19 Tahun Lumpur Lapindo: Luka Lingkungan yang Belum Sembuh

Sembilan belas tahun sudah peristiwa semburan lumpur panas Lapindo pertama kali terjadi di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tepatnya 29 Mei 2025. Peristiwa ini bukan hanya bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia modern, tetapi juga tragedi sosial yang berkepanjangan. Ribuan warga kehilangan rumah, lahan pertanian, serta mata pencaharian mereka, dan hingga kini, dampaknya masih terasa.

Lumpur panas yang menyembur tanpa henti menenggelamkan sedikitnya 16 desa di sekitarnya. Infrastruktur publik seperti jalan tol, rel kereta api, sekolah, dan masjid turut hancur atau harus direlokasi. Sekitar 60.000 warga terdampak langsung, dengan sebagian besar terpaksa mengungsi secara permanen. Pemerintah dan perusahaan terkait awalnya bersilang pendapat mengenai penyebab semburan ini, apakah akibat aktivitas pengeboran PT Lapindo Brantas atau faktor geologi alami berupa gempa.

Selama bertahun-tahun, berbagai investigasi dilakukan, baik oleh pemerintah, akademisi, maupun lembaga internasional. Namun, hingga kini, tanggung jawab hukum dan moral masih menjadi polemik. Masyarakat sipil dan organisasi lingkungan menuntut keadilan atas kelalaian yang terjadi, sementara sebagian korban masih belum mendapatkan ganti rugi sepenuhnya. Kepercayaan terhadap sistem hukum dan perlindungan lingkungan diuji habis-habisan oleh kasus ini.

Seiring waktu, kawasan terdampak mengalami perubahan drastis. Daerah yang dulunya subur berubah menjadi lanskap padang lumpur yang luas. Tanggul buatan dibangun untuk menahan semburan lumpur, tetapi hal ini menimbulkan tantangan baru seperti potensi banjir dan penurunan kualitas air tanah. Ekosistem setempat turut rusak dan tidak sedikit warga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan gas beracun dari semburan tersebut.

Namun, di tengah luka tersebut, muncul pula upaya adaptasi dari masyarakat. Beberapa warga berinisiatif menjadikan area tanggul sebagai lokasi wisata edukasi, dengan harapan meningkatkan perekonomian lokal. Ada pula komunitas-komunitas yang mendorong dokumentasi sejarah bencana ini agar tidak dilupakan generasi mendatang. Meski sederhana, upaya-upaya ini menunjukkan semangat bertahan dan bangkit dari keterpurukan.

Sayangnya, 19 tahun berselang, belum ada kebijakan jangka panjang yang komprehensif dalam penanganan pasca-bencana Lapindo. Proyek mitigasi bersifat reaktif dan minim partisipasi masyarakat. Padahal, kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya pada sektor energi dan pertambangan yang menyangkut keselamatan publik dan lingkungan.

Bencana ini juga membuka mata publik akan pentingnya transparansi dalam proyek-proyek eksplorasi sumber daya alam. Ketika kepentingan bisnis lebih diutamakan daripada kehati-hatian dan etika lingkungan, maka rakyatlah yang menanggung akibat terburuk. Dalam konteks transisi energi dan pembangunan hijau, kasus Lapindo menjadi pengingat keras bahwa risiko ekologis harus dikaji secara menyeluruh dan diawasi ketat.

Kini, generasi muda memegang peran penting untuk menjaga agar peristiwa seperti Lapindo tidak terulang. Melalui pendidikan, kampanye lingkungan, dan penguatan suara masyarakat sipil, tekanan publik terhadap korporasi dan negara bisa menjadi benteng terakhir pencegahan bencana serupa. Ingatan atas Lapindo bukan sekadar mengenang kesedihan, tetapi juga mengobarkan semangat untuk mewujudkan keadilan ekologis.

Di usia 19 tahun bencana ini, pertanyaan utamanya bukan lagi “siapa yang salah?”, melainkan “apa yang telah kita pelajari?” Lumpur Lapindo bukan hanya simbol kehancuran, tetapi juga pengingat bahwa pembangunan tanpa etika dan keberlanjutan hanya akan meninggalkan luka panjang. Kini saatnya bangsa ini bangkit, belajar, dan menjadikan tragedi ini sebagai titik balik menuju masa depan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kemanusiaan. (*)

18 thoughts on “19 Tahun Lumpur Lapindo: Luka Lingkungan yang Belum Sembuh

  • Mei 30, 2025 pada 16:32
    Permalink

    Artikel mengenai 19 tahun lumpur Lapindo benar-benar menyadarkan kita bahwa dampak kerusakan lingkungan bisa berlangsung sangat lama dan menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya merusak alam, tetapi juga menghilangkan tempat tinggal, sumber penghasilan, bahkan harapan bagi banyak orang.

    Saya sangat mengapresiasi Tunas Hijau ID yang terus mengangkat isu-isu penting seperti ini, agar kita sebagai generasi muda tidak melupakan peristiwa besar yang masih meninggalkan luka. Melalui proyek budidaya Aloe Vera yang saya jalankan, saya ingin terus berkontribusi menjaga lingkungan, walau dari hal sederhana, karena saya percaya bahwa aksi kecil yang konsisten bisa menjadi bagian dari penyembuhan bumi.

    Marsha Beby Andira – SMPN 11 SURABAYA
    Proyek : Budidaya Aloevera

    Balas
  • Mei 31, 2025 pada 21:13
    Permalink

    Tragedi lumpur Lapindo yang banyak membawa dampak pada lingkungan.
    Terancamnya ekosistem, Polusi udara dengan gas yang menyembur , kerusakan air tanah , hilangnya tempat tinggal, infrastuktur dan bahkan terancamnya nyawa.
    Dengan ini membawa pelajaran bagi kita semua pentingnya menjaga , merawat lingkungan bukan hanya tanggung jawab komuntas , tetapi tanggung jawab kita semua tanamkan pada diri tentang peduli lingkungan sejak dini , agar menjadi generasi yang akan menyelamatkan bumi.

    FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
    SDN Margorejo 1/403 Surabaya
    Proyek: Pengolahan Sampah Organik Dapat Memberikan Nutrisi Pada Tanaman

    Balas
    • Juni 1, 2025 pada 11:40
      Permalink

      Tragedi lumpur Lapindo menjadi pengingat besar bagi kita semua tentang betapa rapuhnya hubungan antara manusia dan alam. Dampaknya begitu luas—mulai dari rusaknya ekosistem, pencemaran udara akibat semburan gas, tercemarnya air tanah, hingga hilangnya rumah dan nyawa manusia. Peristiwa ini seharusnya menyadarkan kita bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas segelintir orang atau komunitas saja, melainkan tanggung jawab bersama. Sudah saatnya kita menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan sejak dini, agar generasi mendatang mampu tumbuh menjadi pelindung bumi, bukan perusaknya.

      Nama : Rudhy Syahputra Alam
      Sekolah : SMPN 11 Surabaya
      Proyek : Budaya Maggot

      Balas
  • Juni 1, 2025 pada 11:52
    Permalink

    Tragedi Lumpur Lapindo menyebabkan Ribuan warga kehilangan rumah, lahan pertanian, serta mata pencaharian mereka, dan hingga kini, dampaknya masih terasa. Sehingga warga mengungsi tempat yang aman secara permanen.
    kawasan terdampak mengalami perubahan drastis. Daerah yang dulunya subur berubah menjadi lanskap padang lumpur yang luas.
    generasi muda memegang peran penting untuk menjaga agar peristiwa seperti Lapindo tidak terulang. Melalui pendidikan, kampanye lingkungan, dan penguatan suara masyarakat sipil, tekanan publik terhadap korporasi dan negara bisa menjadi benteng terakhir pencegahan bencana serupa.
    Nama : Lukman Hakim
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya

    Balas
  • Juni 1, 2025 pada 12:28
    Permalink

    Terkait hal ini, kita belajar bahwa tragedi ini bukan hal biasa, melainkan masalah yang akan terus pada manusia. sudah banyak hal dicoba untuk menghentikan semburan ini, namun gagal. aku harap, manusia tidak membuat kesalahan lagi terkait hal ini, dan terus belajar tentang alam. jika memang tidak bisa menghentikan, maka lebih baik mencegah agar hal ini tidak terjadi lagi, semoga bumi selalu sehat 💪

    Nama : Maulana Akbar Al Habib
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    Proyek : Pengelolaan Sampah Organik
    Kota : Surabaya

    Balas
  • Juni 1, 2025 pada 17:38
    Permalink

    Saya Johanna Adreena Pasha dari SMPN 3 Surabaya. artikel ini tidak hanya mengingatkan kita pada peristiwa kelam, tapi juga mengajak berpikir ke depan: bagaimana seharusnya kita belajar dari Lapindo, agar kesalahan serupa tidak berulang di masa mendatang.

    Balas
  • Juni 2, 2025 pada 20:19
    Permalink

    Sangat disayangkan… Selama hampir dua dekade, semburan lumpur panas ini telah merusak ekosistem, memaksa ribuan warga mengungsi, dan menghancurkan infrastruktur penting seperti rumah, sekolah, dan tempat ibadah.
    Artikel ini mengingatkan kita bahwa tragedi Lapindo bukan sekadar bencana alam, melainkan cerminan dari kegagalan dalam perencanaan, pengawasan, dan tanggung jawab sosial. Diperlukan komitmen yang lebih kuat dari semua pihak untuk memastikan keadilan bagi korban dan pemulihan lingkungan yang berkelanjutan..

    Nama : Nayla Nafisa Nufi
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    Proyek : Budidaya Kombucha

    Balas
  • Juni 6, 2025 pada 06:52
    Permalink

    19 tahun yg lalu aku belum lahir, tapi kini jadi tau apa itu semburan LUSI. Terima kasih ilmunya.

    Nama : Fathan Alby A
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Anti Nyamuk.

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan, merusak ekosistem, dan mengganggu kualitas air tanah. Sabun yang dihasilkan dari pengolahan limbah minyak jelantah memiliki fungsi tambahan sebagai anti nyamuk yang pastinya aman digunakan karena mengandung bahan alami. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan. Yuk, jaga lingkungan kita.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • Juni 6, 2025 pada 19:01
    Permalink

    Minyak jelantah selalu di buang di saluran wastafel, tanah dan di sungai, minyak jelantah ini jika tidak segera di cegah akan semakin parah merusak ekosistem, kita harus mengolah dan bersosialisasi ke warga untuk berhenti membuang minyak jelantah.

    Nama: falisha Misha alkhansa
    Sekolah: SDN Rangkah VI Surabaya
    Judul proyek: pemanfaatan sampah organik dan limbah plastik untuk tanaman keluarga

    Balas
  • Juni 7, 2025 pada 06:00
    Permalink

    Peristiwa lumpur lapindo merupakan bencana lingkungan terbesar dalam sejarah manusia modern dan tragedi sosial yang berkepanjangan bahkan dampaknya ribuan warga kehilangan rumah, lahan pertanian serta mata pencaharianbmerekabdan sampai saat ini dampaknya masih terasa. Maka dari itu sebagai generasi muda mengenang peran penting untuk menjaga agar peristiwa seperti lapindo tidak terulang. Jaga dan lestarikan bumi kita.
    Jangan lupa intip proyek saya ya teman-teman
    Saya Muhammad Khabibi Nur Rokhman
    Saya Calon Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tahun 2025
    Saya dari SDN BANJARSUGIHAN V/617 SURABAYA
    Disini saya mengajak semuanya untuk peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah plastik kemasan sachet karena jumlah sampah plastik semakin banyak dan tidak didaur ulang maka saya memanfaatkannya menjadi Ecobrick dan anyaman plastik.

    Salam Bumi Pasti Lestari
    Salam Sadar Iklim
    Salam Zero waste
    Salam Basuma Jaya Jaya Jaya
    Pokoe ngeten pun

    Balas
  • Juni 7, 2025 pada 06:31
    Permalink

    Peristiwa lumpur lapindo merupakan bencana lingkungan terbesar dalam sejarah manusia modern dan tragedi sosial yang berkepanjangan bahkan dampaknya ribuan warga kehilangan rumah, lahan pertanian serta mata pencaharianbmerekabdan sampai saat ini dampaknya masih terasa. Maka dari itu sebagai generasi muda mengenang peran penting untuk menjaga agar peristiwa seperti lapindo tidak terulang. Jaga dan lestarikan bumi kita.
    Jangan lupa intip proyek saya ya teman-teman
    Saya Muhammad Khabibi Nur Rokhman
    Saya Calon Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tahun 2025
    Saya dari SDN BANJARSUGIHAN V/617 SURABAYA
    Proyek Lingkungan Hidup Saya adalah PESAN OJEC APIK(Pemanfaatan Sampah Non Organik Jadi Ecobrick dan Anyaman Plastik)
    Disini saya mengajak semuanya untuk peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah plastik kemasan sachet karena jumlah sampah plastik semakin banyak dan tidak didaur ulang maka saya memanfaatkannya menjadi Ecobrick dan anyaman plastik.

    Salam Bumi Pasti Lestari
    Salam Sadar Iklim
    Salam Zero waste
    Salam Basuma Jaya Jaya Jaya
    Pokoe ngeten pun

    Balas
  • Juni 7, 2025 pada 14:42
    Permalink

    Saya sangat tersentuh membaca artikel “8 Thoughts on 19 Tahun Lumpur Lapindo: Luka Lingkungan yang Belum Sembuh.” Peristiwa Lumpur Lapindo bukan hanya menjadi catatan kelam dalam sejarah lingkungan Indonesia, tetapi juga pengingat betapa pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan tanggung jawab korporasi serta pemerintah terhadap dampak lingkungan yang diakibatkan aktivitas manusia.

    Delapan pemikiran yang diangkat dalam tulisan ini sangat penting untuk kita renungkan bersama, terutama mengenai bagaimana dampak jangka panjang dari bencana ini masih dirasakan oleh masyarakat sekitar. Luka lingkungan yang belum sembuh ini menunjukkan bahwa upaya restorasi dan rehabilitasi harus lebih serius, transparan, dan berkelanjutan. Tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga memperhatikan pemulihan sosial dan ekonomi warga terdampak.

    Kejadian Lumpur Lapindo menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya generasi muda yang akan mewarisi bumi ini, agar lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan melakukan aktivitas yang bertanggung jawab. Semoga dengan adanya refleksi ini, pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dapat bekerja sama lebih erat untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.

    Terima kasih kepada penulis yang telah menghadirkan pemikiran mendalam tentang peristiwa ini. Mari kita terus dukung upaya pemulihan dan konservasi lingkungan agar luka ini benar-benar bisa sembuh dan memberikan harapan baru bagi masyarakat yang terdampak.

    Nama: Jelita Devi Nur Azzahra
    Kelas: 4
    Sekolah: SDN MADE 1 SURABAYA
    JUDUL PROYEK LH: BUDIDAYA LIDAH BUAYA

    Balas
  • Juni 18, 2025 pada 03:55
    Permalink

    Waduh! Bagaimana ya cara memulihkan nya?

    Sekolah: SDN JEMUR WONOSARI 1
    Proyek:tomat
    No peserta:200

    Balas
  • Juni 29, 2025 pada 20:53
    Permalink

    Ini masuk bencana yang dibuat manusia atau bencana alam sendiri? kejadian lumpur lapindo ini seharusnya menyadarkan masyarakat. Bumi ini titipan kepada kita semua. Mari bersama-sama menjaga bumi agar lestari.

    MAZIDA SHABRINA YASMIN
    SDN WONOKUSUMO 6 SURABAYA
    No urut: 728
    Judul proyek: SERBU(Serbuk Berproyek Horta)

    Balas
  • Juli 5, 2025 pada 21:51
    Permalink

    🟤 “Lapindo: Kalau Lumpur Bisa Ngomong, Mungkin Dia Udah Lelah Ditahan Sendirian” 😅💔

    Bayangin, 19 tahun lumpur panas Lapindo nggak diselesaikan tuntas, masih kayak utang janji ke mantan — dibiarin mengendap tapi terus bikin luka. Yang satu bilang karena pengeboran, yang lain bilang karena gempa. Lah, kita yang nonton? Bingung dan bingung… tapi tetep jadi korban! 🥲💥

    Masalahnya, ini bukan sinetron. Ini bencana nyata yang nyeret puluhan ribu orang kehilangan rumah, lahan, dan masa depan. Ini bukan sekadar lumpur , tapi lumpur dosa, hasil dari pembangunan yang rakus tapi nggak ramah lingkungan. 🏚️🌍

    Dan sekarang, biar nggak jadi korban selanjutnya, kita harus turun tangan. 💪
    Bukan turun ke lumpur ya, tapi turun ke aksi!

    Salah satu caranya? Ecoenzym!
    Yup, cairan jagoan dari dapur sendiri: dari kulit buah, gula, dan air — bukan dari pengeboran dalam tanah yang penuh risiko 🫣🍋

    💚 Ecoenzym itu ibarat superhero kecil: bisa bantu bersihin air, ngurangin limbah, bahkan bantu rawat ekosistem. Sementara proyek besar yang katanya “demi pembangunan” malah bikin air tercemar dan warga menderita. Ironis banget gak sih? Yang katanya kecil malah nolong, yang gede malah ngerusak 😑💸

    Mungkin kalau dari dulu yang dibor itu kesadaran, bukan bumi, kita nggak akan punya “museum lumpur” seluas Porong sekarang.

    Dan tahu gak? Di antara tanggul-tanggul buatan, warga Porong malah yang paling tulus bertahan. Mereka bikin wisata edukasi lumpur — biar tragedi ini nggak dilupain.
    Padahal yang salah justru banyak yang pura-pura hilang ingatan. 🙄🧠

    ✨ Jadi, sebagai generasi muda yang (semoga) belum terkena semburan dusta, ayo belajar dari Lapindo.
    Jangan ulangi kesalahan yang sama.
    Gunakan ecoenzym, jaga lingkungan dari dapur sendiri, dan yang penting…
    Jangan bor bumi sembarangan! Bor otak dan hati dulu.

    Perkenalkan saya adalah peserta Putri lingkungan hidup tahun 2025. Dengan :
    Proyek : Inovasi ecoenzym
    Nama : lintang Tabia Ramadhan
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    No.peserta : 800
    Ingat ya “Kalau kesalahan masa lalu nggak kita ubah jadi pelajaran, nanti bumi makin trauma.”🤫🌍♻️🌿

    ✨💚🌍Salam bumi pasti lestari ♻️🌱✨

    Balas
  • Juli 7, 2025 pada 04:55
    Permalink

    Artikel ini sangat bermanfaat mengingat akan tragedi 19 tahun yang lalu yaitu tragedi Lumpur Lapindo yang mengajarkan kepada Kita untuk terus berhati-hati dan mengutamakan etika lingkungan semoga tidak ada lagi tragedi tragis seperti ini 🥲🥲.
    Nama: Adinda Quenza Ramadhani
    Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
    No peserta: 224
    Proyek: Budidaya tanaman terong 🍆

    Balas
  • Juli 14, 2025 pada 14:02
    Permalink

    Tragedi lumpur Lapindo yang banyak membawa dampak pada lingkungan.
    Terancamnya ekosistem, Polusi udara dengan gas yang menyembur , kerusakan air tanah , hilangnya tempat tinggal, infrastuktur dan bahkan terancamnya nyawa.

    Nama : Nandana Akatara Arka Radita
    Kelas : 6A
    Sekolah : SDN jemurwonosari 1

    Balas
  • Oktober 14, 2025 pada 09:36
    Permalink

    Artikel kali ini sangatlah baik, karena mengingatkan kita semua terkait keserakahan manusia yang berakibat fatal hingga merenggut ratusan hak warga. Semoga diberikan kemudahan bagi warga sekitar lumpur Lapindo yang terdampak.
    Salam, Najwa Putri Tabita (534)
    SDN Ploso 3 Surabaya
    Project : Maklor (manfaat kelor)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *