakan aturan lingkungan. Ammatoa, pemimpin tertinggi suku Kajang, dianggap suci dan berwibawa. Ucapan dan kebijakannya menjadi rujukan seluruh warga, termasuk dalam upaya menjaga alam dan merespons ancaman bencana. Dengan model kepemimpinan ini, masyarakat memiliki arah yang jelas dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Menariknya, nilai-nilai Suku Kajang kini mulai diperhatikan oleh para peneliti dan praktisi kebencanaan. Pendekatan mereka dianggap sebagai contoh penerapan nature-based solution yang efektif dan murah. Dalam konteks perubahan iklim yang semakin nyata, pelajaran dari Suku Kajang dapat menjadi inspirasi mitigasi berbasis komunitas.

Namun demikian, tantangan juga muncul, terutama dari tekanan modernisasi, eksploitasi lahan, dan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Beberapa wilayah adat mulai terancam, dan generasi muda Kajang perlu terus dilibatkan agar nilai-nilai ini tidak hilang. Pendidikan lingkungan dan penguatan kelembagaan adat menjadi penting untuk menjaga warisan mitigasi bencana ini tetap hidup.

Kisah Suku Kajang menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu harus mengandalkan teknologi tinggi. Kearifan lokal yang menyatu dengan alam justru bisa menjadi benteng paling kokoh dalam menghadapi bencana. Ke depan, pendekatan seperti ini perlu diakui, dilindungi, dan dijadikan bagian dari kebijakan nasional dalam penanggulangan bencana berbasis komunitas dan keberlanjutan.

Penulis: Mochamad Zamroni

45 thoughts on “Suku Kajang dan Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana

    • Juli 5, 2025 pada 22:36
      Permalink

      Seandy putri fitriasari
      Sdn mojo 3/222
      No peserta 422

      Suku Kajang berupaya untuk menjaga alam dan kelestarian lingkungan sehingga dapat menjadi inspirasi mitigasi ancaman bencana dan
      Kepemimpinan adat juga memegang peran vital dalam pengambilan keputusan dan penegakan aturan lingkungan.
      Kisah Suku Kajang juga menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu harus mengandalkan teknologi tinggi.

      Balas
  • Juni 1, 2025 pada 12:36
    Permalink

    Hebat, saya baru melihat suku yang dapat menjaga alamnya. saya suka melihat suku ini yang memiliki peraturan yang menurutku cukup ketat untuk menjaga tradisi. semoga ini bisa menginspirasi suku maupun masyarakat yang tinggal di kota

    Nama : Maulana Akbar Al Habib
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    Proyek : Pengelolaan sampah organik

    Balas
  • Juni 1, 2025 pada 17:34
    Permalink

    Saya Johanna Adreena Pasha dari SMPN 3 Surabaya. Di tengah ancaman perubahan iklim global, pendekatan Suku Kajang adalah bukti bahwa solusi terbaik kadang sudah ada sejak lama. Ini bukan hanya warisan budaya, tapi juga strategi bertahan hidup yang sangat relevan dengan kondisi sekarang

    Balas
  • Juni 6, 2025 pada 06:43
    Permalink

    Suku Kajang berupaya untuk menjaga alam dan kelestarian lingkungan sehingga dapat menjadi inspirasi mitigasi ancaman bencana.

    Nama : Fathan Alby A
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Anti Nyamuk.

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan, merusak ekosistem, dan mengganggu kualitas air tanah. Sabun yang dihasilkan dari pengolahan limbah minyak jelantah memiliki fungsi tambahan sebagai anti nyamuk yang pastinya aman digunakan karena mengandung bahan alami. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan. Yuk, jaga lingkungan kita.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
    • Juni 12, 2025 pada 10:22
      Permalink

      Kisah Suku Kajang membuktikan bahwa menjaga alam adalah bentuk nyata dari mitigasi bencana. Hidup sederhana, melestarikan hutan, dan gotong royong adalah warisan berharga yang patut kita pelajari dan lestarikan 🌱🌧️. Kearifan lokal adalah solusi masa depan!

      Saya Kenzo Anugrah Ramadhan
      dari SMP NEGERI 26 SURABAYA
      EGGSELENT – Dari Cangkang Telur jadi Solusi bukan Polusi 🥚♻️

      Balas
      • Juni 14, 2025 pada 15:43
        Permalink

        Luar biasa! Suku Kajang adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal bisa menjadi solusi mitigasi bencana yang efektif. Semoga semakin banyak orang belajar dari mereka.”

        Saya Jasmine Najwa priviana septy
        Dari smpn 26 surabaya dengan proyek
        “Soap bun’s”-sabun dari minyak jelantah

        Balas
        • Juni 16, 2025 pada 07:56
          Permalink

          Hai perkenalkan nama saya Nafisa Fitri Ramadania dari SDN jemur Wonosari 1/417 Surabaya
          Cerita di atas sangat menginspirasi, semoga seluruh masyarakat mencontoh suku kajang

          Balas
      • Juni 14, 2025 pada 21:11
        Permalink

        Suku Kajang memperlakukan hutan dengan terus berusaha melestarikannya melalui aturan-aturan adat seperti larangan menebang pohon, berburu satwa, merusak rumah lebah, bahkan mencabut rumput.
        Semoga seluruh Masyarakat Indonesia yang lain bisa meniru suku kajang.

        Nama : Sultan Pramana Al-Ayubi
        No peserta : 423
        Sekolah : SDN.Wonokusumo VI/45 Sby

        Balas
    • Juni 16, 2025 pada 12:14
      Permalink

      Suku Kajang memperlakukan hutan dengan terus berusaha melestarikannya melalui aturan-aturan adat seperti larangan menebang pohon, berburu satwa, merusak rumah lebah, bahkan mencabut rumput.
      Semoga seluruh Masyarakat Indonesia yang lain bisa meniru suku kajang.

      Nama : Celine Fawnia Dewanti
      Sekolah : SMPN 26 Surabaya
      Proyek : Ecoenzyme Penyelamat bumi

      Balas
  • Juni 13, 2025 pada 11:41
    Permalink

    Suku Kajang dan Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana
    hidup sederhana dan tidak serakah terhadap sumber daya alam tidak menebang pohon sembarangan, tidak menggunakan bahan kimia untuk pertanian, dan menjaga kelestarian hutan adat, meminimalkan risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor

    Tunas hijau 🌱selalu menginspirasi masyarakat agar selalu menjaga dan melestarikan lingkungan untuk keseimbangan alam ..

    Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_

    proyek tanaman sereh dengan berbagai manfaat dalam berbagai bidang dapat digunakan untuk obat-obat an, bumbu dapur hingga pengusir nyamuk

    Balas
  • Juni 13, 2025 pada 12:17
    Permalink

    kearifan lokal Suku Kajang sangat berharga sebagai pelajaran menjaga alam dan mitigasi bencana. Semoga semakin banyak yang mengapresiasi dan menerapkan nilai-nilai ini!

    Nama: Keisya Azellia Putri
    Asal Sekolah: SMPN 38 Surabaya
    Nama Proyek: Budidaya Sambung Nyawa
    Nomor Peserta: 1142

    Balas
    • Juni 28, 2025 pada 11:31
      Permalink

      Prinsip dasar dalam kehidupan Suku Kajang yang berbunyi “Kamase-masea”, yaitu hidup sederhana dan tidak serakah terhadap sumber daya alam, memiliki pengaruh yang sangat baik. Suku Kajang di Sulawesi Selatan terkenal akan kearifan lokalnya dalam menjaga keseimbangan alam.

      Nama: Ni Putu Vedica Sridewi
      Sekolah: SMPN 47 Surabaya
      No peserta: 1290
      Proyek yang saya kembangkan berjudul “LURKANGPATU” atau Telur Cangkang Empat Tujuh. Dalam proyek ini, saya akan mengolah sampah cangkang telur menjadi pupuk bubuk sebagai sumber kalsium dan fosfor yang membantu pertumbuhan dan kesehatan tanaman karena cangkang telur mengandung kalsium karbonat (CaCO3) yang tinggi.

      Balas
  • Juni 13, 2025 pada 12:58
    Permalink

    Suku Kajang dapat menjadi inspirasi bagi kita, bahwa menjaga alam adalah kewajiban kita semua 🌲
    Seperti Suku Kajang yang memiliki prinsip kamase-masea, kita juga harus menanamkan prinsip-prinsip dasar terhadap lingkungan hidup dan aktif ikut serta dalam kegiatan pelestarian lingkungan 🤩🙌🏻

    Saya Prisillia putri damayanti
    SMP NEGERI 26 SURABAYA
    dengan proyek, “Lilin minyak jelantah: terangi bumi, sehatkan tubuh.” 💆🏻‍♀️💆🏻‍♂️

    Balas
  • Juni 13, 2025 pada 13:16
    Permalink

    Suku kajang sangat mempertahankan tempat tinggal dan alam sekitar walau mereka tidak menggunakan teknologi tetapi mereka berhasil mempertahankan wilayah nya dari banjir dan longsor

    Nama:ERLINDA DWI CLARISTA
    Asal sekolah:SMPN 38 SURABAYA
    Nomor peserta:1136
    Judul proyek:BUDIDAYA TANAMAN BUNGA MATAHARI SEBAGAI UPAYA PENGHIJAUAN DAN ESTETIKA LINGKUNGAN.

    tujuan dari proyek saya adalah menanam tanaman bunga matahari sebanyak banyaknya untuk menghijaukan,memperindah dan juga Sebagai jajanan yg sehat dan akan nutrisi yg baik untuk tubuh

    Balas
  • Juni 13, 2025 pada 19:38
    Permalink

    Wah, ternyata masih ada masyarakat suku kajang yang sangat menghargai alam.
    sangat menginspirasi untuk kami yang tinggal di daerah industri, dimana exploitasi lahan dan limbah sangat banyak terjadi.
    Semoga semangat masyarakat suku kajang, bisa saya contoh dalam kehidupan sehari hari dalam melestarikan lingkungan.

    Nama : Leyna Mayyasha Qorri Ain
    Asal Sekolah : SDN Pacarkeling V Surabaya
    Nomer Peserta : 468
    Proyek : aloe sobat sehat, solusi hebat untuk keluarga sehat
    Melalui budi daya Aloe Vera, saya berharap setiap halaman rumah warga mempunyai 1 tanaman

    Balas
    • Juni 14, 2025 pada 12:13
      Permalink

      Salah satu suku yang memiliki prinsip dasar kehidupan,hidup sederhana dan tidak serakah terhadap sumber daya alam. hutan di jaga kelestariannya👍👍👍👍
      Kevin emilio al irzan_sdn ngagelrejo3_261_kelompok pemanfaatan pandan

      Balas
  • Juni 14, 2025 pada 08:54
    Permalink

    indonesia benar benar beragam yah budaya sangat banyak

    ajeng chaesa setia rahayu, smpn 24 surabaya.
    no peserta:1034
    proyek:daur ulang eceng gondok @eco.cycle

    Balas
  • Juni 14, 2025 pada 15:36
    Permalink

    Luar biasa! Suku Kajang adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal bisa menjadi solusi mitigasi bencana yang efektif. Semoga semakin banyak orang belajar dari mereka.”Di tengah perubahan iklim dan bencana yang semakin sering terjadi, kearifan lokal Suku Kajang sangat relevan. Sudah saatnya kita belajar dari mereka.

    saya Jasmine Najwa priviana septy
    Dari smpn 26 surabaya dengan proyek
    “Soap bun’s”-sabun dari minyak jelantah

    Balas
  • Juni 14, 2025 pada 16:29
    Permalink

    Baru tau kalau ada suku Kajang di Sulawesi. Dengan cara tradisional suku kajang bertahan hidup. Indonesia memang terdiri banyak suku, adat dan budaya yaaa … Yuk lestarikan budaya bangsa

    DB. Abisatya
    SD-319
    SDN Rangkah VI
    Surabaya

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 11:03
    Permalink

    wowww baguss

    salsabila najzwa perdana
    smpn63 sby
    1412
    proyek optimalisasi minyak jelantah menjadi produk pembersih lantai (karbol)

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 16:28
    Permalink

    Hallo semuanya perkenalkan nama saya Aryasatya Panca Nararya, saya adalah peserta pangeran lingkungan hidup tingkat SMP tahun 2025 dari SMPN 22 SURABAYA. Saya sangat senang sekali bisa bergabung di perlombaan yang sangat keren. Oh iya jadi proyekku yaitu tentang pemanfaatan limbah pelastik atau disebut juga PEMLIMTIK, target saya yaitu saya ingin memanfaatkan sampah sebanyak 1.500 kg lebih. Yuk tungguin aksiku ya 👋🏻
    Semoga lolos sampai tahap terakhir 🙏🤗

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 18:14
    Permalink

    Nama: Laurensia Cashmyra Emmanuella
    No. urut : 258
    SDN KEBONSARI 1 SURABAYA
    Proyek Pemanfaatan botol bekas untuk budidaya sirih gading
    Kita sebagai masyarakat modern yang tinggal diperkotaan yang serba cepat dan instan seringkali dalam kehidupan sehari-harinya beraktivitas ataupun dalam pemenuhan kebutuhan seringkali tidak memikirkan bagaimana agar lingkungan alam di sekitar kita lestari, kita tanpa sadar merusak lingkungan alam tersebut dengan hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Misalnya penggunaan wadah sekali pakai, penggunaan, kendaraan pribadi yang sangat meningkat dan lain-lain, oleh sebab itu hendaknya kita belajar oleh masyarakat di suku-suku pedalaman bagaimana cara memanfaatkan sda secara bijaksana, karena mereka sadar itulah cara mereka berterimakasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan sumber kehidupan bagi mereka melalui alam.
    Salam bumi pasti lestari 🌱🌱

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 18:41
    Permalink

    Nama: Tisya Ayodya Prameswari
    Sekolah : SDI Al Azhar Kelapa Gading Surabaya
    Nomor peserta: 006
    Judul proyek: ECOZY (Eco Enzyme)
    Capaian proyek: 1. Saya telah mengolah limbah kulit buah menjadi Eco Enzyme sebanyak 573,4 kg
    2. Saya sudah menerima galon sebanyak 78 galon
    3. Saya sudah menemukan 1 Rumah Warga Binaan

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 18:45
    Permalink

    Suku Kajang berupaya untuk menjaga alam dan kelestarian lingkungan sehingga dapat menjadi inspirasi mitigasi ancaman bencana. Jadi Yukk untuk menjaga kelestarian lingkungan!!

    Nama : Nandana Akatara Arka Radita
    Kelas : 5
    Proyek : pengolahan minyak jelantah
    Sekolah : SDN jemurwonosari 1

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 18:53
    Permalink

    Salam Bumi, Pasti lestari👌🌎

    Haloo semuanyaa, perkenalkan nama saya Athifa Raihana Sandyani dari SMPN 16 Surabaya dengan nomer urut peserta 866.

    Wahh, suku Kajang benar benar hidup dengan kesederhanaan yaa, Suku Kajang juga saling bergotong royong untuk menjaga hutan.. 😍

    Balas
  • Juni 15, 2025 pada 23:34
    Permalink

    Sanggat mengispirasi sekali. Banyak yang bisa kita pelajari dari budaya suku kajang dalam menjaga keseimbangan alam.

    Nama : Keinarra Az-Zahra Kamania P
    Sekolah : SDN Pacar Keling V Surabaya
    No. Peserta : 464
    Judul Proyek LH : “Kompos Susun Ceria : Solusi Cerdas, Inovatif dan Alami”
    Proyek ini saya pilih karena banyak sekali sampah organik yang tidak diolah dengan baik di sekitar tempat tinggal saya, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal sampah organik memiliki potensi yang sangat besar, untuk itu saya ingin berpartisipasi mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang memiliki banyak manfaat dengan cara yang mudah dan hemat tempat.

    Balas
  • Juni 16, 2025 pada 11:26
    Permalink

    Hai Sobat Hijau
    Saya Ayesha Medina dari SDN Semolowaru I/261 Surabaya..
    No peserta : 618.
    Proyek saya berjudul “Maggot BSF si Hewan Ajaib Sahabat Lingkungan”.  Kenapa maggot BSF ajaib karena manfaatnya sangat banyak… apa aja manfaat nya?
    1. Sebagai pengurangan sampah organik.
        1 kg maggot bisa mengolah sampah organik 2-5kg per hari atau       bisa 90 kg selama hidupnya.
    2. Sebagai sumber protein hewani untuk hewan ternak.
        Mengandung 30-45% protein.
       1 gram telur bisa menjadi 2-3 kg maggot dewasa.
    3. Sebagai penghasil pupuk organik /kasgot.
        Kasgot Mengandung banyak unsur hara.
        1 kg maggot bisa menghasilkan 5 kg kasgot.

    Mari Sobat hijau, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang
    Salam Bumi Pasti Lestari…

    Generasi Produktif
    Anti Rebahan dan Peduli Lingkungan
    #tunashijauid
    #seleksi1pangputlh2025
    #pangputlh2025
    #pangputlh2025_618
    #sdnsemolowaru1_ayeshamedina
    #pangeranputrilhsd2025

    Balas
  • Juni 16, 2025 pada 18:54
    Permalink

    MasyaAllah, ini sangat menginspirasi kita semua para pejuang lingkungan🤩
    terimakasih suku kajang

    💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
    🙋🏻Nama: Lintang Pandega Permana
    🏫Sekolah: SMP Negeri 57 Surabaya
    🔢Nomor Peserta: 679
    🌱Proyek: SWEET (Stevia Wellness Eco-friendly Extract Technology)
    💌Penjelasan: Proyek ini adalah proyek yang berfokus membudidayakan tanaman Stevia, yaitu tanaman yang daun nya mengandung rasa manis karna memiliki senyawa tertentu.

    Saya memilih proyek ini karna fenomena isu lingkungan seperti krisis air, degradasi lahan yang disebabkan oleh industri gula konvensional.., maka dari itu saya memilih alternatif gula lain yang lebih ramah lingkungan dan “Stevia” menjadi jawabannya.

    Saya ingin mengenalkan Stevia yang memiliki banyak manfaat ke masyarakat sekitar, rencana kedepannya saya akan menginovasikan Stevia ini menjadi ekstrak gula cair, permen sehat dan ramah lingkungan, teh sehat dengan pemanis alami, serta banyak lagi.
    Dukung aku teruss yaa, sobat hijau! 🥰
    💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚

    Balas
  • Juni 17, 2025 pada 03:32
    Permalink

    Suku Kajang membuktikan bahwa kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun mampu menjadi strategi tangguh dalam menghadapi bencana alam. Mereka hidup selaras dengan alam, menjaga hutan sebagai penyangga bencana, dan menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan.

    Sebelum itu perkenalkan nama saya wilwatikta Syifa Putri dengan nomor peserta 1386 dari SMPN 57 SURABAYA.👋🏻😍
    Saya memiliki proyek dengan judul maggot glow sebagai inovasi pengolahan sampah organik menjadi lilin aromaterapi yang menenangkan.🐛🤩

    Sampai jumpa lagi sobat hijau 👋🏻😍

    Balas
  • Juni 17, 2025 pada 22:33
    Permalink

    Wah keren ternyata masih ada ya suku yang peduli akan lingkungan, contohnya saja suku kajang ini… semoga masyarakat bisa sadar bahwa alam sangatlah penting apalagi kebersihan lingkungan nya.

    Nama : Queenie Rhea Adeline
    No. peserta : 938
    Asal sekolah : SMPN 16 SURABAYA
    Judul proyek : BATORICK SIXTEEN
    User ig : @tehmacthchoco

    Balas
  • Juni 18, 2025 pada 03:44
    Permalink

    Waaa sangat lha keren

    Sekolah: SDN JEMUR WONOSARI 1
    Proyek:tomat
    No peserta:200

    Balas
  • Juni 18, 2025 pada 11:16
    Permalink

    Wow ternyata masih ada ya suku yang peduli dengan lingkungan 🔥

    Balas
    • Juni 23, 2025 pada 13:35
      Permalink

      tradisi dan budaya serti ini perlu dilestarikan untuk menjaga kelestarian alam

      Nama : Fatimah Nawal Rahman
      Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
      No. Peserta : 026
      Nama Proyek : Daur ulang sampah plastik menjadi produk kerajinan tangan

      Balas
  • Juni 18, 2025 pada 22:54
    Permalink

    wahh suku Kajang sangat kompat dalam menjaga lingkungannya😍.

    Nama : Athifa Raihana Sandyani
    Asal Sekolah : SMPN 16 Surabaya
    No. Peserta : 866
    Judul Proyek : GEMMES
    Budidaya : Tanaman Sereh

    Balas
  • Juni 22, 2025 pada 14:44
    Permalink

    Saya ingin mengapresiasi suku kajang karena memiliki sistem kearifan lokal dalam mitigasi bencana karena hanyasuku ini yang saya ketahui memiliki kearifan lokal dalam mitigasi bencana dan semoga artikel mengenai jurnal ini dapat menginspirasi masyarakat.
    Nama:Sanggrama Rasio Al Warisyi
    No:127
    Nama ptoyak:pemanfaatan limbah cangkang telur untuk menghijaukan bumi dan innovasi bahan pangan

    SEKIAN DARI SAYA TERIMAKASIH
    SALAM BUMI PASTI LESTARI🍀🍀🍀

    Balas
  • Juni 23, 2025 pada 13:41
    Permalink

    tradisi seperti ini harus tetap dijaga untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup

    Nama : Fatimah Nawal Rahman
    Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
    No. Peserta : 026
    Nama Proyek : Daur ulang sampah plastik menjadi produk kerajinan tangan

    Balas
  • Juni 28, 2025 pada 18:31
    Permalink

    informasi yang sangat berguna tentang suku kajang yang menjaga lingkungannya. Semoga masyarakat bisa mencontoh suku kajang yang menjaga lingkungan.

    MAZIDA SHABRINA YASMIN
    SDN WONOKUSUMO 6 SURABAYA
    No urut: 728
    Judul proyek: SERBU(Serbuk Berproyek Horta)

    Balas
  • Juli 5, 2025 pada 19:23
    Permalink

    “🌿 Belajar dari Kajang: Bumi Gak Butuh Diselamatkan, Kita yang Butuh Belajar Bertahan 🌎💚”

    Suku Kajang bikin aku diem sejenak 🤯
    Di dunia yang serba cepat, sibuk ngejar FYP, dan kadang… serakah juga 😬 ternyata masih ada komunitas yang hidup pelan, penuh makna, dan nyatu banget sama alam. 🌳

    Prinsip hidup mereka, “Kamase-masea” — hidup sederhana & gak serakah — itu bukan sekadar pepatah, tapi tameng bencana paling keren yang pernah aku dengar 🛡️🔥
    Gak pake alat canggih, gak pake alarm, tapi mereka tau caranya menjaga bumi tanpa banyak drama 🌾✨

    Borong Karama, hutan adat mereka 🌲, itu ibarat powerbank alami yang nyimpen air, oksigen, dan kehidupan. Bukan cuma bikin adem, tapi juga jadi benteng dari banjir dan longsor 🌧️🚫

    Sebagai anak muda yang juga suka ngoprek ecoenzym 🍊🧪, aku belajar banyak dari mereka:

    Hidup simpel ≠ hidup ketinggalan zaman 🚫📴

    Gotong royong > segalanya 🤝❤️

    Dan yang paling keren: mereka bisa ngerti bahasa alam 🌬️✨
    Kita nunggu notifikasi BMKG, mereka cukup liat angin dan langit 😍🌤️

    Kebayang gak sih, kalau sistem mereka dipadukan sama ecoenzym, pertanian organik, atau filter air DIY? 💡
    Kita bisa bikin mitigasi bencana yang gak cuma kuat tapi juga sustainable dan murah meriah! 💪♻️

    Tapi… ada tantangan juga 😔
    Modernisasi yang rakus, eksploitasi hutan, generasi muda yang makin jauh dari adat…
    Makanya, kisah Suku Kajang harus terus hidup! 📚🔥
    Diajarkan di sekolah, dikemas di parade budaya, atau dimasukin ke vlog-vlog edukasi. Biar makin banyak yang sadar:
    🧠 Bencana itu gak bisa dihindari,
    Tapi bisa dihadapi kalau kita paham dan sayang sama alam ❤️🌏

    Suku Kajang bukan cerita dongeng. Mereka nyata. Dan mereka jadi contoh bahwa kadang, solusi paling kuat itu gak dari teknologi… tapi dari tradisi. 💥🌱

    Perkenalkan saya adalah peserta Putri lingkungan hidup tahun 2025. Dengan :
    Proyek : ecoenzym
    Nama : lintang Tabia Ramadhan
    Sekolah SMPN 11 Surabaya
    No.peserta : 800

    Salam hangat dari generasi muda yang cinta budaya, cinta bumi, dan cinta ecoenzym 🍋💧

    Balas
  • Juli 7, 2025 pada 05:05
    Permalink

    Suku kajang sangat menginspirasi generasi muda seperti kita, suku kajang yang sangat peduli dengan lingkungan, ini salah satu suku yang harus kita contoh 👏🏻👏🏻. Tradisi seperti ini tidak boleh hilang dan saya harapkan orang lain juga berubah yang dulunya masih menggunakan plastik berganti ke produk ramah lingkungan 💪🏻. Kita pasti bisa menjadi generasi emas !!!😁😁🌏.
    Nama: Adinda Quenza Ramadhani
    Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
    No peserta:224
    Proyek: Budidaya tanaman terong 🍆

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 16:54
    Permalink

    terimakasih sangat menginspirasi,semoga kita semua bisa contoh suku kajang ini

    nama ibrahim tubagus maulana
    sekolah sdn jemur wonosari 1
    judul proyek minyak jelantah
    no peserta 115

    Balas
  • Juli 16, 2025 pada 13:32
    Permalink

    Nama : Lutfiah Nuril Ibadillah
    No.peserta : 0216
    Asal : sdn kaliasin 5
    Judul proyek : enzyma
    Alhamdulillah lolos tahap 2 semoga bisa terus lolos sampai final
    Saya setiap hari selalu melakukan aksi, semoga selalu diberikan kelancaran

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 14:00
    Permalink

    Saya setuju dengan prinsip dasar suku Kajang yaitu “kamase-masea”, yaitu dengan cara hidup sederhana dan tidak serakah terhadap sumber daya alam. Prinsip ini menjadi peran yang penting dalam menjaga lingkungan tetap Lestari. Dengan tidak menebang pohon sembarangan, tidak menggunakan bahan kimia untuk pertanian, dan menjaga kelestarian hutan adat. Prinsip itulah menurut saya cara agar melestarikan alam dan mencegah bencana seperti banjir dan longsor.
    Nama : Muhammad Sendy Isnanda
    Sekolah : MTS NEGERI 2 SIDOARJO
    No peserta : 709
    Judul proyek : PENGELOLAAN SAMPAH SEBAGAIMANA MESTINYA

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *