Minimnya Burung-Burung yang Terbang Bebas di Kota-Kota di Indonesia

Burung liar pernah menjadi bagian akrab dari lanskap kota-kota di Indonesia. Kicauannya mengiringi pagi, dan keberadaannya menjadi indikator bahwa lingkungan masih sehat. Namun dalam dua dekade terakhir, banyak kota besar maupun kota kabupaten mulai kehilangan fenomena ini. Jumlah burung liar yang terbang bebas terlihat semakin sedikit, seolah kota kehilangan denyut ekologisnya. Fenomena ini bukan sekadar perubahan kecil, tetapi tanda penting dari menurunnya kualitas ruang hidup perkotaan.

Salah satu penyebab utama berkurangnya burung di kota adalah hilangnya habitat alami. Ruang hijau yang dahulu menjadi tempat berkembang biak, mencari makan, dan berlindung kini tergantikan oleh beton, gedung tinggi, dan perumahan. Pepohonan besar yang seharusnya menjadi tempat bersarang semakin langka. Kota yang terus tumbuh tidak menyediakan ruang yang cukup bagi burung untuk tetap bertahan.

Perubahan struktur kota juga memengaruhi ketersediaan pakan bagi burung. Banyak burung liar bergantung pada keberadaan tanaman berbunga, semak, serta serangga yang hidup di area vegetasi alami. Lingkungan perkotaan yang steril, rapi, dan didominasi tanaman ornamental nonpakan membuat burung kesulitan menemukan sumber nutrisi. Akibatnya, mereka berpindah ke daerah pinggiran atau benar-benar meninggalkan kota tersebut.

Polusi udara juga memberikan peran besar terhadap penurunan populasi burung di kota. Burung merupakan satwa yang sangat sensitif terhadap kualitas udara. Keberadaan partikel berbahaya dari emisi kendaraan bermotor dan pembakaran sampah membuat pernapasan burung terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga menurunkan kemampuan berkembang biak burung.

Kebisingan merupakan faktor lain yang sering kali diabaikan. Kota adalah tempat bising: suara kendaraan, mesin, bangunan, dan aktivitas manusia berlangsung hampir tanpa henti. Padahal, burung sangat mengandalkan komunikasi suara untuk bertahan hidup. Kebisingan membuat mereka kesulitan mengirim dan menerima sinyal bahaya, mencari pasangan, atau menjaga anak. Kondisi ini memaksa banyak spesies untuk menghindari wilayah perkotaan.

Ancaman predasi oleh kucing peliharaan dan kucing liar juga ikut berperan. Kucing merupakan predator alami burung yang sangat efektif. Di lingkungan perkotaan, populasi kucing yang tidak terkontrol menimbulkan tekanan besar pada burung-burung yang mencoba berkembang biak. Telur dan anak burung di sarang menjadi sasaran empuk, sehingga keberhasilan reproduksi burung liar di kota menjadi sangat rendah.

Selain faktor lingkungan, perdagangan burung kicau turut memperburuk keadaan. Banyak burung liar ditangkap untuk dijual sebagai hewan peliharaan atau untuk diikutsertakan dalam kontes. Kota-kota besar menjadi pasar potensial bagi para penangkap burung, sehingga populasi di alam semakin menurun. Tradisi memelihara burung sebenarnya tidak salah, tetapi praktik penangkapan liar yang tidak terkontrol berdampak besar pada keberadaan burung di perkotaan.

Mengembalikan keberadaan burung di kota bukanlah hal mustahil. Perlu upaya serius untuk memperluas ruang hijau, menanam pohon peneduh dan tanaman pakan, mengurangi polusi, serta mengendalikan populasi kucing liar. Edukasi mengenai pentingnya membiarkan burung hidup bebas juga perlu diperkuat. Kehadiran burung bukan hanya memperindah kota, tetapi juga menjadi penanda bahwa ekosistem perkotaan masih memiliki harapan untuk sehat dan berkelanjutan. (Penulis: Mochamad Zamroni)

14 thoughts on “Minimnya Burung-Burung yang Terbang Bebas di Kota-Kota di Indonesia

  • Desember 1, 2025 pada 16:08
    Permalink

    Adanya burung-burung di perkotaan bisa jadi hal yang sangat menarik dan tentunya menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi warga kota. Sangat mungkin bisa di munculkan dengan berbagai hal yang sudah ditulis pada artikel ini.

    Balas
  • Desember 1, 2025 pada 16:59
    Permalink

    Kasihan burungnya kelaparan kalau di kota yang di temui gedung tinggi bukan pohon yang tinggi. Ayo memulai menanam pohon lagi biar kota kita menjadi lebih indah dan asri dengan kicauan burung burung
    Eno wahyu kamagading
    SDN pacarkeling 1/182 surabaya
    Eco enzym
    452

    Balas
  • Desember 1, 2025 pada 19:59
    Permalink

    Semangat penghijauan untuk peduli populasi burung dikota
    Reynando Yudhistira putra
    SDN Wiyung 1 Surabaya
    Pengolahan sampah plastik
    No peserta 409

    Balas
    • Desember 3, 2025 pada 05:16
      Permalink

      Burung di perkotaan kebanyakan di buat hewan peliharaan dan lomba tidak kedengan siulan siulan alami burung yang terbang. Burung di desa masih banyak ada tempat buat mereka karena udaranya segar dan masih banyak sumber makanan.
      Carissa Putri Fatihasari
      SDN Sidotopo wetan V
      No.peserta : 674
      Proyek SANCA ( Sampah anorganik Carissa)

      Balas
  • Desember 2, 2025 pada 08:27
    Permalink

    Dengan memperbanyak pohon atau ruang hijau agar burung kembali datang dan burung kembali hidup dengan nyaman. Ayo semangat hijaukan perkotaan untuk menjaga populasi burung 🥰

    Akifa Maulidya (698)
    SDN Tandes Kidul 1
    Budidaya organik tanaman kale

    Balas
    • Desember 3, 2025 pada 07:44
      Permalink

      Ayo perbanyak menanam pohon dan menjaga kelestarian alam,agar banyak burung lagi yang datang dan berkicauan dengan nyaman dan senang sekali,
      Nama: Muhammad Hidayahtullah
      Sekolah: SDN KAPASARI 1/292 Surabaya
      No Peserta: 145
      Proyek: Budidaya Daun Pandan

      Balas
      • Desember 16, 2025 pada 14:39
        Permalink

        Terkadang saya sangat sedih karna melihat minimnya burung burung di perkotaan untuk saat ini, Padahal burung berperan sangat penting untuk ekosistem, Jadi solusinya sendiri kita harus memperbanyak ruang terbuka hijau, Mengurangi populasi pada udara, Dan juga mengontrol populasi kucing

        Almahyra Danesh Syaquila
        Nomer urut 278
        Judul proyek Budimalang
        SDN Ketabang 1/288

        Balas
  • Desember 3, 2025 pada 08:11
    Permalink

    Semakin berkurangnya populasi burung di perkotaan salah satu penyebabnya karena minimnya habitat bagi mereka. Kurangnya ruang terbuka hijau, pohon peneduh, dan tanaman pakan membuat burung mencari daerah pinggiran yang aman untuk mereka jadikan tempat tinggal. Semoga pemerintah bisa memperluas ruang terbuka hijau agar populasi burung bisa kembali lagi ke perkotaan.

    Nama : Fathan Alby Andhitama
    No : 0037
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • Desember 3, 2025 pada 23:26
    Permalink

    Nama:Raka maulana pratama
    Sekolah:SMPN 25 SURABAYA
    No.peserta:561
    Proyek:keajaiban kompos tkk bagi lingkungan

    pentingnya keberadaan burung liar sebagai indikator kesehatan ekosistem kota. Penjelasannya lengkap, runtut, dan memperlihatkan bagaimana hilangnya ruang hijau, polusi, kebisingan, hingga perdagangan burung berdampak besar pada populasi burung liar di perkotaan.

    Bagian solusinya juga sangat kuat. Upaya seperti menanam pohon peneduh, menambah ruang hijau, mengelola populasi kucing liar, serta edukasi tentang pentingnya membiarkan burung hidup bebas terasa realistis dan bisa dilakukan banyak pihak. Tulisan ini tidak hanya memberi informasi, tetapi juga mengajak pembacanya untuk ikut menjaga keseimbangan lingkungan kota.

    Semoga semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa kicauan burung bukan sekadar suara latar, melainkan tanda bahwa kota masih hidup dan sehat. 🕊️🌿

    Balas
  • Desember 4, 2025 pada 05:35
    Permalink

    Yuk kita gunakan transportasi umum atau sepeda goes seperti jaman bunda aku dulu. Beliau bercerita kalau dulu kemana mana naik bis atau bemo. Bahkan pernah naik sepeda dari Sidoarjo ke pasar turi untuk membeli barang di pasar Turi. Sehingga mengurangi kebisingan dan polusi di kota. Jangan lupa kita agendakan menanam pohon bersama di kota kita galakkan jalur hijau

    Balas
  • Desember 9, 2025 pada 09:47
    Permalink

    Upaya untuk menanam tanaman dan pohon adalah agar menarik perhatian burung terutama di daerah perkotaan. Karena burung memiliki peran penting bagi keberlangsungan ekosistem alami wilayah perkotaan.

    Abid Maher Ar Rayyan/193
    SDN Ketabang I/288
    Budidaya tanaman Binahong

    Balas
  • Desember 10, 2025 pada 15:16
    Permalink

    Kita sering lupa kalau burung juga butuh ruang hidup.
    Semoga ke depan ruang hijau kota semakin diperhatikan, dan kicauan burung kembali jadi bagian dari keseharian kita💚

    Isvara Nareswari Aryanto
    SDN Kaliasin 1
    Budidaya Tanaman Pacar Air

    Balas
  • Desember 16, 2025 pada 12:00
    Permalink

    Menurunnya keberadaan burung di perkotaan adalah tanda menurunnya kualitas kota. Hal ini memdorong kesadaran bersama untul lebih peduli pada ruang hijau dan kelestarian satwa di lingkungan sekitar kita.

    Nama: Mikhaela Adeva Abbialya
    No.Peserta: 218
    Sekolah: SDN.Kalisari 2/513 Surabaya.
    Proyek LH: Budidaya tanaman asem jawa dan produk minuman kesehatan tradisional sinom.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *