“Air untuk Ketahanan Pangan” Webinar Nasional Seri#236, Rabu (19/3/2025)
Air merupakan faktor utama dalam produksi pangan, karena setiap tahap pertumbuhan tanaman membutuhkan suplai air yang cukup. Ketahanan pangan suatu negara sangat bergantung pada ketersediaan dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Dengan meningkatnya populasi dan perubahan iklim yang tidak menentu, tantangan dalam pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian semakin besar. Oleh karena itu, perlu ada upaya konservasi dan efisiensi penggunaan air agar produksi pangan tetap stabil dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Salah satu pendekatan utama dalam memastikan ketahanan pangan adalah penerapan teknologi irigasi hemat air. Teknologi seperti irigasi tetes, sprinkler, dan irigasi bawah permukaan mampu mengoptimalkan penggunaan air dengan menyalurkan air langsung ke akar tanaman.
Sistem ini tidak hanya menghemat air, tetapi juga meningkatkan hasil panen dengan mengurangi penguapan dan limpasan air. Selain itu, penerapan sensor kelembaban tanah dan otomatisasi dalam sistem irigasi semakin membantu petani mengatur penggunaan air secara efisien.
Pertanian berkelanjutan juga dapat didukung dengan penggunaan kembali air limbah yang telah diolah serta penerapan metode agroforestri yang meningkatkan daya tahan tanah terhadap kekeringan.
Dengan memanfaatkan sumber daya air secara lebih cerdas, petani dapat menghadapi tantangan perubahan iklim serta meningkatkan produksi pangan tanpa merusak lingkungan. Inovasi dalam pengelolaan air ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah serta edukasi kepada petani agar mereka dapat menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi lahan mereka.
Salah satu contoh praktik baik dalam pengelolaan air untuk pertanian berkelanjutan dapat ditemukan di Bali dengan sistem irigasi tradisionalnya, yaitu Subak.
Sistem Subak merupakan warisan budaya yang telah diterapkan selama berabad-abad, di mana pembagian air dilakukan secara adil berdasarkan kesepakatan dan nilai-nilai gotong royong.
Melalui sistem ini, aliran air dari sumber mata air atau sungai diatur sedemikian rupa agar dapat mengairi lahan sawah secara merata tanpa merugikan petani lain.
Keberhasilan sistem Subak tidak hanya terletak pada efisiensi pengelolaan air, tetapi juga pada pendekatan komunitas dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Dengan adanya koordinasi yang kuat antar petani dalam suatu wilayah, sistem ini mampu menjaga produksi pangan tetap stabil meskipun menghadapi tantangan alam. Keberlanjutan sistem ini juga diperkuat dengan nilai spiritual dan budaya yang menjadikan Subak sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Selain penerapan irigasi hemat air dan kearifan lokal, Indonesia juga telah membangun berbagai infrastruktur untuk mendukung ketahanan pangan, salah satunya adalah pembangunan bendungan.
Beberapa bendungan utama seperti Bendungan Jatigede di Jawa Barat, Bendungan Bendo di Jawa Timur, dan Bendungan Raknamo di Nusa Tenggara Timur berperan penting dalam menyediakan pasokan air bagi lahan pertanian.
Bendungan ini tidak hanya berfungsi untuk irigasi tetapi juga sebagai pengendali banjir dan sumber pembangkit listrik tenaga air. Dengan adanya bendungan-bendungan ini, aliran air ke sawah lebih terjaga, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas pertanian mereka.
Selain bendungan, pemerintah juga telah membangun saluran irigasi, embung, dan sumur resapan untuk mendukung sektor pertanian. Program revitalisasi jaringan irigasi yang dilakukan di berbagai daerah membantu memastikan distribusi air ke sawah lebih efisien dan merata.
Infrastruktur ini berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan, terutama di wilayah yang sering mengalami kekeringan atau memiliki keterbatasan sumber air. Dengan adanya kombinasi antara teknologi modern, kebijakan yang tepat, serta pelestarian sistem tradisional, Indonesia dapat terus meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan.
—
Tunas Hijau Indonesia menyelenggarakan Webinar Nasional Seri#236 “Air untuk Ketahanan Pangan” melalui Zoom dan Live YouTube “TunasHijauID” pada Rabu, 19 Maret 2025 pukul 12.00 – 15.00 WIB.
Webinar rutin terakhir pada Ramadan 1446 Hijriyah ini akan menghadirkan 3 orang narasumber, yaitu:
1. Dr. Asmarhansyah, S.P., M.Sc. (Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian, Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian)
2. Dr. Yulia Amirul Fata, ST., M.Si (Dosen Departemen Tanah Univ. Brawijaya Malang)
3. Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc (Ketua Lab Subak dan Rekayasa Agowisata Univ. Udayana Bali)
Sedangkan moderatornya adalah para belia produktif dan peduli sebagai berikut:
1. Raihan Jouzu Syamsudin (Pangeran 2 Lingkungan Hidup 2024 dan Siswa SMP Negeri 57 Surabaya)
2. Gayatri Kayla F. (Siswi SDN Rungkut Menanggal I Surabaya dan Putri LH 2024)
3. Iqbal Fajar K. (Siswa SMPN 28 Surabaya dan Pangeran LH 2023)
Pendaftaran gratis melalui: https://bit.ly/air-untuk-ketahanan-pangan
Narahubung: Nizamudin 085854366508 (chat only)
Setiap peserta terdaftar dan mengisi daftar hadir akan mendapatkan sertifikat
Penulis: Mochamad Zamroni

