Belajar dari Tiongkok : Diversifikasi Karbohidrat untuk Lawan Ketergantungan Beras

Penulis: Jagaddhito Probokusumo
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah
– Fellowship training interventional cardiology di Rizhao International Heart Hospital, Shandong, Tiongkok

Paguyuban Pangeran & Putri Lingkungan Hidup 2005

Berita mengenai maraknya kasus beras “oplosan” yang ada di Indonesia belakangan ini membuat hati banyak masyarakat gusar. Bagaimana tidak? Beras merupakan makanan pokok di Indonesia dan dikonsumsi mulai dari anak-anak hingga orangtua.

Semua pekerja di Indonesia banting tulang demi mendapatkan sesuap nasi. Mereka ingin memberikan beras terbaik untuk keluarganya. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Hasil investigasi Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan menemukan maraknya beras oplosan ini di pasaran.

Beras oplosan ini tidak beredar di tempat tertentu tetapi beredar di sekitar kita, mulai dari toko kelontong, supermarket hingga minimarket. Meskipun beras oplosan ini bukan beras palsu tetapi tetap saja tidak memenuhi standar mutu. Mulai dari berat kemasannya, komposisi hingga label mutu.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat konsumsi beras tertinggi di dunia, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Data dari USDA (Departemen Pertanian Amerika) menunjukkan bahwa konsumsi beras nasional pada tahun 2024 mencapai 36.6 juta ton.

Jika kita bandingkan dengan China yang menempati posisi pertama, mereka mengkonsumsi 145,5 juta ton beras setiap tahunnya. Jumlah penduduk Indonesia saat ini berjumlah 284 juta penduduk sedangkan China 1.4 milyar penduduk (hampir 5 x lipatnya).

Kemudian jika kita lihat lebih rinci lagi, data konsumsi beras per individu per tahun menurut Badan Pangan Dunia (FAO, 2022) menunjukkan bahwa konsumsi beras Indonesia adalah 185 kg/kapita/tahun. Jauh lebih tinggi daripada Tiongkok 134 kg/kapita/tahun. Hal ini menunjukkan ketergantungan kita pada nasi putih yang berindeks glikemik tinggi sangat besar.

Ada 3 kebiasaaan makan masyarakat Tiongkok yang saya amati dan saya alami selama berada di Tiongkok. Kebiasaan ini dilakukan di rumah, tempat kerja dan rumah makan.

Pertama adalah urutan filosofi makan di Tiongkok. Orang Tiongkok memiliki filofosi “lauk dulu, nasi belakangan”. Mereka menempatkan nasi/roti (karbohidrat) disantap paling belakang. Mereka selalu memulai dengan sayur dan protein di awal sampai habis baru kemudian mereka mengkonsumsi nasi/roti dalam jumlah yang tidak banyak.

Jadi jangan kaget ketika makan di restoran di Tiongkok, meskipun semua sayur dan lauk dikeluarkan di awal, tetap tidak ada nasi yang keluar di awal. Ketika saya tanya ke mereka, mengapa mereka memakan lauk dulu baru nasi? Mereka menjawab itu sudah diajarkan oleh orangtua mereka sejak kecil.

Jadi ini semacam tradisi bagi warga Tiongkok. Berbeda dengan di Indonesia, kita memiliki filosofi yaitu “Belum makan kalau belum kena nasi”. Kalimat ini begitu menggambarkan eratnya hubungan Indonesia dengan beras.

Jika kita bicara secara medis, kearifan Tiongkok yang memprioritaskan lauk dulu baru nasi adalah cara cerdas dalam memenuhi kebutuhan nutrisi. Protein dan serat (lauk dan sayur) mampu memperlambat konversi karbohidrat menjadi gula darah.

Anda sudah tahu jenis karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti putih dan gula mudah diserap oleh tubuh dan menyebabkan lonjakan gula darah sehingga rasa kenyang cenderung singkat dan kita cepat merasa lapar lagi setelah makan nasi.

Berbeda dengan protein, protein adalah jenis makronutrien yang paling mengenyangkan. Protein meningkatkan hormon “kenyang” seperti Peptide YY dan Glucagon Like Peptide serta tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna, sehingga memberi rasa kenyang lebih lama.

Di samping itu, fokus pada protein dan sayur menjamin kecukupan gizi makro dan mikro bagi tubuh. Konsumsi terlalu banyak nasi putih meningkatkan risiko diabetes. Data riskesdas 2023 menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia adalah 11.7% (sekitar 19, 5 juta penderita).

Diabetes memiliki julukan mother of all diseases (Ibu dari segala penyakit) karena sumber utama dari berbagai macam penyakit mematikan seperti serangan jantung, stroke , dan gagal ginjal.

Kedua adalah diversifikasi karbohidrat. Penduduk Tiongkok terbagi menjadi beberapa wilayah. Masing-masing wilayah memiliki ciri khas makanan pokoknya. Sebagai contoh masyarakat Tiongkok bagian Utara (Beijing, Tianjin, Hebei, Shanxi) menjadikan gandum sebagai makanan pokok utama.

Mereka mengkonsumsi roti yang namanya 馒头 Mantou (roti kukus) lebih banyak dibandingkan nasi putih. Masyarakat Tiongkok bagian barat (Xinjian, Tibet, Gansu, Yunnam Barat, Sichuan Barat) lebih banyak mengkonsumsi umbi-umbian (kentang dan ubi jalar) sedangkan masyarakat Tiongkok bagian selatan seperti Guangdong, Fujian, Yunnan, Hainan, Jiangxi) lebih gemar mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat.

Kondisi ini terjadi karena perbedaan kondisi geografis dan iklim dari berbagai wilayah di China. Namun hal ini menjadikan masyarakat China memiliki lebih banyak pilihan diversifikasi karbohidrat. Indonesia dengan 77 jenis sumber karbohidrat lokal non beras dari sagu Papua hingga sorgum di NTT, seharusnya bisa lebih unggul daripada Tiongkok.

Ketiga adalah waktu makan. Orang Tiongkok memiliki kebiasaan makan tepat waktu. Mereka memiliki keyakinan bahwa tubuh memiliki ritme organ alami dan waktu makan yang tepat mendukung kerja tersebut. Begitu waktu menunjukkan pukul 11.30 semua kegiatan dihentikan untuk bersama-sama makan dan kegiatan dilanjutkan kembali setelah selesai makan siang.

Banyak orang bekerja keras, sehingga waktu makan adalah waktu yang terstruktur dengan baik dan dijaga ketepatannya. Di banyak tempat di Tiongkok, restoran buka hanya di jam makan, bukan sepanjang hari seperti di Indonesia.

Budaya makan Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal. Diversifikasi bukan berarti penghapusan nasi, tetapi perluasan pilihan untuk ketahanan gizi bangsa.

Mungkin sudah saatnya kita merubah komposisi program “Isi Piringku” pemerintah dari
nasi 70% dan lauk 30% menjadi 30% karbohidrat kompleks, 30% protein, 25% sayur dan 15% buah. (*)

54 thoughts on “Belajar dari Tiongkok : Diversifikasi Karbohidrat untuk Lawan Ketergantungan Beras

  • Juli 18, 2025 pada 07:16
    Permalink

    Budaya tiongkok ini memang bagus sekali.
    Mengingat indonesia juga memiliki macam² sumber karbohidrat, maka bisa mulai mencontoh sistem di tiongkok.
    Selain diversifikasi karbohidrat, juga dapat bertujuan untuk kesehatan kita semua.

    Ini bisa jadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis beras di Indonesua.

    Nama : Naziya Putri Syafira Ariwibowo
    Nomor peserta : 612
    Asal sekolah : SDN Sawunggaling 1 Surabaya
    Judul proyek : NO BI T A (Inovasi Bidara Tumbuh Alami).

    Terima kasih
    Salqm 🌎 Pasti Lestati 🌳

    Balas
    • Juli 18, 2025 pada 15:43
      Permalink

      saya frisdya lanikmaruf isfani dari smpn 57 surabaya dengan no peserta: 1382, dengan proyek pengolahan samaph GALBOT (Galon dan Botol) sebagai kreasi furniture dan fashion aksesoris

      berkomentar bahwa hal budaya ini benar benar bermanfaat❤❤

      Balas
    • Juli 22, 2025 pada 16:54
      Permalink

      saya sangat setuju dengan budaya tiongkok kalau bisa mari kita mencontoh budaya tiongkok ini sangat bermanfaat bagi kesehatan kita

      Nama : Ayla Azuhro
      No.Peserta : 38
      Sekolah : Sdn.Banjar Sugihan V / 617 Surabaya
      Proyek : Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Komposter

      Balas
    • Juli 23, 2025 pada 06:14
      Permalink

      Nama : Abid Maher Ar Rayyan
      Sekolah : SDN KETABANG 1/288 Surabaya
      Proyek : Butong (Budidaya Tanaman Binahong)
      Artikel yg sangat keren dan menginspirasi.

      Balas
    • Juli 23, 2025 pada 21:33
      Permalink

      Carissa Putri Fatihasari
      SDN Sidotopo wetan V
      No.peserta : 674
      Proyek : Sanca (Sampah Anorganik Carissa)
      Bagus sekali budaya Tiongkok tidak asal makan dan terpenuhi ada beras,tapi dari segi kesehatan luar biasa di perhatikan.patut untuk kita contoh.

      Balas
  • Juli 18, 2025 pada 07:21
    Permalink

    Artikel yang sangat bagus.Ketahanan pangan Indonesia bergantung pada diversifikasi karbohidrat,sedang Tiongkok lebih memprioritaskan Protein dan serat (lauk dan sayur) yang mampu memperlambat konversi karbohidrat menjadi gula darah.Budaya makan Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal.

    Nama: Naura Adelia Shafiqa Ghozali
    Sekolah: Sdn Tandes Kidul 1 Surabaya
    No.peserta : 704
    Proyek saya: Pengolahan limbah cangkang telur

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 07:26
    Permalink

    Dan makan nasi hangat/panas memang nikmat..namun jika makan nasi dingin dapat membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes..
    Nasi yang didinginkan setelah dimasak (misalnya, didinginkan di kulkas) dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah..proses pendinginan dapat meningkatkan pembentukan pati resisten, yang sulit dicerna oleh tubuh..
    Semoga kita semua diberikan kesehatan ..amin
    Reynando Yudhistira putra
    SDN Wiyung 1 Surabaya
    No peserta 409
    Pengolahan sampah plastik

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 07:58
    Permalink

    Artikel yg sangat membuka wawasan bahwa kenyang tidak harus dengan mengkonsumsi karbohidrat dlm jumlah besar. Dengan cara meniru kebiasaan tersebut tetap bisa kenyang tp juga sehat. Ayo isi piring mu dengan makanan sehat dan bernutrisi.

    Raihan Jouzu Syamsudin
    Pangput LH 2024

    Balas
    • Juli 18, 2025 pada 08:20
      Permalink

      Artikelnya sangat menari dan bikin kita tambah wawasan mengenai keseimbangan dalam mengkonsumsi karbohidrat, dimana orang indonesia kalau belum makan nasi belum dianggap makan, dengan artikel ini kita bisa nambah wawasan bahwa kebutuhan karbohidrat tidak selalu dari nasi

      Sultan Dipasha Alireza
      SDN Margorejo 3 Surabaya
      No peserta 255
      Pangput 2025

      Balas
      • Juli 18, 2025 pada 13:19
        Permalink

        Hexa afzal hermawan
        Sdn wonokusumo 6/45
        Peserta pangeran lingkungan hidup thn 2025 dengan no peserta 421
        Proyek saya adalah budita cabai,budidaya tanaman cabai
        Tujuan proyek saya adalah mengolah tanaman cabai menjadi balsam.
        Budaya makan Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal. Diversifikasi bukan berarti penghapusan nasi, tetapi perluasan pilihan untuk ketahanan gizi bangsa.

        Balas
      • Juli 23, 2025 pada 22:36
        Permalink

        artikel yang sangat bagus sekali. memperbaiki konsumsi makanan akan menjadi tugas kita semua.
        Nama : ratu shakila azalea qaireen
        Sekolah : sdn dukuh menanggal 1
        No Peserta : 080
        Proyek : budidaya tanaman kelor

        Balas
    • Juli 18, 2025 pada 08:21
      Permalink

      Artikelnya sangat menari dan bikin kita tambah wawasan mengenai keseimbangan dalam mengkonsumsi karbohidrat, dimana orang indonesia kalau belum makan nasi belum dianggap makan, dengan artikel ini kita bisa nambah wawasan bahwa kebutuhan karbohidrat tidak selalu dari nasi

      Sultan Dipasha Alireza
      SDN Margorejo 3 Surabaya
      No peserta 255
      Pangput 2025ñ

      Balas
  • Juli 18, 2025 pada 08:20
    Permalink

    Semoga pihak terkait bisa memberikan edukasi kepada masyarakat perihal beras analog yang bahannya berasal dari umbi-umbian yang kaya akan serat serta dapat mengurangi glukosa,, serta pemerintah bisa mengedukasi masyarakat “one day no rice” yang bisa digantikan dengan olahan umbi-umbian serta sayuran yang kaya akan serat dan vitamin,,,
    Nama: Zafran Nauval Aqil Pandu Herningsih
    Nomer Peserta:417
    Judul Proyek: pembuatan pupuk kompos organik dari sampah dapur organik

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 08:41
    Permalink

    Artikel yang sangat bagus.Ketahanan pangan Indonesia bergantung pada diversifikasi karbohidrat sedang Tiongkok lebih memprioritaskan protein dan serat (lauk dan sayur) yang mampu memperlambat konversi karbohidrat menjadi gula darah.Budaya Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal.
    Nama: Muhammad Hidayahtullah
    Sekolah: SDN Kapasari 1/292 Surabaya
    No Peserta: 145
    Proyek: Budidaya Daun Pandan

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 09:26
    Permalink

    Mengubah kebiasaan bukan hal yang mudah. Tradisi dan cara makan di tiongkok bisa diadaptasi lewat diri sendiri dan keluarga inti.
    Menanamkan kesadaran komposisi asupan makanan yang tepat menjadi pr bagi keluarga muda.
    Kecenderungan mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat terutama nasi dan lebih abai pada konsumsi sayur dan buah, serta tidak diimbangi dengan gerak tubuh atau olahraga, menjadikan banyak generasi muda yang rentan terhadap diabetes.

    Salam Sehat dari,
    Medina Dyah Kurniasari
    SDN Simolawang KIP 156 Surabaya
    No urut : 686
    Proyek : Budidaya Bunga Telang
    Ayo, jadi generasi muda yang lebih sehat untuk Indonesia lebih kuat.

    Salam

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 09:36
    Permalink

    Pemenuhan karbohidrat memang sangat dibutuhkan oleh tubuh . Alangkah baiknya kita menyeimbangkan pola makan dengan gizi yang seimbang dan selaras antara protein , serat dan karbohidrat. Untuk menuju kesehatan tubuh kita.
    Dengan artikel ini kita bisa mengambil sisi positif bahwa kenyang dengan nasi yang berkarbohidrat tinggi bisa kita seimbangkan dengan kenyang protein dan serat kemudian selebihnya baru nasi
    Terimakasih Tunas Hijau memberikan artikel yang sangat bermanfaat dan mengedukasi

    FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
    SDN Margorejo 1/403 Surabaya
    No Peserta: 253
    Proyek: Pengolahan Sampah Organik Dapat Memberikan Nutrisi Pada Tanaman

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 11:34
    Permalink

    Terima kasih paparannya, sangat bermanfaat

    Habel Marcelo Eryawan
    237,
    SDN Manukan Wetan IV 616
    Proyek Melestarikan Tanaman Daun Afrika untuk Bumi yang Lebih Sehat

    Balas
    • Juli 23, 2025 pada 13:24
      Permalink

      Wow, menarik sekali menyimak bagaimana Tiongkok mencoba mengurangi ketergantungan terhadap beras dengan memperluas konsumsi serealia lain seperti jagung dan kentang. Cocok juga nih untuk kita di Indonesia mencoba alternatif lokal. Artikel ini benar-benar membuka wawasan!

      Nama: Keisya Azellia Putri
      Sekolah: SMPN 38 Surabaya
      Nomor Peserta: 1142
      Judul Proyek: Budidaya Sambung Nyawa
      Penjelasan: Proyek ini bertujuan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekitar untuk menanam tanaman obat sambung nyawa. Tanaman ini bermanfaat untuk kesehatan dan bisa menjadi alternatif pengobatan alami. Proyek ini juga mengajak masyarakat peduli lingkungan melalui edukasi, daur ulang, dan kegiatan berkebun bersama. Saat ini, penanaman sudah dimulai di rumah dan sekolah, serta dibagikan ke lingkungan sekitar. Target ke depan adalah memperluas penanaman dan melibatkan lebih banyak orang, terutama anak muda, sebagai agen perubahan hijau.

      Balas
  • Juli 18, 2025 pada 11:58
    Permalink

    Artikel nya memberikan informasi penting sekaliii. Kita juga harus berhati-hati karena banyak sekali beras oplosan di Indonesia.
    Nama: Adinda Quenza Ramadhani
    Sekolah: SDN KANDANGAN 1 Surabaya
    No peserta: 224
    Judul proyek: Terong 🍆 dilahan sempit solusi hijau 💚 untuk sekolah mandiri pangan 🏫

    Balas
    • Juli 20, 2025 pada 14:00
      Permalink

      Halo haii shobat hijau

      Perkenalkan biodata diri saya dulu yaaa

      👌🏻NAMA : MUHAMMAD HAKAM YASIN
      🏫SEKOLAH : SMP NEGERI 46 SURABAYA
      💻PROYEK : nahh shobat hijau pasti kalian belum kenal kan sama proyek aku kalau aku jelasin simak baik baik ya jadi proyek aku yaitu BUDIDAYA BUNGA TELANG YANG SAYA BERI NAMA TEATEL

      Artikel yang sangat bagus.Ketahanan pangan

      Indonesia bergantung pada diversifikasi karbohidrat sedang Tiongkok lebih memprioritaskan protein dan serat (lauk dan sayur) yang mampu memperlambat konversi karbohidrat menjadi gula darah.Budaya

      Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal.

      Balas
  • Juli 18, 2025 pada 14:36
    Permalink

    Nama: Tisya Ayodya Prameswari
    Asal : SDI Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya
    Proyek: ECOZY (Eco Enzyme)
    Capaian: Saya telah membuat Eco Enzyme sebanyak 590,4 kg

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 16:59
    Permalink

    sangat menginspirasi dan bisa merubah mainset bahwa makan kenyang itu tidak harus selalu nasi, yang pnting gizi yang seimbang agar nutrisi tubuh tetap terjaga

    Nama : Fatimah Nawal Rahman
    Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
    No. Peserta : 026

    Daur ulang sampah plastik kemasan menjadi produk kerajinan
    Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 17:03
    Permalink

    perlu dicontoh kebiasaan orang tionkok, makan kenyang tidak selalu harus nasi yang penting nutrisi yang masuk dlm tubuh seimbang

    Nama : Fatimah Nawal Rahman
    Asal Sekolah : SDN Balongsari 1/500 Surabaya
    No. Peserta : 026

    Daur ulang sampah plastik kemasan menjadi produk kerajinan
    Upaya : mengurangi sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan

    Balas
  • Juli 18, 2025 pada 21:46
    Permalink

    Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia. Setiap bahan pangan memiliki jenis dan kandungan karbohidrat yang berbeda, begitu pula antara beras dan ketela rambat. Meskipun keduanya sering dijadikan sumber energi dalam makanan sehari-hari, terdapat perbedaan mendasar dari segi kandungan gizi, struktur karbohidrat, serta hubungannya dengan gluten.

    Beras (terutama beras putih) mengandung karbohidrat dalam bentuk amilosa dan amilopektin, dua jenis pati yang mudah dicerna. Namun, indeks glikemik beras putih cenderung tinggi, sehingga cepat menaikkan kadar gula darah. Beras bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita intoleransi gluten atau penyakit celiac.

    Sedangkan ketela rambat (ubi jalar) juga kaya akan karbohidrat, namun jenis karbohidratnya adalah karbohidrat kompleks, sehingga lebih mudah dicerna dan disertai dengan serat pangan yang tinggi. Serat ini membantu memperlambat penyerapan gula dalam darah, sehingga ketela rambat memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras. Selain itu, ketela rambat mengandung antioksidan dan vitamin A. Seperti beras, ketela rambat tidak mengandung gluten, menjadikannya alternatif yang sehat bagi mereka yang harus menghindari gluten.
    Kenapa saya cantumkan kandungan gluten dalam beras dan ubi ketela rambat? Karena ada sebagian orang yang tidak bisa mengkonsumsi gluten dan atau ada alergi gluten, jadi tidak bisa mengkonsumsi makanan yang berbahan baku tepung terigu, seperti roti, mie dll.

    Semoga kita semua sehat selalu dan senantiasa dalam perlindungan Allah subhanahu wa ta’ala.. Aamiin 🤲

    Salam,
    AISYAH AVICENA RHAZES LAVOISIER
    SMPN 21 SURABAYA
    Project :
    DATELA GREEN REVITALIZATION

    Revitalisasi lahan merupakan proses menghidupkan kembali kawasan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan atau terbengkalai menjadi ruang hijau yang produktif dan bermanfaat bagi lingkungan serta masyarakat. Lahan-lahan yang dulunya penuh semak belukar, limbah, atau bekas bangunan rusak, yang dapat disulap menjadi taman, kebun produktif, atau hutan kota melalui tahapan yang terencana.

    Proses ini dimulai dengan identifikasi kondisi lahan, termasuk tingkat kerusakan tanah, keberadaan polusi, dan potensi lingkungan sekitar. Selanjutnya dilakukan pembersihan area dari sampah, limbah berbahaya, atau reruntuhan yang mengganggu. Setelah itu, tanah yang rusak direhabilitasi melalui pengolahan, penambahan bahan organik, atau penggunaan tanaman remediasi untuk memperbaiki kualitas tanah.

    Tahap selanjutnya adalah penanaman vegetasi yang sesuai, baik berupa tanaman peneduh, tanaman pangan, maupun tanaman penghasil komoditas ekonomi seperti sayuran, buah-buahan, atau tanaman herbal. Dalam beberapa kasus, juga dilakukan integrasi dengan sistem pertanian ramah lingkungan seperti pertanian organik, urban farming, atau agroforestry.

    Selain aspek ekologis, revitalisasi lahan juga membawa manfaat sosial dan ekonomi. Lahan hijau produktif dapat menjadi tempat edukasi, ruang komunitas, bahkan sumber pendapatan baru bagi warga sekitar. Program ini juga membantu mengurangi polusi udara, meningkatkan cadangan air tanah, dan menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk.

    Balas
  • Juli 19, 2025 pada 11:42
    Permalink

    Kenapa jika banyak barang yang sudah tinggi/banyak digunakan dikorupsi/dioplos diindonesia. Beras adalah kebutuhan utama diindonesia. Untuk orang-orang yang sudah tua tapi masih berjualan dan hanya mendapat upah tiap harinya sebanyak beras seharga 1kg saja masih dioplos. Mengapa mereka tega melakukan pengoplosan beras. Sedangkan ditiongkok penduduknya lebih banyak(hampir 5x indonesia) pun masih lebih sejahtera. Di indonesia orang yang beruang saja yang berkuasa.

    🙋‍♀️: Mazida Shabrina Yasmin
    🏫: SDN WONOKUSUMO 6 SURABAYA
    🔢: 728
    📌: Proyek SERBU(Serbuk Berproyek Horta)

    Saya menggunakan serbuk kayu sebagai isian boneka dan menggunakan pupuk kompos sebagai media tanam

    Balas
  • Juli 19, 2025 pada 13:50
    Permalink

    artikel ini sangat menginspirasikan dan memberi pengertian bahwa kenyang tidak harus makan nasi saja
    saya putri ariesta dewi peserta pangput lh 2025 nomor urut 1112 dari smpn 31 Surabaya proyek saya adalah TAMAN KU SUBUR BERKAT ECOENZYIM

    Balas
  • Juli 19, 2025 pada 19:54
    Permalink

    Masyarakat Indonesia setiap hari selalu mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok atau makanan sehari-hari mereka..

    Bahkan semua orang bekerja keras demi sesuap nasi untuk keluarga mereka…

    Namun, belakangan ini banyak bermunculan kasus beras oplosan yang padahal beras adalah sebagian isi perut masyarakat Indonesia..
    Meniru cara makan orang Tiongkok tidaklah mudah karena kita harus merubah kebiasaan seluruh masyarakat Indonesia yang berjumlah cukup banyak..

    Perkenalkan nama saya Rachel halik qonita dari SDN Sidotopo Wetan 1/255 surabaya dengan nomor peserta 662

    Balas
  • Juli 19, 2025 pada 21:16
    Permalink

    Ternyata kebiasaan atau budaya cara makan kita dengan Tiongkok berbanding terbalik dengan di Indonesia, kita banyak makan Nasi, ternyata kalau ingin umur panjang dan hidup sehat untuk menghindari karbohidrat.

    saya Ni Luh Gd Kt Keyva Richie Valerina Atmaja
    SMPN 6 Surabaya
    judul proyek Budidaya Lemongrass
    nomor peserta 1392

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 05:19
    Permalink

    Langkah diversifikasi pangan ini penting agar ketahanan pangan kita semakin kuat. Belajar dari negara lain bukan berarti meniru, tapi mengambil inspirasi untuk menciptakan solusi lokal yang tepat guna

    NAMA : EZRA BINTANG IZDIHAR KURNIAWAN
    NOMOR URUT : 003
    SEKOLAH : SD KYAI IBRAHIM

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 11:29
    Permalink

    Banyak manfaat yang bisa
    kita ambil dari artikel ini👍
    Terutama pola makan yang baik bagi kesehatan

    Mikhael Kenzie Adhimah
    Sekolah di SDN Dukuh Menanggal I Surabaya
    No peserta 055

    Saya sedang mengembangkan budidaya bunga telang di lingkungan rumah, karena saya tahu ternyata begitu banyak manfaat dari bunga telang.
    Semoga menginspirasi untuk teman-teman semuanya juga ya. 😉

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 15:19
    Permalink

    Kita juga harus memilih/memastikan nasi yang kita konsumsi sehari-hari apalagi saat nasi panas Memeng banyak masyarakat yang memilih nasi saat panas / hangat tetapi gula dari kandungan nasinya semakin menarik dan akan mengakibatkan penyakit DIABETES .

    Kayla Ayu Anindya
    SDN Wiyung 1 Surabaya
    No peserta:710
    Proyek:Mol Magic Water

    🪴🌍Salam bumi pasti lestari 🌍🪴

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 19:36
    Permalink

    Belajar dari Tiongkok, kita diajak diversifikasi pangan—karbohidrat tak harus dari beras. Ubi, jagung, dan singkong juga bisa jadi solusi mandiri dan tahan krisis!

    Balas
  • Juli 20, 2025 pada 20:34
    Permalink

    🍱 Saatnya Revolusi Isi Piring Kita!
    Artikel ini membuka mata bahwa nasi bukan satu-satunya bintang di meja makan. Kita punya 77 sumber karbohidrat lokal, dari sagu di Papua hingga sorgum di NTT—kaya gizi, rendah gula, dan lebih ramah lingkungan. 🌾🇮🇩

    Belajar dari Tiongkok, ternyata budaya makan sehat itu dibentuk dari tiga hal penting:
    ✅ Fokus pada protein & sayur untuk kenyang lebih lama dan nutrisi seimbang
    ✅ Diversifikasi karbohidrat, bukan sekadar nasi tiap hari
    ✅ Makan tepat waktu, mengikuti ritme alami tubuh ⏰

    Fakta bahwa Indonesia punya 19,5 juta penderita diabetes (Riskesdas 2023) harusnya jadi alarm! Jangan biarkan piring kita menjadi sumber penyakit. Yuk mulai ubah pola makan — bukan dengan mahal, tapi dengan bijak dan berbasis pangan lokal.

    🌟 Isi piring yang sehat = generasi yang kuat
    🌱 Makan bukan cuma soal kenyang, tapi soal masa depan!

    Kenzo Anugrah Rahmadhan
    567 | SMPN 26 Surabaya
    Proyek: EGGSELENT – Dari Cangkang Telur Jadi Solusi, Bukan Polusi 🥚🌿
    #pangeranputrilh2025SMP_567 #SMPN26Surabaya #AksiUntukBumi #IsiPiringkuBaru

    Balas
  • Juli 21, 2025 pada 07:46
    Permalink

    Artikel yg sangat menginspirasi. Masyarskat Indonesia bisa mencontoh budaya Tiongkok dalam hal makanan. Makan kenyang tidak harus dengan nasi, karbohidrat bisa diganti dengan ubi-ubian atau yg lainnya, yg penting makanan yg bergizi.

    Nama : Fathan Alby A
    Asal sekolah : SDN Banyu Urip III Sby
    Proyek LH : Pengolahan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Anti Nyamuk.

    Halo sobat hijau 🌳
    Limbah minyak jelantah seringkali dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat seperti sabun adalah salah satu solusi hidup ramah lingkungan.
    Salam bumi, pasti lestari 🌱

    Balas
  • Juli 21, 2025 pada 13:35
    Permalink

    Terimakasih atas informasi nya.

    Benar sesuai kebutuhan kita sebenarnya banyakin di protein. Tapi kebanyakan orang Indonesia lebih milih kenyang banyak karbohidrat yang masuk.

    Respati Syafiq Wijaya
    SDN Wiyung I Surabaya
    No peserta 405
    Memanfaatkan cangkang telur sebagai pupuk organik

    Balas
  • Juli 21, 2025 pada 19:10
    Permalink

    Halo sobat hijau! 🌱
    Salam bumi, pasti Lestari! 🌍🍠

    Setelah membaca artikel Tunas Hijau ID tentang diversifikasi karbohidrat seperti yang dilakukan Tiongkok, saya jadi semakin sadar bahwa ketahanan pangan dan lingkungan saling terhubung erat. Ketergantungan berlebihan pada beras membuat kita rentan terhadap krisis pangan. Padahal, Indonesia punya banyak potensi pangan lokal seperti ubi, jagung, dan singkong yang bergizi dan ramah lingkungan.

    Mengubah pola konsumsi menjadi lebih beragam adalah langkah cerdas untuk menyelamatkan masa depan. Selain itu, kita juga perlu berpikir kritis tentang kebiasaan hidup sehari-hari, termasuk produk yang kita gunakan.

    📌 Nama: Nashifah Kamilia Arsya Salsabila
    🏫 Sekolah: SMP Negeri 3 Mejayan
    🔢 Nomor Peserta: 1464
    🌿 Proyek: BION AMOS (Bio Lotion Anti Mosquito)

    📄 Penjelasan Proyek:
    Melalui BION AMOS, saya menciptakan lotion anti nyamuk alami dari minyak atsiri serai, kulit jeruk, dan daun pandan. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis dan memanfaatkan potensi tanaman lokal yang selama ini kurang dimaksimalkan. Sama seperti diversifikasi pangan, pemanfaatan sumber daya lokal juga bisa diterapkan dalam produk perawatan tubuh yang sehat dan berkelanjutan.

    Balas
  • Juli 22, 2025 pada 20:49
    Permalink

    wawww ternyata banyak yang saya belum tau , terimakasih banyakkk

    Nama : Gadis Ayuningtyas Putri Suwandik
    Asal : SMPN 46 Surabaya
    No peserta : 1262
    Projek :

    ” Journey Of Banana Boost & Shield 🍌”

    Balas
  • Juli 23, 2025 pada 16:06
    Permalink

    Artiel ini sangat membuka wawasan saya, bahwa karbohidrat bukan hanya nasi tetapi bisa digantikan dengan jenis makanan lainnya yang sama-sama bermanfaat bagi tubuh kita. Banyak hal bisa kita pelajari setelah membaca artikel ini.. Benar-benar artikel yang sangat menarik…

    RAH HANDARU HATMAJI MARSUDI
    SMP NEGERI 1 SURABAYA
    NO PESERTA 453
    JUDUL PROYEK : BUDIDAYA TANAMAN HIAS SANSEVIERIA SEBAGAI PENYERAP POLUTAN DALAM MENGURANGI POLUSI UDARA.

    Balas
  • Juli 23, 2025 pada 17:20
    Permalink

    Untuk Indonesia perlu di beri pemahaman edukasi dan pengarahan untuk mencontoh seperti di negara Tiongkok karena mengubah kebiasaan memerlukan waktu yang lama
    Nama: falisha misha alkhansa
    Sekolah: SDN Rangkah VI Surabaya
    No peserta: 554
    Proyek: pemanfaatan sampah organik dan Limbah plastik untuk tanaman keluarga

    Balas
  • Juli 23, 2025 pada 17:28
    Permalink

    Artikel yang sangat bagus.Ketahanan pangan Indonesia bergantung pada diversifikasi karbohidrat,sedang Tiongkok lebih memprioritaskan Protein dan serat (lauk dan sayur) yang mampu memperlambat konversi karbohidrat menjadi gula darah.Budaya makan Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal.

    Muhammad Raffa Zamzani/ SMPN 9 SURABAYA

    Balas
  • Juli 23, 2025 pada 20:39
    Permalink

    bermacam macamnya sumber karbohidrat dapat menjadi pilihan bagi orang yang mengalami diabetes dan tidak diperbolehkannya memakan nasi karena mengandung gula, seharusnya kita juga bisa meniru apa yang dilakukan tiongkok demi negaranya dan masyarakatnya

    Nama : Davin Alemezar Jethro Islami
    Asal : SMP NEGERI 1 SURABAYA
    No : 447
    Proyek : Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pupuk NPK Organin Cair

    Balas
  • Juli 24, 2025 pada 17:28
    Permalink

    sangat bermanfaat sekali artikelnya untuk menambah wawasan

    Nama: Andita Karenina
    Nomor Urut: 1.376
    Judul Proyek: Telang, Bunga Cantik yang Bikin Kita Cantik

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 18:01
    Permalink

    Keren, Tiongkok aja bisa lepas dari beras. Yuk, coba lebih banyak sumber karbo lokal juga!

    Nama:Erlinda dwi clarista
    Sekolah:SMP negeri 38 surabaya
    No peserta:1136
    Judul proyek:budidaya tanaman bunga matahari sebagai upaya penghijauan dan estetika lingkungan

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 21:20
    Permalink

    Artikelnya bagus banget, bener banget, karbohidrat itu nggak cuma dari nasi. Ubi, jagung, singkong juga kaya karbo yang bisa bantu energi tubuh. Yuk mulai kurangi ketergantungan sama beras, siapa tau malah jadi lebih sehat dan hemat!

    Nama = Kalyca Arij Aruna
    Asal = SMPN 1 SURABAYA
    No = 762
    Proyek = Verdalya Pandanova (Budidaya Tanaman Pandan)

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 21:22
    Permalink

    Artikelnya keren banget, bener banget, Karbohidrat itu nggak cuma dari nasi. Ubi, jagung, singkong juga kaya karbo yang bisa bantu energi tubuh. Yuk mulai kurangi ketergantungan sama beras, siapa tau malah jadi lebih sehat dan hemat!

    Nama = Kalyca Arij Aruna
    Asal = SMPN 1 SURABAYA
    No = 762
    Proyek = Verdalya Pandanova (Budidaya Tanaman Pandan)

    Balas
  • Juli 25, 2025 pada 23:46
    Permalink

    Waw! siapa aangka ternyata budaya di china sangat berbeda dengan budaya indonesia

    ajeng chaesa setia rahayu/1034
    smpn 24 surabaya
    eco.grow(pupuk eceng gondok)

    Balas
  • Juli 26, 2025 pada 16:01
    Permalink

    Sepertinya budaya Tiongkok perlu kita tiru. Isi piringku yang biasanya mengutamakan nasi/karbohidrat, perlu dibalik lebih diutamakan protein tinggi lauk dan sayur baru nasi.
    Jadwal makan juga menentukan kesehatan kita. Jika kita makan terlambat bisa menyebabkan gangguan lambung. Ayo kita mulai cara makan yang benar dengan waktu yang tepat untuk menyeimbangkan kesehatan tubuh kita.
    Ummu Ghaid Mudma’inah
    SDN Dr Sutomo 1 Surabaya
    Nomor peserta 068
    Proyek CATERAN cangkang telur ramah lingkungan

    Balas
  • Juli 27, 2025 pada 12:30
    Permalink

    Artikel yang sangat bagus dan keren sangat bermanfaat sekali .Ketahanan pangan Indonesia bergantung pada diversifikasi karbohidrat sedang Tiongkok lebih memprioritaskan protein dan serat (lauk dan sayur) yang mampu memperlambat konversi karbohidrat menjadi gula darah.Budaya Tiongkok bukan sekedar urusan santap menyantap, tetapi sistem cerdas yang memadukan kesehatan, keberlanjutan dan kearifan lokal.
    Nama : AMIRNA NUR FEBYYANTI
    Nomer Peserta : 702
    Proyek : Mengelolah Camgkang Telur
    Sekolah : SDN TANDES KIDUL 1

    Balas
  • Juli 28, 2025 pada 08:12
    Permalink

    Diversifikasi ini tidak hanya penting untuk ketahanan pangan, tetapi juga untuk kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.

    Nama : Akifa Maulidya
    Sekolah : SDN Tandes Kidul 1
    Nomor Peserta : 698
    Proyek LH : Budidaya organik tanaman kale

    Balas
  • Juli 28, 2025 pada 21:30
    Permalink

    Nama Sanggrama Rasio Al warisyi
    Proyek Pemanfaatan limbah cnagkang telur untuk hijaukan bumi dan innovasi bahan pangan.
    Ternyata budaya tiongkok adalah budaya yang baik sebaiknya kita mencontohnya karena Indonesia juga memiliki banym sumber karbohidratyang baik untuk tubuh.
    SLAM BUMI PASTI LESTARI

    Balas
  • Agustus 2, 2025 pada 13:39
    Permalink

    saya sangat setuju dengan budaya tiongkok kalau bisa mari kita mencontoh budaya tiongkok ini sangat bermanfaat bagi kesehatan kita

    Nama : Nandana Akatara Arka Radita
    Kelas : 6A
    Sekolah : SDN jemurwonosari 1
    No peserta : 121

    Balas
  • Agustus 5, 2025 pada 16:48
    Permalink

    Aksi ini sangat bermanfaat, karena dapat membantu mengurangi sampah dan menjadikan sampah menjadi barang yang berguna

    Balas
  • Oktober 16, 2025 pada 13:10
    Permalink

    Artikel ini memberikan perspektif yang menarik tentang budaya makan Tiongkok yang cerdas dan berkelanjutan. Ide tentang diversifikasi makanan sebagai upaya memperluas pilihan untuk ketahanan gizi bangsa sangat relevan. Gagasan untuk mengubah komposisi program “Isi Piringku” pemerintah juga patut dipertimbangkan. Artikel ini membuka wawasan tentang pentingnya menggabungkan kesehatan, keberlanjutan, dan kearifan lokal dalam budaya makan kita.

    RAKA MAULANA PRATAMA
    SMPN 25 SURABAYA
    KEAJAIBAN KOMPOS TKK BAGI LINGKUNGAN
    NO. PESERTA:561

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *