Transformasi Energi Ramah Lingkungan Industri Tahu Tropodo

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyampaikan peringatan tegas kepada para pelaku industri tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Peringatan ini dikeluarkan menyusul praktik penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar dalam proses produksi tahu yang terbukti menimbulkan pencemaran lingkungan secara signifikan, baik terhadap udara, air, maupun tanah, serta membahayakan kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Desa Tropodo merupakan sentra produksi tahu yang telah beroperasi sejak 1940-an, dan saat ini menjadi lokasi bagi sekitar 44 unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang menjadi tumpuan ekonomi warga setempat.

Namun, mayoritas pelaku usaha masih menggunakan sampah plastik sebagai sumber energi karena dinilai lebih murah dan mudah didapat, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan kesehatan yang ditimbulkan.

Ini adalah masalah serius yang harus kita perhatikan bersama. Pencemaran ini tidak hanya mencemari lingkungan sekitar pabrik, tetapi menyebabkan pencemaran yang lebih luas sehingga kesehatan masyarakat bisa terganggu,” jelas Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Nixon Pakpahan.

Pembakaran plastik dalam suhu rendah dan tanpa sistem kontrol emisi memadai menghasilkan senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan, yang tergolong dalam kelompok Persistent Organic Pollutants (POPs). Senyawa ini bersifat sangat toksik, karsinogenik, dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan maupun lingkungan hidup dalam jangka panjang.

Berdasarkan kajian lingkungan yang dilakukan KLH/BPLH bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo, ditemukan bahwa udara ambien dalam radius 100 meter, 300 meter, dan 500 meter dari lokasi pembakaran menunjukkan kategori “TIDAK SEHAT” menurut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Emisi cerobong dari sejumlah lokasi mencatat kadar Total Partikulat, Karbon Monoksida (CO), dan Hidrogen Fluorida (HF) yang melampaui baku mutu, terutama di kawasan Dusun Areng-Areng. 

Sementara itu, pengujian terhadap air limbah menunjukkan kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) mencapai 1.300,5 ppm, Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 4.445 ppm, Total Suspended Solids (TSS) sebanyak 1.123,5 ppm, dan nilai pH yang rendah di kisaran 4–5, kondisi yang berpotensi mencemari aliran Sungai Afvoer Bader. 

Hasil uji sampel dalam air permukaan, ditemukan kandungan fecal coliform sebesar 3.500.000 dan total coliform 5.400.000, yang jauh melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Bahkan, sampel tanah di Dusun Klagen mencatat kandungan dioksin/furan hingga 4.030 pg/g. Zat berbahaya serupa juga ditemukan dalam telur ayam dan cacing tanah, menandakan telah terjadinya proses bioakumulasi.

Kami terus memantau kondisi pencemaran di pabrik tahu ini. Tim kami telah melakukan pengujian laboratorium dan hasilnya menunjukkan bahwa pencemaran udara dan air di wilayah ini sudah melewati batas aman. Kami juga akan menindak tegas para pemasok plastik yang terbukti memasok bahan bakar terlarang kepada para pelaku usaha,” ujar Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, Irjen. Pol. Rizal Irawan.

KLH/BPLH menegaskan komitmennya dalam menangani kerusakan lingkungan, baik terkait pencemaran air maupun udara, sebagaimana yang terjadi di sentra industri tahu Tropodo. KLH/BPLH mendukung penuh langkah-langkah penertiban dan pelarangan penggunaan plastik sebagai bahan bakar oleh pemerintah daerah.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, yang turut melakukan peninjauan langsung ke Tropodo, menyatakan sikap yang sejalan.  “Mulai hari ini, saya akan menindak tegas apabila ke depan masih ada pelanggaran terkait penggunaan bahan bakar plastik,” tegas Emil.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo telah menerbitkan dua kebijakan penting sebagai dasar hukum, yaitu Surat Edaran Bupati No.660/8238/438.5.11/2022 tentang larangan penggunaan sampah plastik, karet, dan bahan sejenis sebagai bahan bakar, serta Surat Edaran Sekretaris Daerah No.600.4/603/438.5.11/2025 tentang larangan penggunaan limbah B3 dalam proses pengolahan kedelai atau produksi tahu. 

Melalui kedua kebijakan tersebut, para pemilik industri tahu telah diberikan masa toleransi hingga 21 Mei 2025, dan para pelaku usaha telah menandatangani komitmen tertulis pada 14 Mei 2025, yang mencakup kesediaan untuk tidak lagi menggunakan bahan bakar yang dilarang, mengganti bahan bakar dengan alternatif ramah lingkungan seperti wood chips, RDF, atau biogas, menjaga mutu produk sambil melindungi lingkungan, serta kesiapan untuk diproses hukum apabila melanggar.

KLH/BPLH menekankan bahwa penyelesaian permasalahan ini memerlukan pendekatan kolaboratif lintas sektor. KLH/BPLH dan pemerintah daerah perlu memperkuat pengawasan terpadu yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Sidoarja, serta Satpol PP. 

Pemerintah juga akan memfasilitasi pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal atau terpadu bagi seluruh pelaku IKM tahu agar limbah cair tidak langsung mencemari lingkungan. Selain itu, diperlukan percepatan adopsi teknologi pembakaran bersih atau Best Available Technology (BAT) yang disesuaikan dengan kapasitas ekonomi pelaku IKM, serta pelibatan sektor swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung proses pemulihan tanah dan air yang telah terkontaminasi. 

Selain itu, edukasi yang berkelanjutan kepada pelaku usaha dan masyarakat sekitar mengenai dampak kesehatan dari paparan dioksin dan furan juga menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang.  Hal ini penting mengingat IKM juga harus membuktikan bahwa produk mereka memenuhi standar kesehatan serta juga tidak berdampak buruk bagi lingkungan.

Transformasi energi di sektor IKM bukan hanya merupakan isu teknis, melainkan bagian dari agenda nasional perlindungan lingkungan hidup dan keadilan sosial. KLH/BPLH berharap upaya yang sedang dilakukan di Tropodo dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mendorong industri rakyat yang bersih, aman, dan ramah lingkungan. (TunasHijauID)

12 thoughts on “Transformasi Energi Ramah Lingkungan Industri Tahu Tropodo

  • Juni 28, 2025 pada 07:00
    Permalink

    semoga tidak ada lagi penggunaan sampah plastik menjadi bahan bakar pembuatan makanan,

    Saya Ni Luh Gd Kt Keyva Richie Valerina Atmaja
    SMPN 6 Surabaya
    Judul proyek Budidaya Lemongrass
    No peserta 1392

    Balas
  • Juni 28, 2025 pada 07:04
    Permalink

    Dengan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar dapat mencemari lingkungan baik udara maupun air,

    nama Ni Luh Gede Reva Dealove Valentcia Atmaja
    sekolah SMPN 35 Surabaya
    nomor peserta 1130
    judul proyek Budidaya Rosela

    Balas
  • Juni 28, 2025 pada 11:16
    Permalink

    Sangat berbahaya apabila sampah plastik digunakan sebagai bahan bakar dalam proses produksi tahu. Hal ini dapat menyebabkan pencemaran udara serta membahayakan kesehatan masyarakat.

    Nama: Ni Putu Vedica Sridewi
    Sekolah: SMPN 47 Surabaya
    No peserta: 1290
    Proyek yang saya kembangkan berjudul “LURKANGPATU” atau Telur Cangkang Empat Tujuh. Dalam proyek ini, saya akan mengolah sampah cangkang telur menjadi pupuk bubuk sebagai sumber kalsium dan fosfor yang membantu pertumbuhan dan kesehatan tanaman karena cangkang telur mengandung kalsium karbonat (CaCO3) yang tinggi.

    Balas
  • Juni 29, 2025 pada 16:11
    Permalink

    Semakin hari dunia semakin gentar…
    Banyak masalah dan isu-isu lingkungan menjadi marak…
    Banyak masyarakat yang masih memandang menggunakan plastik lebih murah, ekonomis dan sehat…
    Padahal hal itu justru berbahaya bagi lingkungan…
    Saya menjadi sedih akan hal itu…
    Semoga kita sebagai generasi yang peduli lingkungan dapat berdampak baik bagi lingkungan…

    Balas
  • Juni 30, 2025 pada 13:13
    Permalink

    Jadi khawatir dan takut makan TAHU, mengapa ya para pengusaha itu hanya memikirkan praktis utk dirinya? ok lah…. dia untung, tapi dia sebenarnya kan juga kena dampak pencemaran. apalagi manusia lain juga kena… sehingga berlipat kerugiannya. sebenarnya itu untung atau rugi ya? tolong ya produsen tahu lebih bijak dan berpikir jangka panjang karena lingkungan ini adalah milik semua generasi.

    by Sanggrama Rasio Al Warisyi
    SDN Kaliasin 1 Surabaya
    Projevt Pengolahan Limbah Canglur untuk Menghijaukan Bumi dan Inovasi Bahan Pangan.

    Balas
  • Juni 30, 2025 pada 18:46
    Permalink

    Semoga para pelaku industri juga paham akan bahaya limbah bagi lingkungan tidak hanya memikirkan keuntungan semata

    Mayfrina Aisyahrani – 1076
    SMPN 3 SURABAYA
    PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK BERKELANJUTAN

    Balas
  • Juli 1, 2025 pada 05:20
    Permalink

    Sangat disayangkan jika para pengusaha hanya mementingkan keuntungan tanpa memikirkan dampak dari penggunaan bahan bakar sampah plastik dalam bisnis nya.
    Mudah mudahan setelah pengarahan dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dan bapak wakil Gubernur Emil Dardak , para pengusaha pabrik tahu bisa lebih peduli lagi dengan lingkungan.

    Nama : Leyna Mayyasha Qorri Ain
    Asal Sekolah : SDN Pacarkeling V Surabaya
    Nomer Peserta : 468
    Proyek : aloe sobat sehat, solusi hebat untuk keluarga sehat
    Melalui budi daya Aloe Vera, saya berharap setiap halaman rumah warga mempunyai 1 tanaman Aloe vera yang sangat banyak sekali manfaatnya.

    Balas
  • Juli 2, 2025 pada 11:45
    Permalink

    semoga setelah ini makin banyak transformasi energi ramah lingkungan , agar lingkungan tetap terjaga

    Gadis Ayuningtyas Putri Suwandik
    SMPN 46 Surabaya
    No.1262
    Proyek : Journey Of Banana Boost and Shield

    Balas
  • Juli 3, 2025 pada 15:24
    Permalink

    💔 Saat Udara Tak Lagi Ramah, dan Tahu Tak Lagi Sehat 💔

    Pabrik tahu di Tropodo, dulu dikenal sebagai tulang punggung ekonomi rakyat — kini, diam-diam menjadi sumber luka bagi bumi dan manusia. Bukan karena produknya salah. Tapi karena cara memproduksinya yang mengandalkan sampah plastik sebagai bahan bakar, mengubah udara jadi racun, tanah jadi toksik, dan air menjadi ancaman.

    Aku, Lintang Tabia Ramadhan — peserta Putri Lingkungan Hidup 2025, merasa terpanggil untuk bersuara.

    🌫️ Bayangkan, asap dari pembakaran plastik masuk ke paru-paru anak-anak. Tanah di sekitarnya menyimpan dioksin. Telur ayam lokal mengandung racun. Sungai tempat warga mencuci, bahkan bercocok tanam, mengalirkan zat berbahaya. Ini bukan sekadar polusi — ini bentuk kekerasan lingkungan yang pelan tapi mematikan.

    Semuanya bermula dari pilihan. Pilihan menggunakan yang murah dan instan, tanpa memikirkan masa depan.

    🔁 Tapi hari ini, kita bisa memilih berbeda. Kita bisa mengubah luka menjadi peluang.
    Sebagai generasi muda, kita tidak boleh diam. Kita bukan hanya pewaris bumi, tapi penjaganya.

    🌱 Aku percaya, perubahan bisa dimulai dari hal kecil:

    Edukasi warga tentang bahaya bakar plastik

    Dorong pabrik kecil pakai energi alternatif seperti biogas, woodchips, atau RDF

    Dukung regulasi daerah yang sudah dibuat tapi perlu diawasi bersama

    Kampanye produk tahu bersih, sehat, dan ramah lingkungan

    Gunakan ecoenzym untuk memulihkan tanah dan air yang terpapar

    💚 Ecoenzym bukan sekadar cairan pembersih alami. Bagiku, ini lambang perlawanan terhadap pencemaran. Dari limbah dapur, kita ciptakan solusi. Dari rumah kecil, kita bisa menjangkau bumi yang lebih luas.♻️

    🌍 Lingkungan adalah hak setiap makhluk hidup, bukan korban dari keserakahan segelintir orang.💭

    🕊️ Aku ingin suatu hari nanti, anak-anak di Tropodo bisa menghirup udara tanpa takut. Menyentuh tanah tanpa khawatir racun. Minum air tanpa waswas. Dan makan tahu dengan rasa aman, bukan kecemasan.❗❗❗❓❓❓🆘

    💬 Kalau tahu bisa putih dan bersih, mengapa prosesnya harus hitam dan kelam?

    🌸 Mari kita buktikan, bahwa industri rakyat bisa bersih. Bahwa teknologi bisa berpihak pada kehidupan, bukan kematian. Bahwa ekonomi tidak harus dibayar dengan nyawa.

    🌟 Dan bahwa suara anak muda, seperti aku dan kamu, bisa mengguncang tembok ketidakpedulian.

    “Bumi tidak butuh penyelamat yang sempurna. Ia hanya butuh manusia yang peduli dan mau bertindak — walau dari tempat sekecil Tropodo, walau dari hati sebesar tekad seorang anak.”

    #BersihkanTropodo
    #EcoenzymUntukBumi
    #PutriLingkunganHidup2025
    #TahuTanpaPlastik
    #SuaraGenerasiHijau

    Perkenalkan saya adalah peserta Putri lingkungan hidup tahun 2025. Dengan :
    Proyek : Inovasi ekoenzim
    Nama : lintang Tabia Ramadhan
    Sekolah : SMPN 11 Surabaya
    No.peserta : 800

    Balas
  • Juli 6, 2025 pada 21:35
    Permalink

    Wahh ada yang bahaya nih tapi semoga tidak semua industri tahu begitu ya ,
    Harusnya pelaku industri itu tahu dampak dari yang mereka lakukan semoga setelah ini tidak ada kasus seperti ini lagi😞😞.
    Nama: Adinda Quenza Ramadhani
    Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
    No peserta: 224
    Proyek: Budidaya tanaman terong 🍆

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 19:58
    Permalink

    Sangatlah berbahaya jika sampah plastik digunakan untuk bahan bakar untuk memproduksi tahu ha dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi poduksi tahu dan lingkungan sekitar.
    Nama : Muhammad Sendy Isnanda
    Sekolah : MTS NEGERI 2 SIDOARJO
    No peserta : 709
    Judul proyek : PENGELOLAAN SAMPAH SEBAGAIMANA MESTINYA

    Balas
  • Oktober 14, 2025 pada 09:43
    Permalink

    Semoga dengan ditindak tegas dan diberi sanksi tidak ada lagi yang menggunakan plastik sebagai bahan bakar dalam memasak atau memproduksi makanan. Makanan yang seharusnya memilki gizi baik menjadi tercemar dengan bahan kimia atau mikroplastik yang ada pada plastik.
    Salam, Najwa Putri Tabita (534)
    SDN Ploso 3 Surabaya
    Project : Maklor (manfaat kelor)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *