Laut Kita, Masa Depan Kita: Seruan Peduli dengan Momentum Hari Laut Sedunia 2025
Hari Laut Sedunia diperingati setiap 8 Juni. Tahun ini mengambil momentum tepat setelah diselenggarakannya Third UN Ocean Conference di Nice (9–13 Juni 2025). Konferensi ini menekankan urgensi melindungi lautan melalui Niсe Ocean Agreements, meliputi pengurangan polusi plastik, dekarbonisasi pelayaran, dan peningkatan konservasi laut.
Riset menunjukkan suhu permukaan laut di awal 2025 masih berada di rekor sejarah. Data Copernicus dan WMO mengonfirmasi bahwa selama 2023–2024 terjadi gelombang panas laut yang meliputi wilayah sebesar lima kali luas Australia di Asia Tenggara hingga Pasifik, dan suhu laut meningkat hingga +0,5 °C di wilayah tropis.
Sejak Januari 2023, lebih dari 84 % terumbu karang global mengalami pemutihan akibat panas laut ekstrem, menjadikannya krisis pemutihan terparah dalam sejarah modern. Efeknya dirasakan oleh terumbu di Great Barrier Reef, Karibia, dan wilayah Indo-Pasifik.
Per tahun 2025, diperkirakan terdapat antara 75 hingga 199 juta ton plastik yang mengambang di lautan dunia, dengan sekitar 33 miliar pon plastik baru memasuki laut setiap tahunnya. Tanpa intervensi, jumlah plastik di laut diprediksi akan melebihi berat seluruh populasi ikan sebelum 2050.
Pemanasan laut juga memicu menurunnya kadar oksigen—penurunan sekitar 2 % sejak 1960-an—dan memperluas zona air rendah oksigen alias “zona mati,” yang mengancam kelangsungan hidup banyak spesies laut.
Di Indonesia, pemerintah aktif menginisiasi gerakan “Laut Indonesia Bersih, Bebas Sampah 2025” guna mendukung SDG 14.1, yaitu mengurangi polusi laut dari aktivitas darat. Aksi ini termasuk harmonisasi regulasi dan peningkatan kesadaran publik.
Dampak Cuaca Ekstrem dan Gelombang Laut Garis Pesisir
BMKG mencatat gelombang laut signifikan di Laut Natuna dan Samudra Hindia pada awal Januari 2025. Intensitas rob—pasang air laut ekstrem—semakin sering terjadi sepanjang April hingga Mei di Surabaya, dengan tinggi pasang maksimum 130–150 cm.
Sejak akhir April hingga akhir Mei 2025, Surabaya mengalami banjir rob berkali-kali. Pertengahan Mei, genangan mencapai 50 cm di area Kalimas Baru, Perak Barat, dan Kalianak. Serta mengganggu aktivitas warga, perikanan budidaya, dan operasional Pelabuhan.
Meskipun kondisi laut makin memprihatinkan, momentum seperti UNOC3 dan dukungan finansial blue bonds—senilai hingga US$100 miliar—menjadi peluang strategis untuk mewujudkan ekonomi biru berkelanjutan, melindungi laut, dan mencapai target konservasi global hingga 2030.
Peran Pemangku Kepentingan dan Dunia Pendidikan
Untuk menanggulangi tantangan laut, diperlukan kolaborasi lintas sektor:
- Pemerintah & Industri: memperkuat pengawasan terhadap illegal fishing, polusi plastik, dan reklamasi ilegal.
- Ilmuwan & Akademisi: mengembangkan teknologi pemantauan suhu laut dan solusi konservasi terumbu karang.
- Sekolah & Universitas: memasukkan pendidikan kelautan dalam kurikulum, mengadakan kegiatan praktik seperti penanaman mangrove, aksi bersih pantai, dan penelitian warga (citizen science).
- Masyarakat & Nelayan: penerapan kearifan lokal serta ikut terlibat dalam pengawasan lingkungan.
- Media & LSM: menyebarluaskan edukasi dan mendorong akuntabilitas kebijakan melalui kampanye publik.
Dengan pendidikan sebagai dasar, generasi muda mampu menjadi agen perubahan laut yang cerdas, bertanggung jawab, dan inovatif.
Peran Generasi Muda sebagai Penjaga Laut Masa Depan
Generasi muda memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan laut. Inisiatif seperti gerakan sekolah pantai, klub ilmiah remaja, hingga lomba inovasi teknologi ramah laut menjadi sarana konkret yang dapat memperkuat literasi kelautan mereka.
Di berbagai daerah pesisir Indonesia, muncul komunitas pemuda yang aktif melakukan rehabilitasi mangrove, edukasi bahaya mikroplastik, hingga pemantauan kualitas air laut menggunakan metode sederhana. Upaya ini perlu terus didukung oleh sekolah, pemerintah daerah, dan lembaga donor agar memiliki dampak yang luas dan berkelanjutan.
Digitalisasi untuk Laut yang Lebih Sehat
Perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyelamatan laut. Aplikasi pelaporan pencemaran laut, pemetaan sebaran plastik, serta sistem pendeteksi dini rob atau kenaikan muka air laut telah dikembangkan oleh startup dan universitas.
Kolaborasi antara ilmuwan data, pengelola kawasan pesisir, dan masyarakat lokal sangat diperlukan agar inovasi ini tepat guna. Pemerintah dan swasta juga dapat mendorong kemitraan blue-tech yang mengintegrasikan solusi digital dengan kebijakan pelestarian laut.
Pariwisata Laut Berkelanjutan
Sektor pariwisata bahari menjadi peluang sekaligus tantangan. Kawasan seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Wakatobi semakin ramai dikunjungi wisatawan, namun peningkatan aktivitas wisata membawa ancaman terhadap ekosistem laut.
Diperlukan standar wisata berkelanjutan—mulai dari larangan membawa tabir surya berbahan kimia merusak, pengelolaan limbah kapal wisata, hingga edukasi snorkeler dan penyelam. Mendorong sertifikasi ekowisata dan pelatihan pelaku wisata lokal akan menciptakan pariwisata yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menjaga kelestarian laut.
Refleksi dan Komitmen Jangka Panjang
Hari Laut Sedunia 2025 seharusnya menjadi momen refleksi dan komitmen. Kita tidak hanya dihadapkan pada krisis ekologi laut, tetapi juga krisis keadilan lingkungan: komunitas pesisir yang paling terdampak sering kali paling sedikit berkontribusi pada kerusakan laut.
Maka dari itu, ke depan perlu diciptakan sistem perlindungan laut yang adil, partisipatif, dan berbasis bukti ilmiah. Dengan semangat gotong royong dan berbagi tanggung jawab, Indonesia dan dunia dapat menjadi garda depan penyelamatan laut secara berkelanjutan.
Hari Laut Sedunia 2025 bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan mendesak menuju aksi nyata: menyelamatkan laut dari suhu ekstrem, polusi plastik, dan rob. Melalui sinergi semua pemangku kepentingan dan penguatan pendidikan kelautan, kita bisa menjaga laut—baik global, nasional, maupun lokal—agar tetap lestari dan produktif. (TunasHijauID)


Selamat Hari Laut Sedunia 8 Juni 2025
jaga alam, sedikit langkah kecil kita berdampak besar, contoh kecil mengikuti bersih bersih pantai setiap minggunya yg diadakan oleh tunas hijau
saya Ni Luh Gd Kt Keyva Richie Valerina Atmaja
SMPN 6 Surabaya
Judul proyek Budidaya Lemongrass
Nomor peserta 1392
Jaga lingkungan akan berdampak besar untuk melestarikan laut.
isue isue sampah masih menjadi permasalahan dunia, tidak banya di Indonesia,
Nama Ni Luh Gede Reva Dealove Valentcia Atmaja
sekolah SMPN 35 Surabaya
nomor peserta 1130
judul proyek Budidaya Rosela
Selamat hari laut sedunia….
Jaga kelestarian laut kita
Mayfrina Aisyahrani – 1076
SMPN 3 SURABAYA
PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK BERKELANJUTAN
Dukungan terhadap teknologi digital, edukasi kelautan, dan ekowisata berkelanjutan akan menjadi fondasi penting menuju laut yang sehat, adil, dan lestari. Hari Laut Sedunia bukan hanya peringatan, tetapi seruan kolektif untuk bertindak sekarang—demi masa depan laut dan manusia.
Nama: Zafran Nauval Aqil Pandu Herningsih
Asal Sekolah: SDN Wiyung 1 Surabaya
Nomer Peserta:417
Judul Project: Pembuatan Pupuk Kompos Organik dari Sampah Dapur
Selamat Hari Laut Sedunia, semoga kita bisa menikmati dan menjaga laut agar tetap bersih.
Gadis Ayuningtyas Putri Suwandik
SMPN 46 Surabaya
No.1262
Proyek : Journey Of Banana Boost and Shield
🌊 Yuk Jaga Laut untuk Masa Depan dan Kurangi Berbagai Sampah! 🐢🐠🦈.
Di balik ketenangan ombak pantai, tersembunyi kisah perjuangan yang nyaris tak tertandingi — kisah para makhluk laut yang semakin hari semakin tersingkir dari rumahnya sendiri. Dari penyu, dugong, ikan napoleon, hiu paus, hingga pari manta — semuanya sedang menghadapi krisis besar: kehilangan habitat, pencemaran laut, dan ancaman kepunahan.
Bayangkan, seekor tukik mungil harus merangkak di pasir yang panas, berusaha mencapai laut sebelum dipatuk burung dari langit atau dicapit kepiting dari balik pasir. Sementara itu, dugong (duyung) yang dulu hidup damai di padang lamun kini kehilangan makanan karena laut penuh lumpur dan limbah. Pari manta tersangkut jaring hantu, dan hiu paus harus berenang di perairan yang dipenuhi plastik dan tumpahan minyak.
Bahkan setelah berhasil mencapai lautan, tantangan belum berhenti. Laut yang dulu jadi rumah, kini berubah menjadi perangkap. Dari 1.000 tukik penyu, hanya 1 yang mungkin hidup hingga dewasa. Sungguh menyakitkan bahwa makhluk-makhluk laut yang kuat dan luar biasa ini harus bertahan di dunia yang kita rusak.
Mereka bukan sekadar makhluk laut yang indah — mereka adalah penjaga keseimbangan laut. Namun hari ini, mereka sedang berjuang untuk bertahan hidup. Sedih rasanya mengetahui bahwa tempat bertelur mereka kini berubah jadi hotel, jalanan, atau pelabuhan.
Saya percaya, setiap kita bisa jadi pahlawan kecil bagi laut. Lewat aksi sederhana: kurangi plastik, jaga pantai, dan edukasi teman-teman. 🌱💚
Sebagai peserta Putri Lingkungan Hidup 2025 dan pejuang ecoenzym, saya tahu bahwa menjaga bumi bukan tugas segelintir orang — tapi tanggung jawab bersama. Ecoenzym yang saya buat dari limbah dapur bisa membantu mengurangi polusi laut, menjaga air tetap bersih, dan menjadi bagian kecil dari perlindungan ekosistem tempat makhluk-makhluk laut tinggal.
Mari jadikan setiap hari sebagai awal kebangkitan kesadaran. Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan semua hewan laut hari ini, tapi kita bisa mencegah satu lagi dari memakan plastik, satu habitat lagi dari dihancurkan, satu masa depan lagi dari hilang.
🌿 Anak muda punya peran penting. Kita adalah generasi yang bisa memilih: menjadi perusak atau penyelamat. Dan saya memilih menjadi penyelamat — bukan hanya untuk penyu, tapi untuk semua kehidupan laut yang nyaris tak bersuara.
✨🐠 Karena menyelamatkan laut bukan hanya tentang melindungi satu spesies — tapi menjaga harapan, keseimbangan alam, dan masa depan kita sendiri.
💚 “Kita tidak bisa hidup sehat di planet yang sakit — dan laut adalah cermin paling jujur dari kesehatan bumi.”
—
🧃 Sampah dan Limbah: Ancaman Nyata bagi Laut
Sampah organik yang menumpuk bisa menyebabkan zona mati, karena oksigen di laut habis oleh proses pembusukan.
Sampah non-organik seperti plastik, logam, dan kaca bisa merusak ekosistem laut selama ratusan tahun.
Mikroplastik kini sudah ditemukan di tubuh ikan, garam dapur, bahkan air minum kita. Ini ancaman bagi manusia dan hewan.
Banyak hewan laut — dari burung albatros hingga ikan paus — ditemukan mati dengan perut penuh plastik.
—
💥 Teknologi Penangkapan Ikan yang Merusak
Tidak semua teknologi baik untuk laut. Beberapa nelayan menggunakan:
Bom ikan yang menghancurkan terumbu karang sekaligus membunuh bayi ikan, karang muda, dan hewan kecil lainnya.
Alat setrum yang membunuh ikan secara massal, termasuk yang masih kecil dan belum layak tangkap.
Jaring pukat dasar yang menyeret dasar laut, menghancurkan ekosistem bawah laut yang butuh ratusan tahun untuk tumbuh.
Akibatnya? Hewan laut kehilangan rumah, populasi ikan menurun tajam, dan laut jadi kosong serta tidak seimbang. Jika ini terus terjadi, bukan hanya hewan laut yang rugi — manusia pun akan kehilangan sumber pangan dan mata pencaharian.
—
🌟 Saatnya Bertindak!
💧 Kurangi plastik sekali pakai dan pilah sampah dari rumah.
🧼 Gunakan produk ramah lingkungan seperti ecoenzym untuk mengurangi limbah kimia.
🐠 Dukung nelayan yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
🌴 Jaga hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang.
👣 Mulai dari hal kecil: bawa botol minum sendiri, ajak teman bersih pantai, dan berbagi ilmu.
—
✨ Karena menjaga laut bukan tugas satu orang, tapi tugas kita semua.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kalau bukan kita, siapa lagi?
🌿 “Satu langkah kecil kita hari ini bisa menyelamatkan satu ekor duyung, satu ekor penyu, satu rumah bagi ikan, dan masa depan satu generasi.”
💚 Yuk, jaga laut untuk masa depan!
#SelamatkanLaut #EcoenzymUntukBumi #LautAdalahNapasKita #PutriLingkunganHidup2025 🌊🐠🦈🌍
Perkenalkan saya adalah peserta Putri lingkungan hidup tahun 2025. Dengan :
Proyek : inovasi ecoenzym
Nama : lintang Tabia Ramadhan
Sekolah : SMPN 11 Surabaya
No. Peserta : 800
🌱 Marshella Giovany Ilyas — SMP Negeri 53 Surabaya — No. Peserta: 1344
📄 Judul Proyek: Budidaya Selada Hidroponik Ramah Lingkungan
✨ Komentar:
Artikel ini sangat membuka mata tentang kondisi laut kita yang semakin memprihatinkan. Semoga semua pihak benar-benar bersinergi menjaga laut, dan generasi muda bisa ikut jadi bagian solusinya. Terima kasih sudah mengingatkan pentingnya aksi nyata, bukan hanya seremonial. 🌊♻️
Artikelnya sangat bermanfaat apalagi menjelaskan tentang laut, semoga di Hari Laut Sedunia 🌊 ini ada perubahan pada laut kita terutama pada penduduk agar semakin sadar 😉👌🏻.
Nama: Adinda Quenza Ramadhani
Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
No peserta: 224
Proyek: Budidaya tanaman terong 🍆
Saya sangat terkesan dengan isi artikel ini karena memberikan gambaran lengkap tentang krisis yang sedang terjadi di laut dunia, termasuk di Indonesia. Artikel ini bukan hanya mengingatkan kita tentang pentingnya laut, tapi juga menyadarkan saya bahwa krisis laut adalah krisis kehidupan.
Dari artikel ini saya baru tahu bahwa 84% terumbu karang dunia mengalami pemutihan karena suhu laut yang ekstrem. Padahal, dalam pelajaran IPA saya belajar bahwa terumbu karang adalah rumah bagi ribuan jenis ikan dan hewan laut lainnya. Jika terumbu karang rusak, rantai makanan laut akan terganggu. Ini bisa membuat banyak nelayan kehilangan hasil tangkapannya. Menurut saya, ini sangat serius.
Saya juga terkejut bahwa setiap tahun 33 miliar pon plastik masuk ke laut, dan kalau tidak dihentikan, berat plastik di laut akan melebihi berat ikan sebelum tahun 2050. Itu sangat menyedihkan. Oleh karena itu, proyek saya EcoGeniuz Pillow, yang mengubah sampah plastik menjadi bantal, saya yakini sebagai salah satu upaya kecil untuk mengurangi sampah plastik di laut. Saya berharap lebih banyak teman-teman juga ikut mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Selain itu, artikel ini juga menjelaskan pentingnya peran generasi muda seperti saya. Kami tidak boleh menunggu dewasa dulu untuk ikut menjaga laut. Melalui kegiatan seperti penanaman mangrove, saya belajar bahwa tanaman ini mampu menahan abrasi, menyerap karbon, dan menyediakan tempat berlindung bagi hewan laut kecil. Ini adalah bentuk nyata bahwa alam punya cara sendiri untuk bertahan, asal kita tidak merusaknya.
Yang paling saya suka dari artikel ini adalah bagian tentang digitalisasi dan blue-tech. Di zaman sekarang, saya percaya teknologi bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk menyelamatkan laut, misalnya dengan aplikasi pelaporan sampah atau sistem peringatan dini banjir rob. Sebagai pelajar yang juga suka teknologi, saya jadi termotivasi untuk belajar lebih banyak agar suatu saat bisa menciptakan teknologi yang ramah laut.
Hari Laut Sedunia bukan hanya soal peringatan setiap 8 Juni. Tapi harus menjadi momen aksi nyata, karena laut bukan tempat membuang sampah, tapi sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Nama: Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto
Sekolah: SMP Negeri 1 Surabaya
No. Urut: 451
Proyek: EcoGeniuz Pillow dan Penanaman Mangrove
Hari Laut Sedunia 2025 jadi momentum penting untuk bersatu menyelamatkan laut. Lewat kolaborasi, edukasi, dan teknologi, kita bisa wujudkan laut yang sehat, lestari, dan adil untuk generasi mendatang.
Nama: Gede Kesawa Desvananda Sasmita
Nomor Peserta: 595
Judul Proyek: Biobox Maggot: Solusi Daur Ulang Sampah Rumah Tangga Menjadi Emas Hitams
Dukungan terhadap teknologi digital, edukasi kelautan, dan ekowisata berkelanjutan akan menjadi fondasi penting menuju laut yang sehat, adil, dan lestari. Hari Laut Sedunia bukan hanya peringatan, tetapi seruan kolektif untuk bertindak sekarang—demi masa depan laut dan manusia.
Nama : Nandana Akatara Arka Radita
Kelas : 6A
Sekolah : SDN jemurwonosari 1
selamat hari laut sedunia
dan trimakasii atas informasi yang sudah disampaikan dan bisa kita menginspirasikan
saya putri ariesta dewi peserta pangput lh 2025
dari smp negeri 31 surabaya nomor urut 1112
Hari laut sedunia di peringati setiap 8 juni, menurut saya manfaat dari adanya hari laut sedunia yaitu meningkatan kesadaran bagi setiap warga negara agar menjaga kelestarian laut dan isinya seperti tidak membuang sampah atau limbah ke laut.
Nama : Muhammad Sendy Isnanda
Sekolah : MTS NEGERI 2 SIDOARJO
No peserta : 709
Judul proyek : PENGELOLAAN SAMPAH SEBAGAIMANA MESTINYA
Tulisan ini mengingatkan kita bawah laut bukan hanya sumber keindahan tapi juga kehidupan digitalisasi edukasi dan peristiwa berkelanjutan harus berjalan bersama mari kita jaga laut dengan aksi nyata bukan hanya seremoni
Nama Marshella Giovany ilyas
No peserta 1344
Asal sekolah SMPN 53 SURABAYA
Budidaya selada hidroponik
Yuk kita jaga laut
Peringatan hari Laut Sedunia 2025 jadi momentum untuk menjaga ekosistem laut. Aksi nyata seperti pembersihan pantai dan laut dari plastik bisa sangat memberikan manfaat bagi kelestarian laut. Ayo kita bersama wujudkan laut yang sehat!
Nama : AMIRA RAFA AULIA SUBHI
Asal : SMPN 1 SURABAYA
No Peserta : 756
Proyek : ALOE SHINE (BUDIDAYA LIDAH BUAYA)
Hari Laut sedunia
Marshall Dastan Putra R
Sdn Ketabang 1/288 Surabaya
No peserta : 207
Project : KOMANDAN ( Koleksi Tanaman Pandan)
Seperti kita ketahui bumi lbh banyak berisi lautan.
Dengan menjaga laut dari panas suhu laut yg akhirnya menyebabkan terumbu karang dan ekosistem di dalamnya rusak
Apalagi dengan masalah sampah dRi darat ini yang pastinya akan merubah semua ekosistem laut.
Perlunya teknologi dan inovasi serta kesadaran kita semua menjaga laut kita.
Ini dia yang kucari , suka bgt belajar tentang laut
Nayla Thalita Azzahra
SDN Petemon 9
No Peserta 524
Nama proyek : let’s go to bali Badung
Ayo budidaya tanaman lidah buaya dengan produk unggulan