Dari Pantai Masih Sepi, Hingga Olah 2 Ton Sampah Plastik
Pertama-tama saya mengucapkan Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah serta kakak-kakak semua dari Tunas Hijau, yang sudah memberikan ruang kepada anak saya hingga saat ini menjadi finalis. Sekali lagi terima kasih banyak.
Berawal dari ketidaksangkaan saya—kaget, bahagia, tetapi juga was-was—melihat para pesertanya yang rata-rata wawasannya begitu luas dan pintar sekali. Terkadang saya merasa minder, di mana saya hanya ibu rumah tangga yang minim ilmu, apalagi ilmu tentang lingkungan. Tetapi saya terus semangat dan berusaha karena melihat anak saya yang baru berusia 8 tahun sudah mau melakukan aksi dan sangat bersemangat dalam jiwa lingkungan.
Berawal dari dia ikut Keluarga Sadar Iklim Nasional 2023, setiap pagi bangun tanpa rewel. Setiap Minggu atau Sabtu pergi ke pantai untuk bersih-bersih. Dari sini, dia selalu menemukan sampah di pantai dan dengan kata-katanya selalu berkata, “Banyak, Ma, sampahnya.” Kami datang pagi-pagi sekali karena rumah kami jauh. Kondisi lokasi masih sepi, hanya kami berdua. Dalam hati saya berkata, Ya Allah… krik krik… belum ada yang datang.
Terkadang kami mendapat perkataan, “Ndo, berangkatmu pagi banget. Dari rumah jam berapa kok wes sampai?” Terkadang saya sebagai orang tua sedikit malu karena kesannya seperti ndhisiki banget, ya.
Jika belum dapat sampah banyak, dia pasti ngomel terus sampai rumah dengan kata-kata, “Percuma jauh-jauh, dapat sampahnya sedikit,” kata Reynando. Dia mengikuti kegiatan ini sejak kelas 1. Alhamdulillah sampai sekarang, kelas 3, kami jalani terus, dan lama-lama dia terbiasa dengan sendirinya, dengan total 89 kali sampai seri #211 pertemuan bersih pantai.
Baru di tahun 2025 ini saya ditawari sekolah menjadi peserta Pangeran Puteri Lingkungan Hidup 2025. Jujur sampai saat ini saya masih ragu. Kadang setiap Nando sosialisasi, membuat vlog video, dan presentasi, betapa gugupnya saya. Saya hanya berusaha memotivasi Nando dengan bahasa yang dia pahami. Mohon dimaklumi, ya Kak, jika Nando masih belajar bertahap.
Saya mengikuti dari awal sebagai peserta dengan target 1000 kg. Dalam hati saya, “Apa kita mampu, Nak?” Namun melihat wajahnya yang polos, dia sempat merengek, “Mama, ayo… aku mau dapat selempang seperti kakaknya. Nando kalau bersih pantai ndak pernah ada selempang, ndak dapat itu. Nando mau selempang, Ma.” Begitu sederhana dan polosnya pemikiran dia.
Kami jalani bersama: saya, papanya, dan kakeknya. Awal-awal mencari sampah plastik ke warkop, kami berpencar ke beberapa warkop. Ada yang merespons cuek. Ada yang memandang seperti kami ini tukang rongsokan. Ada yang tidak percaya meskipun sudah dijelaskan. Pernah juga terdengar kata, “Mosok seh, arek sekolah nyampah.” Kata-kata itu terdengar langsung di telinga Nando.
Dia bilang, “Ma, kenapa Nando selalu dikatain sekolah nyampah terus? Orang-orang itu ketawa dan senyum-senyum, Ma.”
Saya mulai memberikan pemahaman kepada Nando mengenai lingkungan. Lomba ini memang bukan lomba seperti mewarnai atau berhitung, Nak. Lomba ini memang berat dan butuh semangat, percaya diri, dan tidak malu dengan apa pun kata orang. Karena kebiasaan ini bukan hanya dipakai 1–2 hari, tapi dipakai terus bertahap sampai menjadi kebiasaan Nando. Allah itu cinta, sayang, dan suka jika umat-Nya peduli terhadap alam dan lingkungannya.
Jika Nando mampu terus dengan kebiasaan baik ini, maka Nando dapat hadiah dari Allah di surga dan Nando dapat penghargaan dari lingkungan. Dari sini dia mulai terbiasa dengan perkataan orang.
Kami lalui hari demi hari mencari sampah plastik dari warkop di Wiyung sampai warkop hulaan Menganti, Gresik. Kami bagi tugas—ada yang siang, ada yang malam sekalian papanya pulang kerja ambil di warkop Lidah, dan kakeknya ikut serta. Kami tidak punya lahan; jika dikerjakan di rumah semua, pasti masyarakat terganggu karena lahan dan aromanya.
Alhamdulillah kami diberikan lahan di tempat kerja kakek, namun harus menunggu pekerja selesai. Di situ kami cuci dan keringkan. Kami gunting. Setelah itu kami masukkan ke karung. Saya bawa ke rumah untuk dijadikan ecobrick.
Hampir putus asa karena kecapekan. Sampah plastik begitu ringan sekali jika ditimbang. Tangan mulai merah dan luka. Nando pun mengeluh, “Ma, tangan Nando sakit karena buat ecobrick terus-terusan.” Saya kasih hansaplast. Saya bilang, “Transformer kok mengeluh? Katanya mau dapat selempang.” Namun dalam hati seorang ibu, saya menangis. Sabar ya, Nak.
Melihat seusia dia pulang sekolah teman-temannya sudah bermain dan tidur, tapi Nando harus membagi waktu dengan proyeknya. Kadang dia ngantuk dan capek. Terkadang dia tergeletak ketiduran saat membuat ecobrick. Malam hari dia harus lanjut ambil sampah plastik di warkop. Saat awal kami membuat ecobrick, hampir berkali-kali saya sampai lupa masak. Demi anak, saya harus bisa belajar juga.
Saya terus sosialisasi dan mengajak Nando. Alhamdulillah tetangga mulai tergerak melihat kebiasaan kami. Mereka mulai berbondong-bondong mengumpulkan sampah plastik sendiri. Kadang sudah dicantolkan di depan pagar, kadang ada yang meminta kami mengambil. Saya jalani terus bersama anak saya. Teman-teman, wali murid, guru, dan sekolah akhirnya membantu berkolaborasi.
Alhamdulillah saya dan Nando bisa melewatinya juga. Dari sampah plastik yang begitu ringan jika ditimbang, dari mengajak orang-orang peduli yang begitu sulit, tetapi dengan semangat dan kebiasaan kami, banyak orang akhirnya ikut serta. Alhamdulillah sampai bisa mencapai lebih dari 2 ton. Semoga ke depan anak saya dan saya lebih, dan harus lebih semangat lagi.
Saya percaya, jika Allah berkehendak dan jika hamba-Nya tulus dan mau berusaha dengan rajin, insyaAllah Allah memberikan jalan terbaik bagi hamba-Nya. Aamiin. Harapan saya, semoga Pangput ini terus berjalan dan berkarya untuk generasi dan anak-anak penerus bangsa.
Sekali lagi terima kasih kepada pejuang cilik lingkungan, yang tidak mudah menjadikan kebiasaan ini menjadi kebiasaan positif dan bermanfaat untuk terus produktif tanpa lelah. Untuk hasil akhirnya hanya Allah yang menentukan. Kuncinya hanya: tanggung jawab, jujur, dan konsisten. InsyaAllah mendapat yang terbaik dari Allah. Aamiin.
Penulis: Rahayu – Ibu dari Reynando Yudhistira Putra, finalis Pangeran Lingkungan Hidup 2025 dari SDN Wiyung I Surabaya.


Kereenn Nando kecil-kecil semangat nya …👍👍👍
Ini yang di namakan kecil kecil cabe rawit. Sedari kecil sudah di tanamkan cinta lingkungan, dan memanfaatkannya dengan baik. Lanjutkan Bun…semangat Nando✊🏻
Carissa Putri Fatihasari
SDN Sidotopo wetan V
No.peserta : 674
Proyek SANCA :(Sampah Anorganik Carissa)
Keren,semoga bermanfaat
MasyaAllah benar-benar mama dan anak yang sangat heeebbbaatt, memiliki semangatt yang luar biasa untuk lingkungan. Walaupun jarak yang cukup jauh semangattnya sungguh luar biasa. Senang banget kami bisa mengenal Nando dan Mama yang sangat menginspirasi atas semangaatnya dan kegigihannya. Nando hebaat dan dibalik anak yang hebat tentu ada Mama yang sungguh luar biasa hebat.
Nama : Ezra Bintang Izdihar Kurniawan
No Peserta : 003
Sekolah : SD Kyai Ibrahim Surabaya
Proyek : Pemanfaatan lahan kosong dan limbah plastik untuk budidaya kemangi
wow keren sekali dari kecil sudah bisa menanamkan cinta lingkungan,semangat terus yaa
NAMA:DIAJENG PUTRI PAMBAYUN
SEKOLAH:SMP NEGERI 46 SURABAYA
PROYEK:~SAMILA~
NO PESERTA:1260
Luar biasa dan sangat keren sekali,yang memiliki semangat trus untuk lingkungan.Dan ini sangat menginspirasi untuk kita semuanya.
Nama: Muhammad Hidayahtullah
Sekolah: SDN KAPASARI 1/292 Surabaya
No Peserta: 145
Proyek: Budidaya Daun Pandan
Hebatttt nando,,,👍 Proyeknya Sangattt Menginspirasi Sekali,, tetap semangadddd yaaa dan smoga sukses untuk proyeknya yaaa
Nama Felychia Rosalina Putri
SDN Sawunggaling 1/382 Surabaya
Dengan Proyek Pengolahan Limbah Minyak Jelantah
Salam bumi pasti lestari
Keren ya Nando ini, konsisten dari kecil sudah peduli lingkungan, terus semangat dan bisa menjadi inspirasi banyak anak anak sedunia.
Saya Ni Luh Gd Kt Keyva Richie Valerina Atmaja
SMPN 6 Surabaya
Judul Proyek Budidaya Lemongrass
Nomor peserta 1392
Keren dek rajin trs ya untuk berbuat baik.
Eno Wahyu kamagading
SDN pacarkeling 1/182 surabaya
Eco enzym
452
MasyaAllah..Keren mas Nando & mama..Kecil-kecil cabe rawit nih..Sangat menginspirasi adeknya Fathan yg sekarang kelas TK A, dia juga ingin sekali ikut Pangput. Wah, terima kasih mas Nando..Tetap semangat & sukses selalu✨️
Nama : Fathan Alby A
Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun
Halo sobat hijau 🌳
Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
Salam bumi, pasti lestari 🌱
Sungguh menginspirasi semoga kedepannya semakin banyak orang yang ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Nama : Fatimah Nawal Rahman
Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
No. Peserta : 026
Pencapaian : 1.793,75 kg
Daur ulang sampah An Organik menjadi produk kerajinan
Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan
Kereeen nandooo
Mulai dari dini sdh bisa mengolah sampah
Terus semangat beraksi baik yaa
Salam Komandan
Marshall Dastan PR
Sdn. Ketabang 1/288
No peserta 207
Judul Project : Komandan
Nando anak hebat.. semangat terus yaw ndo
Semangat terus yaw nando..
Selalu konsisten..
Dam..dam..dam.. SEMANGAT…
Keren sekali Nando dan keluarga, Bisa mengolah lebih dari 2 ton sampah plastik yang sebenarnya sampah plastik sulit sekali terurai, Namun aksi yang dilakukan oleh Nando dan keluarga dapat mengurangi sampah plastik yang berada di sekitar lingkungan
Almahyra Danesh Syaquila
Nomer urut 278
Judul proyek Budimalang
SDN Ketabang 1/288