Ketika Rumah Kami Berubah Menjadi Laboratorium Kemangi

Bagi kebanyakan orang tua, mendampingi anak lomba adalah soal memastikan mereka belajar dengan baik atau berlatih dengan giat. Bagi saya, “mendampingi” berarti rumah saya berubah menjadi laboratorium wangi daun kemangi.

Ketika putri saya pertama kali mengutarakan idenya untuk lomba Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup, jujur, dahi saya mengernyit. “Deodoran dari ekstrak daun kemangi?”

Saya terbiasa melihat kemangi sebagai lalapan di meja makan, bukan sebagai solusi bau badan. Namun, melihat sorot mata dan semangatnya yang berapi-api, tugas saya sebagai orang tua jelas: mendukung penuh ide “aneh” namun brilian ini.

Maka dimulailah perjalanan kami dari tahap pertama hingga keempat. “Mendampingi” ternyata bukan sekadar mengantar dan menjemput. Saya resmi menjadi asisten peneliti, pemasok bahan baku, sekaligus “kelinci percobaan”. Saya ingat betul bagaimana kami berkeliling pasar berburu daun kemangi segar terbaik. Meja makan kami beralih fungsi menjadi meja riset, penuh dengan botol-botol kecil, alat tumbuk, dan corong.

Pengalaman paling berkesan bagi saya adalah menyaksikan prosesnya dari dekat. Saya melihat kegigihannya saat menghadapi kegagalan. Ada kalanya ekstrak yang dihasilkan terlalu pekat dan bernoda, atau di lain waktu wanginya terlalu cepat hilang. Begitu juga dengan budidaya kemangi—kadang tumbuh, kadang mati.

Di sinilah peran saya diuji. Bukan untuk memberinya solusi, tetapi untuk mendengarkan dan meyakinkannya. “Kalau gampang, semua orang sudah bikin, Nak. Kamu pasti bisa,” ujar saya kala itu. Dan dia bangkit. Dukungan dari tantenya yang seorang lulusan farmasi pun turut berperan.

Puncaknya tentu saja saat produk itu berhasil. Saya takjub. Wanginya segar, alami, dan yang terpenting, benar-benar berfungsi! Rasanya haru dan bangga luar biasa. Anak perempuan saya telah mengubah sesuatu yang dianggap remeh di dapur menjadi sebuah inovasi yang solutif. Menyaksikannya berdiri di panggung presentasi tahap akhir, menjelaskan proyeknya dengan percaya diri, adalah bayaran termahal atas semua lelah kami.

Lomba ini bukan hanya tentang lingkungan. Bagi saya, ini adalah sekolah kehidupan yang menempa putri saya menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, tidak meremehkan potensi di sekitarnya, serta mampu bekerja sama dengan baik. Entah apa pun hasilnya, saya sudah melihat juara saya lahir—bukan hanya sebagai “Putri Lingkungan Hidup”, tetapi sebagai “Putri Kemangi” kebanggaan saya.

Terima kasih saya ucapkan kepada guru pembina, Bu Wulan, yang luar biasa effort-nya dalam mendampingi proyek putri saya, yang selalu mengingatkan saat ia mulai melenceng dari jalurnya. Terima kasih juga kepada Bapak Ibu guru dan pihak sekolah yang selalu mendukung kegiatan positif murid. Terima kasih kepada tim Tunas Hijau yang sudah banyak mengajarkan berbagai ilmu tentang memelihara bumi dan memberikan kesempatan bagi anak saya untuk mengenal alam hingga sejauh ini.

Terima kasih kepada teman-teman yang selalu mendukung dan berjuang bersama. Mari kita sama-sama berjuang, bukan untuk saling menjegal, tetapi untuk saling mendukung dalam kebaikan. Semoga meski penganugerahan ini berakhir, pelestarian alam tetap terus berlanjut di mana pun kaki kami berpijak.

Salam bumi, pasti lestari.

Penulis: Mariesha Twitty Yusri, ibu dari finalis Putri Lingkungan Hidup 2025 Camallia Azriella Yocha dari SMPN 57 Surabaya

20 thoughts on “Ketika Rumah Kami Berubah Menjadi Laboratorium Kemangi

  • Desember 3, 2025 pada 18:54
    Permalink

    Nayla Thalita Azzahra
    No Peserta : 524
    SDN Petemon IX Surabaya
    Judul Proyek : Lets Go to Bali Badung ( Ayo Budidaya Lidah Buaya dengan Produk Unggulan )

    Sebuah artikel yang ispiratif, dimana sebagai generasi muda yang tidak hanya terlena dengan dunia gadget tapi juga cukup peduli dengan lingkungan sekita. Semoga pengalaman yang dibagikan bisa menjadi contoh untuk para siswa penerus bangsa bahwa lingkungan yang hijau dan sehat akan menyelamatkan kita di masa depan.

    Salam Bumi Pasti Lestari

    Balas
    • Desember 4, 2025 pada 17:14
      Permalink

      Keren sekali proyeknya mendapatkan dukungan dari mama tercinta,yang sangat hebat sekali,semangat trus dan semoga sukses untuk proyeknya ya kakak.
      Nama: Muhammad Hidayahtullah
      Sekolah: SDN KAPASARI 1/292 Surabaya
      No Peserta: 145
      Proyek: Budidaya Daun Pandan

      Balas
    • Desember 5, 2025 pada 12:00
      Permalink

      artikel ini sangat bermanfaat karena kita sebagi anak itu juga masi butuh pendampingan dari orang tua dalam lomba bukan hanya tentang melatih, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang baik.

      NAMA:DIAJENG PUTRI PAMBAYUN
      SEKOLAH:SMP NEGERI 46 SURABAYA
      PROYEK:~SAMILA~
      NO PESERTA:1260

      Balas
  • Desember 3, 2025 pada 20:14
    Permalink

    Bunda emang wonder woman sih..tiada tanding di belahan dunia manapun. Lopyu bundaaa

    Balas
  • Desember 3, 2025 pada 20:22
    Permalink

    Keren sekali kak Proyeknya mendapatkan dukungan penuh dari sang mama yang hebattt👍tetap semangatt semoga sukses untuk proyeknya yaa kak
    Nama Felychia Rosalina Putri
    SDN Sawunggaling 1/382 Surabaya
    Dengan Proyek Pengolahan Limbah Minyak Jelantah

    Balas
  • Desember 3, 2025 pada 22:51
    Permalink

    Nama:Raka Maulana Pratama
    No.peserta:561
    Sekolah:SMPN 25 SURABAYA
    Judul Proyek:kejaiban kompos tkk bagi lingkungan

    Cerita ini sangat menginspirasi! Perjalanan pendampingan yang penuh kerja sama dan ketekunan membuat inovasi dari daun kemangi terasa begitu bermakna. Luar biasa melihat bagaimana ide sederhana bisa berkembang menjadi produk yang bermanfaat.
    Semangat chira, dukungan keluarga, serta peran guru benar-benar menunjukkan bahwa proyek lingkungan bukan hanya soal lomba, tetapi juga proses belajar yang membentuk karakter. Semoga kisah ini menginspirasi banyak orang untuk terus berkreasi dan menjaga bumi. Salam bumi, pasti lestari! 🌿💚

    Balas
  • Desember 3, 2025 pada 23:18
    Permalink

    Wah keren ya,… ternyata pengalaman dari membuat deodorant dari kemangi, sukses selalu ya

    Saya Ni Luh Gd Kt Keyva Richie Valerina Atmaja
    sekolah SMPN 6 Surabaya
    Judul Proyek Budidaya Lemongrass
    Nomor peserta 1392

    Balas
  • Desember 4, 2025 pada 05:38
    Permalink

    Mari kita sama-sama berjuang, bukan untuk saling menjegal, tetapi untuk saling mendukung dalam kebaikan.

    Balas
  • Desember 4, 2025 pada 09:35
    Permalink

    Sangat luar biasa, semoga kisah ini menginspirasi banyak orang untuk berkreasi dan menjaga bumi.
    Nama: Muhammad Hidayahtullah
    Sekolah; SDN KAPASARI 1/292 Surabaya No peserta! 145
    Proyek: Budidaya Daun Pandan

    Balas
  • Desember 4, 2025 pada 10:16
    Permalink

    Mantap kak, dibalik anak-anak yang hebat selalu ada supprt sistem terbaik dari keluarganya terutama orang tua, semangat terus.
    Nama : Fatimah Nawal Rahman
    Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
    No. Peserta : 026
    Pencapaian : 1.793,75 kg

    Daur ulang sampah An Organik menjadi produk kerajinan
    Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan

    Balas
  • Desember 5, 2025 pada 04:35
    Permalink

    Wowww, bisa ini di bisikin cara bikinnya, atau bisa di beri tester atau bisa di beli ya kak??? 🙂

    Balas
    • Desember 7, 2025 pada 22:05
      Permalink

      Semua hal besar dimulai dari hal kecil rumah. Aksi kecil namun berdampak besar. Stop buang sampah sembarang dan mari kita pilih dan olah sampah kita sendiri.

      Nama : Fatimah Nawal Rahman
      Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
      No. Peserta : 026
      Pencapaian : 1.793,75 kg

      Daur ulang sampah An Organik menjadi produk kerajinan
      Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan

      Balas
  • Desember 7, 2025 pada 07:36
    Permalink

    Keren kak Camallia..Tetap semangat dalam berkarya dan sukses selalu✨️

    Nama : Fathan Alby A
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • Desember 9, 2025 pada 12:59
    Permalink

    Luar biasa kak

    Bau badan memang sangat mengganggu rasa Percaya diri terutama bagi kita kaum remaja yg aktif berkeringat.
    Dengan temuan deodorant dari kemangi bisa menjadi solusi utk bau badan yaa.

    Semangat terus kak Camallia

    Salam Komandan

    Marshall Dastan Putra R
    Sdn. Ketabang 1/288
    No peserta 207
    Ptoject KOMANDAN

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 14:53
    Permalink

    Cerita yang menghangatkan hati. Dukungan orang tua memang jadi energi terbesar buat anak berani berkarya. Salut atas perjalanannya yang penuh cinta dan kreativitas💚

    Isvara Nareswari Aryanto_206
    SDN Kaliasin 1
    Budidaya Tanaman Pacar Air

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 15:00
    Permalink

    Keren Mam Kak Camelia, sukses selalu buat kak Camelia dan tetap semangat hijaukan lingkungan sekitar

    Akifa Maulidya (698)
    SDN Tandes Kidul 1
    Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • Desember 11, 2025 pada 23:35
    Permalink

    Cerita dalam artikel Ketika Rumah Kami Berubah Menjadi Laboratorium Kemangi ini sungguh menghangatkan hati. Perjalanan seorang ibu mendampingi putrinya bukan hanya menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan daun kemangi, tetapi juga menggambarkan bagaimana sebuah proyek lingkungan mampu membangun karakter, ketangguhan, dan kedekatan keluarga. Proses yang penuh eksperimen, kegagalan, dan bangkit kembali membuat kisah ini begitu inspiratif. Dukungan orang tua, guru, dan komunitas benar-benar menjadi energi besar di balik lahirnya inovasi ramah lingkungan dari generasi muda. Salut untuk semangat keluarga ini yang melihat lomba bukan sekadar kompetisi, tetapi sebagai ruang belajar kehidupan. Semoga kisah seperti ini terus memotivasi banyak anak dan orang tua untuk berani mencoba hal baru, memanfaatkan potensi alam, dan berkontribusi bagi bumi dengan cara yang kreatif dan menyenangkan

    Balas
  • Desember 14, 2025 pada 06:58
    Permalink

    Kemangi baunya enak harum, keluarga saya suka dengan kemangi tapi klo saya sih tidak seberapa suka. Tetap semangat untuk bercocok tanam.
    Eno wahyu kamagading
    SDN pacarkeling 1/182 surabaya
    Eco enzym
    452

    Balas
  • Desember 14, 2025 pada 09:11
    Permalink

    Keren sekali kak camallia.. Smga dapat menginspirasi kita smua..

    Nama : Naysia Aqila Andriani
    Sekolah : SDN Ngagelrejo3
    No peserta: 428
    Proyek budi daya sereh

    proyek tanaman sereh dengan berbagai manfaat dalam berbagai bidang dapat digunakan untuk obat-obat an, bumbu dapur hingga pengusir nyamuk

    🌱Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 07:21
    Permalink

    Kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa kepedulian lingkungan harus ditanamkan sejak dini, dimulai dari rumah dengan dukungan penuh orang tua. Kreativitas anak akan tumbuh luar biasa ketika diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat. Mari jadikan setiap proses belajar anak sebagai jalan membangun generasi yang peduli, tangguh, dan berani berinovasi demi bumi yang lestari.

    Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
    ‎Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).

    ‎Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *