Tren Kebencanaan 2010-2025
Suara sirene peringatan sering kali datang terlambat. Bukan karena alatnya rusak, tetapi karena kesadaran kita belum sepenuhnya terbangun. Di negeri yang berdiri di atas pertemuan lempeng aktif dan diguyur iklim tropis ekstrem ini, bencana seolah menjadi tamu rutin yang selalu diterima dengan kepanikan, bukan dengan kesiapsiagaan.
Padahal, menurut Dr. Ir. Amien Widodo, MSi, Peneliti Senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS sekaligus dosen Teknik Geofisika ITS, persoalan utama penanggulangan bencana di Indonesia bukan terletak pada kurangnya regulasi, tetapi pada lemahnya implementasi mitigasi di lapangan.
Walau Indonesia telah memiliki UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana—yang memberi mandat kuat kepada pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan pengurangan risiko sebelum, saat, dan sesudah bencana—fakta di lapangan justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya.
“Sejak tahun 2010 sampai 2025, tren kejadian bencana geologi dan hidrometeorologi sangat memprihatinkan. Kita masih didominasi pola berpikir responsif: sibuk saat bencana terjadi, tetapi abai sebelum bencana datang,” ujar Dr. Amien. Padahal, inti dari penanggulangan bencana modern justru terletak pada upaya mitigatif yang sistematis dan berkelanjutan.
Masalah ini diperparah oleh paradigma masyarakat yang masih fatalistik terhadap bencana. Survei Litbang Kompas pada 2011–2012 di delapan kota rawan bencana menunjukkan bahwa 48,7% masyarakat menganggap bencana sebagai kehendak Tuhan yang tidak bisa dihindari, 42,9% melihatnya sebagai mekanisme alam tetapi tetap sebagai “takdir”, dan hanya 8,4% yang meyakini bahwa bencana adalah fenomena alam yang bisa dimitigasi.
Cara pandang ini, menurut Dr. Amien, memperlemah pendekatan berbasis sains dan teknologi, sekaligus menghambat perkembangan kesiapsiagaan sosial. Tak heran bila Indonesia kerap disebut sebagai “laboratorium bencana” bagi negara lain.
Secara geologis dan klimatologis, risiko bencana di Indonesia adalah keniscayaan. Letaknya di jalur Cincin Api Pasifik menjadikannya rentan terhadap gempa bumi, tsunami, likuifaksi, dan letusan gunung api. Di sisi lain, posisinya di wilayah khatulistiwa dengan iklim tropis memperbesar ancaman bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, kekeringan, dan siklon tropis.
Belum lagi pengaruh fenomena global seperti El Niño, La Niña, Madden-Julian Oscillation (MJO), hingga siklon. “Inilah realitas kita. Karena itu, bangsa ini tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus beradaptasi dan aktif melakukan mitigasi, baik struktural maupun non-struktural,” tegas Dr. Amien.
Dari sisi ekonomi, bencana juga memberikan dampak yang sangat serius. Mengacu pada pernyataan Menteri Keuangan saat gempa Palu 2018, potensi kerugian akibat gempa bumi di Indonesia bisa mencapai 30 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp 405 triliun, setara dengan 3% Produk Domestik Bruto.
Angka ini belum termasuk dampak lanjutan berupa rusaknya infrastruktur, terganggunya layanan publik, dan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Dr. Amien menekankan pentingnya setiap pemangku kepentingan memasukkan analisis risiko bencana dalam perencanaan dan desain infrastruktur sejak awal.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa secara ekonomi, biaya mitigasi jauh lebih murah dibandingkan biaya rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. Apalagi jika ditambahkan nilai kerugian sosial dan ekonomi jangka panjang, maka investasi mitigasi menjadi pilihan yang jauh lebih rasional.
Sesuai UU No. 24 Tahun 2007, mitigasi mencakup serangkaian upaya pengurangan risiko bencana melalui pembangunan fisik, penyusunan peta rawan bencana, pemetaan risiko, serta peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat. “Mengubah bencana dari ‘takdir yang ditakuti’ menjadi ‘risiko yang dikelola’ itulah kunci masa depan Indonesia yang lebih tangguh,” pungkasnya. (*/Mochamad Zamroni)


Terima kasih ilmunya…
Memang betul, mitigasi bencana sebaiknya lebih didahulukan darpada rehabilitasi ataupun rekronsruksi
Bencana hidrometeorologi merupakan jenis bencana yang dipicu oleh dinamika cuaca dan iklim, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, hingga gelombang panas dan badai. Di Indonesia, intensitas dan frekuensinya cenderung meningkat seiring perubahan iklim global, degradasi lingkungan, serta perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali. Curah hujan ekstrem yang tidak diimbangi dengan kapasitas resapan air, alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun, dan kerusakan daerah aliran sungai memperparah risiko yang semestinya bisa diminimalkan. Akibatnya, bencana hidrometeorologi bukan hanya persoalan alam semata, melainkan cerminan relasi yang rapuh antara manusia dan lingkungannya.
Penanggulangan bencana hidrometeorologi membutuhkan pendekatan terpadu yang menggabungkan aspek mitigasi struktural dan non-struktural. Pembangunan infrastruktur resapan air, penguatan tebing sungai, restorasi hutan dan mangrove, hingga penerapan sistem peringatan dini harus berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat, tata ruang berbasis risiko, dan kebijakan pembangunan berkelanjutan. Tanpa perubahan pola pikir dan tindakan kolektif, potensi kerugian sosial, ekonomi, dan ekologis akibat bencana ini akan terus membesar. Oleh karena itu, investasi terbesar bukan hanya pada beton dan teknologi, melainkan pada kesadaran, pengetahuan, dan kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi risiko sejak dini.
Naziya Putri Syafira
SDN Sawunggaling 1/382
Nobita
Informasi yang bermanfaat terimakasih kak…
Disaat alam tidak baik..baik saja disini kita benar..benar waspada…
Semoga kita selalu diparingi sehat dan keselamatan..amin
Reynando Yudhistira putra
SDN Wiyung 1 Surabaya
No peserta 409
Pengolahan sampah palstik
Informasi ini penting untuk di simak. Semoga semua siaga bencana dan semoga seluruh jajaran tanggap bencana. Mitigasi sangat penting agar tidak terjadi bencana baru penanganan. Seharusnya pencegahan di optimalkan agar tidak terjadi bencana. Namun bencana kadang tidak bisa di prediksi sehingga warga harus selalu waspada… Bismillah semoga tidak terjadi apa2 utk negara kita
Falisha misha alkhansa
SDN Rangkah VI Surabaya
No peserta 555
Tren kebencanaan 2010–2025 menunjukkan satu hal penting: Indonesia belum benar-benar belajar dari bencana yang terus berulang. Padahal peringatan dari para ahli seperti Dr. Amien Widodo sudah sangat jelas — masalah terbesar kita bukan kurangnya aturan, tetapi lemahnya penerapan mitigasi di lapangan.
Selama 15 tahun terakhir, pola kita masih sama: sibuk saat bencana datang, lalu kembali lengah ketika keadaan membaik. Cara pandang fatalistik masyarakat bahwa bencana adalah “takdir” memperparah keadaan, membuat ilmu pengetahuan dan teknologi mitigasi kurang dihargai. Padahal Indonesia berada di wilayah dengan risiko geologi dan iklim yang tinggi, sehingga bencana bukan kejutan, melainkan keniscayaan.
Data ekonomi pun mengingatkan kita bahwa kerugian akibat bencana bisa mencapai ratusan triliun setiap tahun. Artinya, kesiapsiagaan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak. Biaya mitigasi jauh lebih murah daripada biaya pemulihan.
Karena itu, perubahan cara pikir sangat dibutuhkan: dari pasif menjadi proaktif, dari panik menjadi siap, dari menganggap bencana sebagai takdir menjadi mengelolanya sebagai risiko. Hanya dengan itu Indonesia bisa menjadi bangsa yang tangguh menghadapi bencana.
Pentingnya edukasi terhadap mitigasi bencana sangatlah diperlukan. Terima kasih Tunas Hijau atas ilmunya yang selalu bermanfaat dan menambah wawasan.
Nama : Fathan Alby Andhitama
No : 0037
Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun
Halo sobat hijau 🌳
Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
Salam bumi, pasti lestari 🌱
Mitigasi bencana haris sering di sosialisasi kan pada semua elemen masyarakat
Agar ketika bencana terdeteksi terjadi semua warga bisa segera melakukan tindakan pencegahan mandiri.
Pastinya ini lbh baik daripada rehabilitasi juga sangat memudahkan.
Terimakasih ilmunya kak
Marshall Dastan PR
Sdn. Ketabang 1 / 288
No urut : 207
Project : KOMANDAN ( Koleksi Tanaman Pandan)
Ilmu yg sangat bermanfaat, mitigasi bencana memang harus dipahami dan dimengerti oleh semua masyarakat agar ketika bencana terjadi kita bisa mengatasinya.
Akifa Maulidya (698)
SDN Tandes Kidul 1
Budidaya organik tanaman kale
saya frisdya lanikmaruf isfani dari SMPN 57 Surabaya dengan nomer urut 1382 proyek saya yaitu pengolahan sampah GALBOT (Galon dan botol) sebagai kreasi furnitur dan fashion aksesoris
nah jadi kita perlu menjaga alam untuk mengurangi upaya terjadinya bencana
Secara keseluruhan, tanggapan terhadap tren kebencanaan dari tahun 2010 hingga 2025 menunjukkan peningkatan dalam peringatan dini, pembiayaan risiko, kerangka hukum, kesetaraan gender, dan integrasi konflik dalam pemikiran risiko bencana. Inovasi seperti PFB di Indonesia dan fokus pada tata ruang berbasis ketahanan bencana juga menjadi bagian penting dari upaya mitigasi.
Nama: Eno wahyu Kamading
Sekolah: SDN Pacarkeling 1/182 surabaya
Proyek: Eco enzym
No. Peserta: 452
Tren kebencanaan 2010-2025 ini menjadi kesiapan kita semua untuk bahaya bencana karena masih banyak yang belum sadar akan adanya bencana, kurangnya kesiap siagaan maka dari itu pentingnya adanya edukasi terhadap mitigasi bencana untuk antisipasi.
Terima kasih Tunas Hijau atas ilmu yang diberikan sangat bermanfaat bagi kita semua untuk bisa waspada dan kesiap siagaan terhadap bencana. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT amin ya robbal alamin.
Jangan Lupa Intip Proyek saya ya teman-teman.
Saya Muhammad Khabibi Nur Rokhman
Saya adalah Finalis pangeran dan putri lingkungan hidup tahun 2025
No.Peserta 31
Saya dari SDN BANJARSUGIHAN V/617 SURABAYA
Proyek Lingkungan Hidup Saya adalah PESAN OJEC APIK(Pemanfaatan Sampah Non Organik Jadi Ecobrick dan Anyaman Plastik)
Disini saya mengajak semua untuk peduli lingkungan dengan mengurangi sampah plastik karena jumlah sampah plastik semakin banyak salah satunya kemasan sachet yang tidak didaur ulang maka saya memanfaatkannya menjadi barang yang bermanfaat yaitu ecobrick dan anyaman plastik daripada sampah plastik tersebut terbuang begitu saja.
Salam Bumi Pasti Lestari
Salam Sadar Iklim
Salam Zerowaste
Salam Basuma Jaya Jaya Jaya
Pokoe ngeten pun
Selalu waspada dan segera bergerak bila tanda-tanda awal bencana sudah terlihat. Ayo tingkatkan kesadaran bahwa kita hidup di negeri yg potensi terjadinya berbagai macam jenis bencana sangat tinggi.
Nama : Fatimah Nawal Rahman
Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
No. Peserta : 026
Pencapaian : 1.793,75 kg
Daur ulang sampah An Organik menjadi produk kerajinan
Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan
Nayla Thalita Azzahra
No Peserta : 524
SDN Petemon IX
judul Proyek : Lets Go to Bali Badung ( Ayo Budidaya Lidah Buaya dengan Produk Unggulan )
Tren kebencanaan di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, cuaca ekstrem) yang meningkat akibat perubahan iklim, sementara bencana geologi (gempa bumi, gunung berapi) tetap menjadi ancaman konstan, meskipun ada penurunan angka korban jiwa dan kerugian material secara keseluruhan dalam periode 2021-2025, namun kewaspadaan tinggi tetap dibutuhkan karena cuaca ekstrem diprediksi berlanjut hingga 2026.
Stay Save semuanya
Salam Bumi Pasti Lestari
rtikel Tren Kebencanaan 2010–2025 ini benar-benar membuka mata bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya bersikap reaktif terhadap bencana. Penjelasan Dr. Amien Widodo tentang lemahnya implementasi mitigasi sangat tepat—peraturan sudah ada, tetapi kesadaran dan tindakan lapangannya masih tertinggal. Data tentang persepsi masyarakat juga menunjukkan bahwa edukasi kebencanaan harus diperkuat sejak dini. Indonesia memang berada di wilayah rawan, namun risiko besar ini bisa dikelola jika mitigasi berbasis sains, teknologi, dan partisipasi masyarakat dilakukan secara konsisten. Terima kasih Tunas Hijau yang terus menghadirkan literasi kebencanaan yang penting bagi generasi muda
Tren kebencanaan 2010–2025 menunjukkan bahwa masalah utama Indonesia bukan pada kurangnya aturan, melainkan lemahnya penerapan mitigasi.
Padahal, dengan risiko geologi dan iklim yang tinggi, mitigasi berbasis sains, perencanaan, dan kesadaran masyarakat jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan penanganan.
Nama: Mikhaela Adeva Abbialya
No.Peserta: 218
Sekolah: SDN.Kalisari 2/513 Surabaya.
Proyek LH: Budidaya tanaman asem jawa dan produk minuman kesehatan tradisional sinom.
Ilmu yang sangat bermanfaat.. Mitigation bencana.. Agar kita slalu waspada
Nama : Naysia Aqila Andriani
Sekolah : SDN Ngagelrejo3
No peserta: 428
Proyek budi daya sereh
proyek tanaman sereh dengan berbagai manfaat dalam berbagai bidang dapat digunakan untuk obat-obat an, bumbu dapur hingga pengusir nyamuk
🌱Naysia Aqila Andriani_SDN Ngagelrejo3_428_
Terimakasih atas informasinya nya, kepada tunashijau, semoga bermanfaat dan memberikan ilmu baru
KANAYA DIVANESA AWANDA
SMPN 58 SURABAYA
NO URUT: 1388
JUDUL PROYEK: BARASIMAN (BUDIDAYA ALOEVERA PENGUSIR KUMAN)
Artikel ini sangat tajam dan mencerahkan, berhasil membuka kesadaran tentang pentingnya mitigasi bencana di Indonesia. Penyajiannya kuat, berbasis data, dan mempertegas perlunya perubahan pola pikir menuju kesiapsiagaan. Tulisan ini layak diapresiasi sebagai pengingat penting bagi semua pihak.
Saya Hafsa Faizal Tamir Raffa, sering dipanggil Hafsa, saya bersekolah di SMPN 38 Surabaya. Dengan nomor peserta 603.
Judul proyek saya adalah KERTANI (Kertas Tanam Inovatif).
Tujuan proyek saya adalah untuk mendaur ulang kertas atau buku bekas menjadi kertas baru, lalu kertas baru itu dijadikan kertas tanam. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah kertas yang menumpuk dirumah kita ataupun rumah tetangga.