Pendidikan Karakter melalui Kebersihan Sehari-hari ala Sekolah Jepang
Di sekolah-sekolah Jepang, kebersihan bukan sekadar urusan petugas atau tenaga kebersihan. Sejak jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, para siswa terbiasa membersihkan ruang kelas, koridor, dan halaman sekolah mereka sendiri.
Kegiatan ini disebut o-soji, yang secara harfiah berarti “membersihkan bersama.” Tradisi tersebut bukan hanya soal menjaga kebersihan fisik lingkungan, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap ruang publik.
Dalam kegiatan o-soji, siswa biasanya dibagi menjadi kelompok kecil. Mereka bertugas menyapu, mengepel lantai, mengelap jendela, mengatur meja kursi, hingga membersihkan toilet sekolah. Kegiatan ini dilakukan setiap hari, umumnya selama 15–20 menit sebelum pulang sekolah.
Tidak ada guru yang berdiri sebagai pengawas keras; sebaliknya, guru ikut berpartisipasi membersihkan ruang kelas mereka bersama para murid, sehingga tercipta hubungan yang egaliter dan teladan yang nyata.
Prinsip dasar o-soji berakar dari nilai budaya Jepang yang kuat, yakni gaman (kesabaran dan ketekunan), rei (rasa hormat), dan wa (harmoni). Kebersihan dianggap sebagai cerminan dari diri dan komunitas. Oleh karena itu, ketika seorang anak menjaga kebersihan kelasnya, ia juga sedang belajar menghargai orang lain yang berbagi ruang dengannya. Nilai ini secara tidak langsung membentuk rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Menariknya, kegiatan kebersihan di sekolah Jepang tidak semata-mata diatur oleh peraturan formal, melainkan sudah menjadi norma sosial yang mengakar. Menurut laporan Japan’s Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT), kegiatan kebersihan di sekolah merupakan bagian dari tokkatsu, atau “kegiatan khusus pengembangan diri,” yang dirancang untuk menumbuhkan kebiasaan positif melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori di kelas.
Salah satu efek positif dari pembiasaan o-soji adalah tumbuhnya rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah. Siswa merasa bahwa ruang belajar adalah tanggung jawab bersama, bukan milik orang lain yang harus dirawat oleh pihak luar. Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa. Banyak orang Jepang terbiasa membawa pulang sampah sendiri dari taman, stasiun, atau tempat umum karena kesadaran bahwa kebersihan lingkungan dimulai dari diri sendiri.
Kebijakan tanpa petugas kebersihan di sekolah juga memberikan manfaat pendidikan praktis. Anak-anak belajar membagi peran, bekerja sama dalam kelompok, dan menghargai hasil kerja orang lain. Dalam jangka panjang, mereka mengembangkan empati terhadap profesi pelayanan publik seperti petugas kebersihan atau pengelola sampah. Hal ini sesuai dengan nilai mono no aware—kesadaran untuk menghargai hal-hal kecil yang sering diabaikan.
Selain kegiatan o-soji, pengelolaan sampah di sekolah Jepang juga diatur dengan disiplin tinggi. Setiap kelas memiliki sistem pemilahan sampah: burnable (dapat dibakar), non-burnable (tidak dapat dibakar) recyclable (dapat didaur ulang), dan pet bottles (botol plastik).
Anak-anak dilatih sejak dini untuk memilah sampah dengan benar, membersihkan wadah sebelum membuangnya, dan memastikan tidak ada sisa makanan berserakan. Kegiatan ini mengajarkan tanggung jawab lingkungan sekaligus efisiensi pengelolaan sumber daya.
Dalam beberapa sekolah, siswa juga diajarkan untuk menghemat energi dan air selama kegiatan kebersihan. Misalnya, mereka menggunakan kain lap yang bisa dicuci ulang, bukan tisu sekali pakai, dan menutup keran saat tidak digunakan. Dengan cara ini, kegiatan o-soji menjadi latihan nyata dalam menerapkan prinsip keberlanjutan (sustainable living) sehari-hari.
Budaya kebersihan ini turut mendukung ketertiban sosial Jepang yang terkenal di dunia. Banyak peneliti pendidikan menilai bahwa sistem pendidikan Jepang berhasil menanamkan nilai moral tanpa perlu hukuman keras atau pengawasan berlebihan. Kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian sosial tumbuh karena dibiasakan melalui tindakan sederhana dan rutin seperti membersihkan lingkungan sendiri.
Sistem seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Alih-alih menyerahkan sepenuhnya urusan kebersihan kepada petugas, sekolah dapat menjadikan kegiatan bersih-bersih bersama sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan pembiasaan yang konsisten, siswa dapat memahami bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas orang lain, tetapi bagian dari tanggung jawab moral setiap individu.
Penerapan model ini tentu memerlukan adaptasi dengan budaya lokal. Di Indonesia, semangat gotong royong dan kerja bakti sebenarnya sudah sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan nilai tersebut ke dalam rutinitas sekolah secara terstruktur dan mendidik, bukan sekadar kegiatan insidental menjelang lomba kebersihan atau akreditasi sekolah.
Akhirnya, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa kebersihan adalah pendidikan karakter yang paling konkret. Dengan sapu dan kain lap sederhana, anak-anak belajar nilai-nilai luhur yang tidak bisa diajarkan hanya lewat buku teks: tanggung jawab, kerjasama, dan cinta terhadap lingkungan. Pendidikan seperti inilah yang melahirkan masyarakat yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga beradab dan berempati terhadap ruang hidupnya. (*/TunasHijauID)


Salah satu yang penting untuk keberhasilan suatu bangsa adalah Pendidikan Karakter. Tanpa disadari, Tunas Hijau @tunashijau.id melalui banyak kegiatan yang dilakukan sudah menanamkan karakter cinta lingkungan sejak dini pada anak-anak Indonesia. Semangat terus untuk Tunas Hijau. Kelak Indonesia pun gak akan kalah dengan Jepang 💪
Kenalin, namaku Medina Dyah Kurniasari
Peserta Pangeran Putri Lingkungan Hidup 2025, dengan nomer peserta 686 dari SDN SimolawangKIP156 Surabaya.
Dukunganku untuk Lingkungan adalah “Budidaya Bunga Telangku Menyelamatkan Bumi “
Jepang terkenal dengan didikan yang disiplin. Harus kita contoh.
Ayesha Medina
No Peserta 618
SDN SEMOLOWARU 1/261
Maggot bsf si Hewan Ajaib Sahabat Lingkungan
Menarik,karena dapat terdidik sejak dini agar peduli terhadap kebersihan.
Nama: Mikhaela Adeva Abbialya
No.Peserta: 218
Sekolah: SDN.Kalisari 2/513 Surabaya.
Proyek LH: Budidaya tanaman asem jawa dan produk minuman kesehatan tradisional sinom.
Salam Bumi Pasti Lestari!
Salam Zero Waste!
rajin sekali ya!, yuk bersih bersih rumah supaya rumah tidak kotor!
🏫sekolah : SDN pakis v/372 surabaya
🎀nama : klarissa Asita Dewi
⌨️no peserta : 494
🌱nama proyek : sereh punya ku
keren, sudah peduli dengan lingkungan sejak dini
Nama: Keisya Azellia Putri
Sekolah: SMPN 38 Surabaya
Nomor Peserta: 1142
Judul Proyek: Budidaya Sambung Nyawa
Penjelasan: Proyek ini bertujuan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman obat sambung nyawa. Tanaman ini bermanfaat untuk kesehatan dan bisa menjadi alternatif pengobatan alami. Proyek ini juga mengajak masyarakat peduli lingkungan melalui edukasi, daur ulang, dan kegiatan berkebun bersama. Saat ini, penanaman sudah dimulai di rumah dan sekolah, serta dibagikan ke lingkungan sekitar. Target ke depan adalah memperluas penanaman dan melibatkan lebih banyak orang, terutama anak muda, sebagai agen perubahan hijau.
Nama Gede Kesawa Desvananda Sasmita
No Peserta 595
Judul Proyek Biobox Maggot Solusi Daur Upang Sampah organik rumah tangga menjadi Emas Hitam
Tradisi o-soji di sekolah Jepang benar-benar menginspirasi! Kegiatan sederhana seperti membersihkan kelas ternyata bisa menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan rasa hormat sejak dini. Kebiasaan ini bukan hanya menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga membentuk karakter anak agar peduli terhadap ruang publik dan menghargai kerja orang lain. Semangat gotong royong ala o-soji ini sangat relevan untuk diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia agar kebersihan menjadi bagian dari budaya, bukan sekadar kewajiban. 🌱👏
Setuju. Negara Jepang yg terkenal di dunia akan ketertiban sosialnya dalam hal ini salah satunya adalah mengenai kebersihan. Ada beberapa saudara saya yg tinggal di Jepang utk sekolah disana, ada pula yg usia dini di day care, mereka sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan, salah satunya dengan memilah sampah, menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehingga tidak ada sampah yg berserakan. Semoga masyarakat Indonesia juga sadar kan pentingnya selalu menjaga kebersihan lingkungan.
Nama : Fathan Alby A
Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Anti Nyamuk.
Halo sobat hijau 🌳
Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
Salam bumi, pasti lestari 🌱
Siswa belajar bahwa menjaga kebersihan adalah tugas bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan. Hal ini menumbuhkan rasa kepedulian dan tanggung jawab terhadap ruang tempat mereka belajar. Dan siswa tidak bergantung pada orang lain untuk menjaga kebersihan lingkungan mereka, sehingga melatih kemandirian sejak dini. Keren sekolah jepang 👍❤️
Akifa Maulidya – 698
SDN Tandes Kidul 1
Budidaya organik tanaman kale
pendidikan karakter sangat penting di tanamkan sejak dini. Dengan menanam pendidikan karakter sejak dini anak – anak akan lebih terbentuk karakter yang baik yang nantinya akan mendukung perkembangan sikap sifat di kemudian hari untuk menjadi pribadi yang berguna bagi dirinya dan sesama
“Belajar kebersihan setiap hari ternyata bisa membentuk kepribadian yang hebat! Semoga sekolah-sekolah kita juga bisa menerapkan hal baik ini 🙏✨ #Disiplin #KarakterBaik”
Nama:messa eko putri
Sekolah: SDN Airlangga 1/198 Surabaya
Proyek:Budidaya lidah buaya